Tampilkan postingan dengan label AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

Ilmu Tajwid dan Adab Membaca Al-Qur’an




Definisi Ilmu Tajwid
Secara bahasa : merupakan Lafadz dari bahasa arab yang berasal dari kata جود يجود yang berarti membaguskan.
Secara Istilah : إخراج كل حرق من مخرجه مع إعطا ئـه حقه و مستحقه
yang artinya mengeluarkan setiap huruf dari ‘makhrojnya’ dengan memberikan ‘hak’ dan ‘mustahaknya
*Makhroj : Tempat keluarnya huruf. Contoh : huruf ع(‘ain) adalah huruf yang keluar dari tengah tenggorokan.
*Hak : Sifat yang senantiasa ada bersama dengan huruf. Contoh : huruf ث senantiasa diucapkan dengan disertai keluarnya nafas dalam kondisi apapun dan dimanapun ia berada.
*Mustahak: Sifat yang sewaktu-waktu ada bersama dengan huruf. Contoh : sifat samar pada nun sukun atau tanwin hanya ada pada keadaan tertentu.
Perhatikanlah :
أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
يُنفِقُونَهُمْ
مَن يَقُولُ آمَنَّا
Huruf nun sukun diatas memiliki sifat yang berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Pada contoh yang pertama kita mendapatkan nun sukun dibaca secara jelas ketika bertemu dengan “‘ain”, pada contoh yang kedua dibaca dengan samar ketika bertemu dengan “fa”, dan pada contoh yang ketiga ia melebur dengan huruf “ya”.
Pada dasarnya pembahasan seputar tajwid akan senantiasa berkaitan dengan ketiga hal tersebut; makhroj, hak dan mustahak, yang perinciannya akan lebih jelas pada bagian-bagiannya insya Allah.
Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardu kifayah, dimana apabila di suatu daerah telah ada orang yang menguasainya maka kewajiban tersebut gugur atas yang lain. Sedangkan hukum membaca Al Qur’an sesuai dengan tajwid yang benar adalah fardu ‘ain
 Tujuan mempelajari Ilmu Tajwid
Tujuan mempelajari Ilmu tajwid adalah untuk mejnjaga lisan agar tidak terjatuh pada kesalahan didalam membaca Alqur’an.
Kesalahan (Al Lahn) didalam membaca Alqur’an terbagi menjadi:
Al Lahn Al Jaly (kesalahan nyata)
Yaitu kesalahan yang nyata yang terjadi dalam lafal Alqur’an baik dapat merubah arti ataupun tidak.
Contoh:
رَبِّ الْعَالَمِينَ dibaca رَبِّ الأ لَمِينَ 
Al Lahn Al Khofiy (kesalahan kecil)
yaitu kesalahn yang berkaitan dengan ketidaksempurnaan dalam pengucapan bacaan dan tidak sampai merubah arti, yang hal ini hanya bisa diketahui oleh orang yang ahli dalam bidang tajwid.
Contoh:
Memantulkan huruf Ghoin
(غ) pada saat sukun yang tidak termasuk kedalam huruf pantul (Qolqolah).

غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ
Melakukan Al Lahn Al Jaly secara sengaja hukumnya haram, sedangkan melakukan Al Lahn Al Khofiy hukumnya makruh.
Keutamaan Membaca Al Qur’an Dan Pembacanya
1. Al Qur’an akan menjadi syafaat terhadap orang yang membacanya pada hari kiamat. Diriwayatkan dari Abu Umamah Rhadiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Bacalah AlQur’an, karena sesungguhnya AlQur’an itu akan datang pada hari kiamat seebagai syafaat kepada para pembacanya”.(HR. Muslim)
2. Satu huruf dari Al Qur’an sama dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan diganjar dengan sepuluh pahala. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Rhadiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْف
Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf”. (HR. Tirmidzi)
3. Merupakan tolak ukur kebaikan seseorang muslim
Dari Utsman Bin Affan Rhadiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Orang yang terbak diantara kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya”.(HR. Bukhari)
4. Orang yang ahli dalam Al Qur’an adalah keluarga Allah, menjadi orang yang khusus disisi Allah
Diriwayatkan dari Anas Bin Malik Rhadiallahu ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ فَقِيلَ مَنْ أَهْلُ اللَّهِ مِنْهُمْ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُه 
Sesunguhnya Allah itu mempunyai keluarga, dikatakan: siapakah mereka ? beiau (Rasulu
lah) menjawab: orang yang ahli dalam Al Qur’an, mereka itulah keluarga Allah dan orang-orang khususnya”.(HR. Ahmad)
Orang yang membaca Al Qur’an akan senantiasa berada dalam kebaikan, baik membacanya dengan mahir maupun dengan terbata-bata. Diriwayatkan dari Aisyah Rhadiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Orang yang mahir dalam membaca Al Qur’an akan bersama dengan para Malaikat yang mulia lagi taat, dan siapa yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata akan mendapatkan dua pahala”. (HR. Al Bukhari & Muslim)
6. Allah akan memberikan Mahkota di hari Kiamat kepada setiap orangtua yang anaknya senantiasa membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya.
Diriwayatkan dari Sahl Bin Mu’adz Al Juhhany Rhadiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَأَكْمَلَهُ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أَلْبَسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا هُوَ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْس 
Dan barangsiapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada didalamnya, maka Allah akan memberikan Mahkota kepada kedua orangtuanya pada hari Kiamat, yang mahkotanya lebih bagus dari sinar matahari.” (HR. Ahmad)
Adab didalam Membaca Al Qur’an
Ada beberapa adab yang harus diperhatikan ketika membaca Al Qur’an:
1. Suci dari hadats besar maupun kecil
Allah berfirman :
لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
Tidak meyentuhnya melainkan orang yang disucikan”. (QS. Al Waqiah:79)
Ayat ini berlaku khusus bagi mereka yang membaca Al Qur’an dengan menggunakan Mushaf, adapun membacanya tanpa melalui mushaf maka diperbolehkan meskipun dalam keadaan hadats terkecuali hadats besar sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama (*lihat Mulakhas Fiqih karya “Syaikh Fauzan pada Bab “Amalan-amalan yang haram bagi orang yang berhadats”)
Namun demikian dalam keadaan yang memungkinkan Sangat dianjurkan bagi seseorang untuk senantiasa berada dalam keadaan suci meskipun tidak membaca Al Qur’an dengan menggunakan mushaf .
Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama“. (At-Tibyan, hal. 58-59)
2. Berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk
Allah berfirman :
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Maka apabila engkau membaca Al Qur’an, maka mintalah perlidungan kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk”. (QS. An Nahl:98)
3. Berusaha untuk memperbagus suara
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Di dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR: Bukhari dan Muslim).
Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
4. Membaca Al Qur’an dengan perlahan dan tidak terburu-buru agar dapat dihayati maknanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:
“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR: Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR: Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.

Bencana Melalaikan Al-Qur`an


السَّلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَة اللهِ وَبَرَكاتُهّّّّّّ

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul (Muhammad): “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur`an itu sesuatu yang diabaikan.” (Al-Furqan [25]: 30)

Muqaddimah
Ibarat sebuah lakon perjalanan sang musafir, manusia—dalam kehidupannya—membutuhkan peta petunjuk arah. Lalu apa yang terjadi pada diri seorang musafir jika ia kehilangan peta petunjuk arah? Tentu ia berharap agar kejadian semacam itu tak menimpa dirinya. Sebab, apalah arti seorang musafir tanpa adanya pemandu yang bisa menunjukan rute perjalanannya. Ia tidak tahu bekal yang perlu disiapkan, jenis rintangan dan cara mengatasinya, hingga bahaya dan ancaman tersesat.
Meski sebatas analogi sederhana, tapi setiap manusia niscaya memerlukan pemandu dalam membimbing hidupnya. Hakikat dunia yang fana kian menegaskan kebutuhan tersebut. Dunia sebatas persinggahan semata menuju kehidupan yang abadi. Bagi setiap orang beriman, al-Qur`an adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Sebab, hanya dengan al-Qur`an serta sunnah Nabi SAW yang menjadikan hamba Allah SWT terbimbing dan senantiasa tercerahkan. Terlebih, secara fitrah dunia adalah kenikmatan sekaligus permainan yang melenakan. Karena itu, tak jarang kita banyak orang yang lupa dan keasyikan “bermain” tanpa mengindahkan aturan.

Makna Ayat
Ayat ini menceritakan curahan hati Nabi Muhammad SAW ketika melihat sikap sebagian umatnya terhadap al-Qur`an. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan, ayat ini turun berkenaan dengan sikap orang-orang musyrik Makkah yang secara terang-terangan menolak dakwah yang disampaikan Nabi SAW ketika itu. Bahkan sebagian orang-orang kafir membuat kegaduhan lain sebagai tandingan terhadap ayat-ayat suci al-Qur`an. Kejadian itu dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka’.” (Fushshilat [41]: 26)
Hal tersebut menjadi kegelisahan Nabi SAW yang dilaporkan kepada Allah SWT dalam ayat di atas. Bagi orang beriman, kerisauan Nabi SAW terhadap sikap orang-orang tersebut adalah sesuatu yang sangat wajar. Sebab, titik tolak keimanan sekaligus tolok ukurnya berangkat dari cara seseorang dalam berinteraksi dan menyikapi al-Qur`an. Sebagai satu-satunya panduan yang benar, al-Qur`an dan sunnah Nabi SAW menjadi tawaran yang tidak bisa ditolak. Jika ingin menggapai kebahagiaan di dunia terlebih di akhirat, maka syarat mutlaknya adalah dengan al-Qur`an. Sebaliknya, jika ajaran al-Qur`an ini diabaikan, apalagi ditolak, niscaya bayangan kesengsaraan itu tampak jelas di hadapannya.

Muhammad al-Amin asy-Syinqiti menjelaskan, curahan hati Nabi SAW ini hendaknya dipahami sebagai warning kepada umatnya. Ini perkara besar yang tidak boleh disepelekan. Penyampaian kepada Allah SWT ini bukanlah sekadar laporan pengaduan apalagi keluhan dalam menjalani dakwah. Tapi ini bentuk kasih sayang dan perhatian Rasulullah SAW akan nasib umatnya. Sebab, sebagai utusan Allah SWT tahu persis apa akibat dari perbuatan mengabaikan ajaran al-Qur`an. (Tafsir Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur`an bi al-Qur`an).
Mengabaikan Al-Qur`an

Ibnu Katsir menjelaskan, mengabaikan al-Qur`an bukanlah semata-mata ketika orang itu mengingkari isi al-Qur`an sebagaimana orang-orang kafir Quraisy menolak dakwah yang disampaikan Nabi SAW. Ini menegaskan, boleh jadi seseorang mengaku beriman tapi dia tergolong dalam kelompok orang-orang yang diadukan kelakuannya oleh Nabi SAW tersebut. Dalam kaidah ilmu tafsir, perkara ini biasa dikenal dengan kaidah al-ibratu bi umum al-lafdzi la bi khushush as-sabab (pelajaran itu diambil dari makna ayat secara umum, tidak dikhususkan pada sebab turun ayat).

Dalam syariat Islam, pengingkaran terhadap al-Qur`an termasuk perbuatan dosa besar. Bahkan jika hal itu terjadi pada seorang Muslim, maka orang itu terindikasi sebagai pelaku perbuatan kufur. Simpul iman yang selama ini terjalin kokoh bisa berurai gara-gara sikap mengabaikan al-Qur`an. Tak heran jika Nabi SAW sampai mengadu kepada Allah SWT. Sebab dampak perbuatan itu sangat berbahaya. Tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga mengancam hubungan penghambaan seseorang dengan Allah SWT, Sang Pencipta.

Lebih jauh Ibnu Katsir menjelaskan, seorang Muslim yang enggan memperbaiki bacaan al-Qur`an (tahsin tilawah), tidak berusaha menghafalnya (tahfidz al-Qur`an), atau tidak mau mempelajari (tadabbur al-Qur`an) termasuk dalam kategori tidak acuh terhadap al-Qur`an. Juga orang yang mengabaikan perintah dan melanggar aturan-Nya sebagai wujud dari sikap meninggalkan al-Qur`an. Mereka condong kepada selain al-Qur`an, seperti lebih menggandrungi nyanyian serta apa saja yang memalingkan dari bacaan al-Qur`an, termasuk dalam perbuatan menjadikan al-Qur`an sebagai mahjuran (sesuatu yang ditinggal).

Sebab Kemunduran Umat
Sebagai pemuncak peradaban terbaik, orang-orang saleh terdahulu benar-benar berhasil menjadi suri teuladan sepanjang masa. Tak heran, para Sahabat didaulat secara mutlak sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu menyiratkan, tidak ada resep rahasia dalam keseharian para Sahabat. Kecuali “hanya” mengamalkan al-Qur`an setelah mereka pelajari dan hafalkan sebelumnya. Ibnu Mas’ud menceritakan, para Sahabat tidaklah melangkah ke ayat-ayat selanjutnya, kecuali mereka telah menghafal ayat yang dipelajari itu dan langsung mengamalkannya.

Mukjizat al-Qur`an dan janji pertolongan Allah SWT tak pernah berubah hingga hari Kiamat kelak. Tapi kita semua patut miris dengan kondisi umat Islam saat ini. Ibarat buih di tengah lautan, umat Islam begitu mudah dipermainkan oleh musuh-musuh Islam. Bukan karena jumlah umat Islam yang minoritas. Bukan pula sebab tiadanya orang-orang yang menghafal al-Qur`an atau orang yang paham agama. Bahkan setiap tahun, ribuan sarjana Muslim lahir dari ratusan perguruan tinggi Islam yang tersebar di berbagai daerah.

Lalu apa yang menyebabkan umat Islam begitu terpuruk? Tak lain jawabannya adalah perbedaan pola interaksi dengan al-Qur`an. Jujur, hari ini kita lebih asyik dengan fitur-fitur menarik handphone daripada membuka lembaran mushaf al-Qur`an. Jujur, waktu kita lebih banyak dilalaikan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat daripada membuka mushaf al-Qur`an. Jujur, kalaupun kita membacanya, maka bacaan tersebut belum mampu menghunjam ke dalam jiwa, layaknya seorang Bilal yang bangkit dari keterpurukan hidup sebelumnya.
Allahu al-musta’an.
 

Hidup Dengan Al-Quran


jpeg (104×95)Hari ini bertepatan dengan hari perayaan Nuzul al-Quran, peringatan diturunkannya al-Quran. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingatinya selain dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas diturunkannya al-Quran. Peringatan Nuzul al-Quran itu diadakan setiap tahun, tidak pernah terlewatkan. Acara peringatan itu bukan hanya diadakan di masjid-masjid, tapi juga di sekolah-sekolah, majelis taklim, bahkan perkantoran dan tempat-tempat usaha. Hal itu merupakan hal yang patut disambut baik. Namun tentu saja tidak boleh sekedar kesemarakan seremonial. Penting untuk diresapi makna peringatan itu dan merealisasikannya pada tataran realita kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan hal itu hendaknya kita renungkan sejauh mana kita telah berinteraksi dengan al-Quran, sejauh mana kita telah hidup dengan al-Quran.
Peneguhan Keyakinan
Siapapun yang mau menggunakan akalnya untuk memperhatikan al-Quran niscaya dia akan mendapatkan keyakinan bahwa al-Quran berasal dari Allah SWT. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
﴿ أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(TQS an-Nisa’ [4]: 82)
Allah pun menantang siapa pun manusia yang masih ragu terhadap al-Quran untuk membuat sepuluh surat semisal al-Quran (QS Hud [11]: 13); bahkan sekedar satu surat saja (QS al-Baqarah [2]: 23 dan Yunus [10]: 38), dan dalam hal itu disuruh untuk meminta bantuan dari siapa saja selain Allah.
Sebagai kalamullah, al-Quran dijamin oleh Allah SWT tidak mengandung keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah [2]: 2). Allah juga menjamin bahwa al-Quran adalah benar dan tidak didatangi apalagi dicampuri dengan kebatilan sedikitpun. Allah menegaskan:
﴿ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ $ لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ ﴾
Dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.(TQS Fushshilat [41]: 41-42)
Allah SWT tegaskan bahwa al-Quran dengan segala isinya adalah datang dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. Ghafir [40]: 2). Allah juga menegaskan:
﴿ تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ﴾
Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (TQS az-Zumar [39]: 1; al-Jatsiyah [45]: 2; al-Ahqaf [46]: 2)
Al-Hakîm (Maha Bijaksana) yakni dalam firman-firman, perbuatan, qadar dan syariah-Nya (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr).
Al-Quran: Petunjuk Hidup dan Solusi Problem Kehidupan
Al-Quran secara bahasa artinya bacaan. Dan membaca al-Quran akan mendatangkan pahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29). Namun al-Quran tentu diturunkan bukan sekadar agar dibaca. Membaca al-Quran harus disertai dengan upaya untuk memahami dan mentadaburi maknanya serta menjadikannya petunjuk hidup sehingga kita menjalani hidup dan menjalankan kehidupan dengan al-Quran. Sebab Allah menegaskan di dalam firman-Nya QS al-Baqarah [2]: 85 bahwa al-Quran diturunkan memang untuk menjadi petunjuk, penjelasan dan bukti atas petunjuk serta sebagai pembeda (al-Furqân) untuk membedakan antara kebenaran (al-haq) dan kebatilan (al-bâthil), antara kebaikan (al-khayr) dan keburukan (asy-syarr), antara terpuji (al-hasan) dan tercela (al-qabih), halal dan haram, pahala dan dosa. Dan Allah tegaskan:
﴿ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا ﴾
Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (TQS al-Isra’ [17]: 9)
Sebagai petunjuk bagi manusia untuk menjalani kehidupan, al-Quran memberikan penjelasan atas segala sesuatu. Allah menegaskan:
﴿ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ﴾
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS an-Nahl [16]: 89)
Imam al-Baghawi menjelaskan, yakni sebagai penjelasan atas segala sesuatu yang diperlukan berupa perintah dan larangan, halal dan haram serta hudud dan hukum-hukum (Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl). Ibn Katsir juga menjelaskan dengan mengutip Ibn Mas’ud ra. yang mengatakan, “yaitu bahwa sesungguhnya al-Quran meliputi segala pengetahuan yang bermanfaat berupa berita apa yang telah terdahulu, pengetahuan apa yang akan datang, dan hukum semua halal dan haram serta apa yang diperlukan oleh manusia dalam perkara dunia, agama, kehiduan dan akhirat mereka” (Ibn Katsir, Tafsîr Ibn Katsîr). Artinya, selain memberikan panduan, rambu-rambu, aturan dan sistem, al-Quran juga memberikan penyelesaian atas setiap problem yang dihadapi manusia di dalam kehidupan.
Al-Quran yang merupakan petunjuk itu hanya berfungsi sebagai petunjuk jika memang diperhatikan dan dijadikan sebagai panduan, pedoman dan petunjuk. Yaitu ketentuan-ketentuannya diikuti. Al-Quran yang menjadi penjelasan segala sesuatu dan menjadi solusi problem kehidupan itu akan bisa berperan jika penjelasanya diambil dan solusi-solusi yang diberikannya dijalankan. Artinya disitu, al-Quran itu akan benar-benar menjadi petunjuk, penjelasan dan solusi jika kita menjalani hidup dengan al-Quran dan mengelola kehidupan sesuai al-Quran.
Disinilah kita harus merenung dan bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana hal itu terealisasi di dalam hidup dan kehidupan kita. Sejauh mana kita telah memperhatikan al-Quran. Tentu saja kita tidak ingin terkena pengaduan Rasul saw:

﴿ وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا ﴾

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". (TQS. al-Furqan [25]: 30)
Imam Ibn Katsir mencontohkan sikap hajr al-Qurân (tak mengacuhkan al-Quran). Diantaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Quran; tidak mau menyimak dan mendengarkannya, bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar al-Quran saat dibacakan; tidak mentadaburi dan tidak memahaminya; tidak mengamalkan dan tidak mematuhi perintah dan larangannya, dan berpaling darinya lalu berpaling kepada selainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau thariqah yang diambil dari selain al-Quran (Ibn Katsir, Tafsîr al-Qurân al-’Azhîm).
Menjadikan Al-Quran Pedoman Hidup
Kita mengimani bahwa al-Quran tidak mengandung keraguan, tidak didatangi apalagi dicampuri kebatilan sedikitpun, merupakan petunjuk, yang berasal dari Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Keimanan kita terhadap al-Quran itu haruslah kita tujukan kepada al-Quran secara bulat, utuh, dan menyeluruh. Keimanan terhadap al-Quran secara menyeluruh itu mengharuskan untuk tidak membeda-bedakan diantara ayat-ayatnya, perintah dan larangan, hukum dan ketentuan yang terkandung di dalamnya.
Ketika Allah SWT berfirman, “Kutiba ‘alaykum ash-shiyâm -diwajibkan atas kalian berpuasa-“ (QS. al-Baqarah [02]: 183), kita segera saja menerima dan melaksanakannya. Demikian juga semestinya sikpa yang kita tunjukkan terhadap firman Allah SWT “Kutiba ‘alaykum al-qishâsh -diwajibkan atas kalian qishash-“ (QS. al-Baqarah [02]: 178); atau “Kutiba ‘alaykum al-qitâl -diwajibkan atas kalian perang-“ (QS. al-Baqarah [02]: 216). Tentu semestinya kita juga menerima dan segera melaksanakannya. Begitulah semestinya kita dalam mempedomani al-Quran, secara keseluruhan, tidak memilih dan memilahnya.
Mempedomani al-Quran itu mengharuskan kita untuk mengambil dan melaksanakan ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum yang diberikan oleh al-Quran dan hadits Nabi saw, baik dalam urusan akidah, ibadah, makanan, minuman, pakaian, dan akhlak; atau dalam urusan pernikahan, dan keluarga; atau dalam urusan ekonomi, politik dalam dan luar negeri, kekuasaan, pemerintahan, pidana dan sanksi. Sebab semua hukum itu sama-sama merupakan hukum Allah, bersumber dari wahyu Allah. Juga sama-sama termaktub di dalam al-Quran dan hadits atau digali dari keduanya.
Semuanya itu harus kita terima, kita ambil, kita pedomani dan laksanakan. Sebagiannya saat ini sudah dan bisa kita laksanakan pada tingkat individu dan keluarga. Hanya saja, ada banyak hukum diantara petunjuk dan hukum al-Quran dan hadits, yakni hukum Islam itu yang hanya bisa dan sah dilaksanakan oleh imam/khalifah melalui kekuasaan negara, semisal hukum-hukum yang berkaitan dengan pemerintahan dan kekuasaan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri, sanksi pidana, dsb. Hukum-hukum seperti itu tidak boleh dikerjakan individu dan hanya sah dilakukan oleh imam yakni khalifah atau yang diberi wewenang olehnya.
Karena itu, mempedomani al-Quran itu tidak akan sempurna kecuali sampai pada penerapan hukum-hukum syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh dan totalitas. Dan itu tidak mungkin kecuali melalui kekuasaan pemerintahan yang berlandaskan akidah Islam dan menerapkan syariah yaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Wahai Kaum Muslimin
Begitulah semestinya mempedomani al-Quran. Begitulah semestinya kita menjalani hidup dan mengelola kehidupan dengan al-Quran. Maka saatnyalah kita segera menyempurnakan diri dalam mempedomani al-Quran. Tidak lain adalah dengan segera menerapkan syariah Islam secara total didalam Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
Komentar:
Ketua MPR Sidarto Danusubroto prihatin dengan praktek demokrasi di Indonesia yang terlalu ribut atau hingar bingar. "Keriuhan demokrasi sudah memprihatinkan," katanya. (Republika.co.id, 23/7).
1.      Bukan hanya memprihatinkan, tetapi juga membahayakan. Begitulah demokrasi. Keriuhan dalam demokrasi di manapun tidak sebanding dengan perhatian terhadap nasib rakyat. Keriuhan demokrasi hanya demi kepentingan elit parpol, politisi dan para kapitalis.
2.      Tak selayknya keriuhan demokrasi yang tidak berguna dan membahayakan masyarakat bahkan umat manusia itu diperpanjang.
3.      Mari segera wujudkan sistem politik yang santun dan dengan spirit pemeliharaan urusan dan kepentingan rakyat. Yaitu sistem politik Islam dalam bingkai Khilafah.

SATU AYAT 1000 NASEHAT



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada´. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim (QS.Ali Imran ayat 140)

Mereka Iri, Jangan kita mengikuti mereka





Bismillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du …
Al-Qur’an telah memberitakan bahwa masyarakat ahli kitab telah mengetahui akan ada nabi terakhir yang mempimpin dunia serta mengalahkan berbagai macam suku dan golongan yang tidak mengetahui agamanya.
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
Ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Ash-Shaf:6)
Di ayat lain, Allah berfirman,
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an). Mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf:157)
Mereka juga memahami bahwa nabi terakhir ini akan tinggal di daerah yang memiliki banyak kebun kurma.
Karena alasan inilah, masyarakat Yahudi eksodus dari daerah asalnya di Syam menuju Yatsrib (nama asal kota Madinah), untuk menyambut kehadiran nabi terakhir. Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum diterangkan tentang asal Yahudi di Madinah,
وكانوا في الحقيقة عبرانيين، ولكن بعد الانسحاب إلى الحجاز اصطبغوا بالصبغة العربية في الزى واللغة والحضارة، حتى صارت أسماؤهم وأسماء قبائلهم عربية، وحتى قامت بينهم وبين العرب علاقة الزواج والصهر، إلا أنهم احتفظوا بعصبيتهم الجنسية، ولم يندمجوا في العرب قطعًا، بل كانوا يفتخرون بجنسيتهم الإسرائيلية
“Aslinya mereka adalah Ibrani. Namun setelah mereka pindah ke daerah Hijaz (wilayah Madinah – Mekah), mereka melebur dengan kultur arab, mulai dari cara berpakaian, bahasa, sampai tradisi dan kebudayaan. Hingga nama mereka dan nama kabilah mereka menjadi kearab-araban. Sampai terjadi hubungan pernikahan antara Yahudi dengan masyarakat Arab. Hanya saja, mereka masih menjaga fanatisme kebangsaan dan tidak berasimilasi penuh dengan masyarakat Arab. Bahkan mereka membanggakan diri mereka sebagai keturunan Israil.” (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 139)
Ancaman Yahudi kepada penduduk Madinah
Sikap fanatisme masyarakat Yahudi di Madinah mendorong mereka untuk berusaha merebut kota Madinah dari tangan penduduk Arab. Untuk mewujudkan tujuan ini, mereka berusaha mengadu domba antar-suku masyarakat Madinah, yang ketika itu terdiri dari dua suku besar: Aus dan Khazraj. Hingga terjadi perang besar antara dua suku ini, yang dikenal dengan perang Bu’ats.
Karena telah memiliki Taurat, dalam masalah keyakinan, masyarakat Yahudi merasa diri mereka lebih berperadaban dibandingkan penduduk Arab asli. Abul Aliyah menyebutkan bahwa di antara doa orang Yahudi itu,
اللهم ابعث هذا النبي الذي نجده مكتوبًا عندنا حتى نعذب المشركين ونقتلهم
Ya Allah, utuslah nabi yang telah disebutkan kisahnya dalam Taurat ini, sehingga kami bisa menghukum orang-orang musyrik itu, dan membantai mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1:326)
Allah firmankan hal ini dalam Al-Qur’an,
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا
Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:89)
Akan tetapi, harapan mereka meleset. Para Yahudi itu berharap agar nabi terakhir diutus dari kalangan mereka, namun ternyata Allah utus dari kalangan orang Arab, suku Quraisy. Lebih dari itu, nabi terakhir ini tidak berpihak atas nama fanatisme keturunan Israil. Pupus sudah harapan besar mereka, hingga timbul hasad dan dengki kepada masyarakat Arab. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain kufur terhadap nabi terakhir itu.
Di lanjutan ayat di atas, Allah berfirman,
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)
Ibnu Abbas menceritakan,
أن يَهود كانوا يستفتحون على الأوس والخزرج برسول الله صلى الله عليه وسلم قبل مبعثه. فلما بعثه الله من العرب كفروا به، وجحدوا ما كانوا يقولون فيه. فقال لهم معاذ بن جبل، وبشر بن البراء بن مَعْرُور، أخو بني سلمة: يا معشر يهود، اتقوا الله وأسلموا، فقد كنتم تستفتحون علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم ونحن أهل شرك، وتخبروننا بأنه مبعوث، وتصفُونه لنا بصفته
“Sebelum diutusnya nabi, orang Yahudi berharap akan mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau dari suku Arab, mereka kufur kepadanya dan mengingkari ucapan yang dulu pernah mereka sampaikan. Hingga Muadz bin Jabal dan Bisyr bin Barra dari Bani Salamah menyampaikan kepada orang Yahudi, ‘Wahai orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam! Dulu kalian ingin menghabisi kami dengan kehadiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kami masih musyrik. Kalian sampaikan kepada kami bahwa beliau akan diutus dan kalian juga menceritakan sifat beliau kepada kami.’”
Namun pernyataan dua sahabat ini dibantah oleh Yahudi, melalui lidah Salam bin Misykam dari Bani Nadhir,
ما جاءنا بشيء نعرفه، وما هو بالذي كنا نذكر لكم
”Belum datang kepada kami nabi yang kami kenal, sama sekali. Dia (Muhammad) bukanlah orang yang pernah kami ceritakan kepada kalian.”
Dengan sebab ini, Allah turunkan surat Al-Baqarah ayat 89 dan 90 di atas.
Ahli kitab merasa iri dan dengki
Pelajaran penting yang juga perlu kita garis bawahi, sebab terbesar orang Yahudi itu kufur kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena mereka iri dengan kita. Mereka dengki terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Allah sampaikan dalam Al-Qur’an,
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)
Makna ”Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” : Allah menurunkan kenabian terakhir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena desakan sifat iri itu, mereka wujudkan dalam usaha memurtadkan kaum muslimin. Allah menceritakan,
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat menjadikan kalian kembali kafir setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:109)
Anda bisa perhatikan, mereka iri dengan agama kita. Itu artinya ajaran agama kita jauh lebih sempurna dan lebih baik dari pada agama mereka, dan bahkan tidak bisa dibandingkan, karena ajaran agama mereka telah disimpangkan.
Jika si A iri kepada si B, mana yang lebih baik? Jelas jawabannya: si B lebih baik. Karena jika si A lebih baik daripada si B, untuk apa dia iri kepada si B?
Yahudi dan Nasrani, iri kepada Islam. Sekali lagi, karena ajaran Islam lebih baik dari pada ajaran mereka. Jika Islam jauh lebih baik daripada Nasrani dan Yahudi, lantas dengan alasan apa umat Islam mengucapkan “selamat natal” atau “selamat tahun baru”, padahal itu semua perayaan adalah agama usang yang seharusnya sudah ditinggalkan?
Namun sangat disayangkan, kehadiran generasi “muslim liberal” mewakili kelompok kaum muslimin yang rendah diri — bukan rendah hati. Mereka merasa hina di depan agama usang yang telah diselewengkan.
Allahu a’lam.

" CARA BERSYUKUR DALAM PERSPEKTIVE AL-QUR'AN DAN HADIST "







بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Doa sujud syukur, kata ucapan syukur, ungkapan syukur, ayat tentang syukur, kata mutiara syukur, hadist tentang syukur
Banyak ayat Al-Quran dan hadits yang berbicara tentang syukur. Ada yang menjelaskan hakikat syukur, perintah bersyukur, manfaat bersyukur, alasan bersyukur, balasan bagi yang bersyukur, dan ancaman bagi yang tidak bersyukur. Berikut ini ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang menerangkan tentang syukur dalam berbagai aspeknya. Semoga bisa jadi renungan buat kita semua.

Perintah Bersyukur
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172).

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut : 17).

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152).

Mengapa Harus Bersyukur
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78).

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al Qashas : 73).

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS. Yasin 33-35).

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 32-34).

Manfaat Bersyukur
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Luqman : 31).

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147).

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran:145)

Kebanyakan Manusia Tidak Bersyukur
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf 16-17).

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS. Yunus: 60).

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (QS. Al An’am: 63-64).

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Al-Fathir: 3)

“Dan ketika Kami (Allah) memberikan nikmat kepada manusia, ia memalingkan muka dan bersikap angkuh, dan ketika ia ditimpa keburukan ia berputus asa.” (QS. Al Isra’ : 83)

“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243).

Ancaman Bagi Yang Tidak Bersyukur
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (QS. Al Hajj : 38).

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): `Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.`Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba` : 15-17).

Syukur Dalam Perspektif Hadits
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim).

“Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada manusia.” (HR. Ath-Thabrani).

“Apabila seorang melihat orang cacat lalu berkata (tanpa didengar oleh orang tadi):“Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhlukNya”, maka dia tidak akan terkena ujian seperti itu betapapun keadaannya.” (HR. Abu Dawud).

“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi).

Ketika Rasulullah SAW beribadah sampai beliau bengkak-bengkak, Sayidah Aisyah istrinya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beribadah sampai seperti itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim).

“Bersyukur atas nikmat Allah akan melestarikan nikmat tersebut.” (HR. Ad Dailami)

Ibnu `Abbas menceritakan, Rasulullah bersabda, “Orang pertama yanag akan dipanggil untuk masuk surga adalah orang-orang yang senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah, yaitu orang-orang yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit” (Tanbihul Ghafilin 197).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang suka memanjatkan puji dan syukur kepada Allah” (Riyadhus Shalihin 27).

Demikianlah syukur dalam perspektif Al-Quran dan Hadits sebagai bahan renungan bagi kita. Semoga kita semua termasuk golongan yang sedikit, yaitu golongan orang yang pandai bersyukur. Aamiin...

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

"Sesungguhnya sebenar-benar pembicaraan adalah Kalam Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallâhu ‘alahi wa ‘alâ âlihi wa sallam. Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka."

EMPAT AYAT AL QUR'AN ANTI GALAU



  1. بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ


    Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

    “Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.

    Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

    ...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...

    Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.

    Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

    Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!

    Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)

    Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

    ...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...

    Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

    Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.

    Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;

    1. Sabar

    Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

    Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

    Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.

    2. Adukanlah semua itu kepada Allah

    Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

    “Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

    ...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...

    Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

    Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

    3. Positive thinking

    Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;

    “Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

    4. Dzikrullah (Mengingat Allah)

    Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

    ...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...

    Sebagaimana firman-Nya:

    “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

    Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

    Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita

    "Semoga bermanfaat bagi kita semua , diberikan peningkatan iman dan taqwa, dimudah semua permasalahan dunia demi akheratnya .., di hapuskan aib dan kejelekannya .. diangkat derajatnya ... dilimpahkan barokah , ridho , hidayah dan inayah .. dikuatkan lahir dan bathinya .. dibebaskan dari jajahan iblis ..... dipertemukan dengan Rasululloh saw di padangMahsyar nanti ... diperbaiki dan dibaguskan qadha , qadhar dan taqdirnya dikemudian hari .. dijauhkan dari segala kesulitan ... dijauhkan dari kemunkaran ....

    رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ

    Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS: Hud: 47)

    Amin ya Alloh .. ya Rokhman ya Rokhim ... ya Izzati ama yasifun ...
    Ya Gofururrokhim...

PERINTAH UNTUK TAK SOMBONG ( SOK SUCI )



Perintah Tawadhu’ Sifat tawadhu’ merupakan sifat yang sangat dianjurkan, 

Allah berfirman :

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar, dan perbuatan keji yang selain daripada kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Luas ampunan-Nya.

Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu, (seperti) ketika Dia menjadikan kamu dari tanah, dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.

Dialah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa." – (QS.53:32)

Ummu al- Kitab

Lauh Mahfuzh

    Lauh Mahfuzh (Arab: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali diantaranya adalah dalam surah Az-Zukhruf 43: 4, Qaf 50: 4, An-Naml 27: 75 dan lainnya.
    ================================================================================

    Sebutan lain dari Lauh Mahfuzh
    Nama lain dari Lauh Mahfuzh berdasarkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
    • Induk Kitab (أم الكتاب, Ummu al-Kitab),
    • Kitab yang Terpelihara (كِتَابٍ مَّكْنُونٍ , Kitabbim Maknuun).
    “ ...pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),...(Al-Waaqi'ah, 56:78) ”
    • Kitab yang Nyata (كِتَابٍ مُّبِينٍ , Kitabbim Mubiin).
    “ Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (An Naml, 27:75) ”



    Gambaran Lauh Mahfuzh
    Menurut syariat Islam, Allah telah mencatat segala kejadian-kejadian di dalam Lauh Mahfuzh, dari permulaan zaman sampai akhir zaman. Baik berupa kisah nabi dan rasul, azab yang menimpa suatu kaum, pengetahuan tentang wahyu para nabi dan rasul, tentang penciptaan alam semesta dan lain-lain. Sekalipun jika kita tidak melihat segala sesuatu, semua itu ada dalam Lauh Mahfuzh.

    Menurut Tafsir Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Luh Mahfuz, bisa saja dihapus/ diubah oleh Allah atau Allah menetapkan sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian yang dapat mengubah takdir yang tertulis dalam Lauh Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik/ usaha. Nabi Muhammad bersabda: "Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik".
    Lauh Mahfuzh akan kekal selamanya karena ia termasuk makhluk yang abadi, selain Lauh Mahfuzh makhluk abadi ada 'Arsy, surga, neraka dan lain-lain.


    Para Jin mencuri berita
    Alloh telah menjadikan Lauh Mahfuzh ini sebagai tempat untuk menyimpan segala rahasia dilangit dan di bumi. Jin dari golongan setan akan berusaha untuk mencuri segala rahasia yang tertulis di dalamnya untuk menipu manusia. Disamping itu, mereka juga memiliki tujuan untuk memainkan aqidah manusia. Sebab itu Allah melarang manusia untuk mengetahui ramalan nasib, karenaperamal itu dibantu oleh jin dan jin itu akan membisikkan hasil curian itu kedalam hati peramal. Jika ada setan yang berusaha mencuri berita, maka malaikat penjaga Luh Mahfuzh akan melemparkan bintang ke arah pencuri berita tersebut, pelemparan ini yang kadang-kadang kita lihat dengan adanya bintang jatuh atau meteor.

    “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al Hijr 16 - 18) ”

    Tidak banyak diketahui tentang Lauh Mahfuz dan para ulama jarang menjabarkannya dengan detail, karena ia adalah urusan alam ghaib/ rahasia Allah. Dalam Al-Quran pun, Luh Mahfuz di sebut secara sepintas saja, tanpa penjelasan lebih lanjut. Sebagai contohnya dalam satu peristiwa yang amat bersejarah, ahli tafsir menyatakan Luh Mahfuz disebut berkaitan dengan Nuzul Al-Qurandari Luh Mahfuz ke Baitul Izzah (langit dunia) secara sekaligus yang terjadi dalam bulan Ramadhan.


    AYAT TERINDAH




    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung- jawaban” (Al Isra:36)
    dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu),
    dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis
    dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
    dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.dari air mani, apabila dipancarkan.
    Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),
    dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,
    QS 53:43-48
    Dan tiadalah binatang2 yg ada di bumi & burung2 yg terbang dgn kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dlm Al-Kitab,kemudian kpd Tuhanlah mereka dihimpunkan
    (QS 6:38)
    Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.
    (qs 6:60)
    Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila dia mendapat kebaikan dia amat kikir.
    (Qs 70:19-21) ˆ⌣ˆ
    Dan (ingatlah) ketika Allah menjadikanmu mengantuk sebagai keamanan dariNya (daripada Allah), dan Dia (Allah) turunkan air dari langit ke atasmu untuk menyucikanmu, dan menghilangkan kekotoran syaitan daripada kamu,
    dan agar Dia (Allah) perkuatkan hatimu serta diteguhkan pendirianmu dengannya
    Qs 8 (al anfal) ; 11
    Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku (Allah) yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dia (Allah adalah al-Ghafur (Maha Pengampun), lagi al-Rahim (Maha Mengasihani).
    (Qs Azzumar : 53)
    Allah memegang jiwa ketika matinya, dan yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia (Allah) menahan yang telah Dia (Allah) tetapkan kematian atasnya, dan Dia (Allah) melepaskan yang lain sampai ajal (waktu) yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
    (Qs Azzumar 39 : 42)
    Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
    QS. az-Zumar (39) : 10
    “Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat “(QS AsSyura : 42)
    …..sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa
    (QS 2:177)
    Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
    (Alfurqan 63)
    “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang SABAR dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
    (QS. An-Nahl : 96)
    …..dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.
    (Al-hajj 22 : 34-35)
    wahai orang2 yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
    QS. al-Hasyr (59) : 18
    dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
    (QS alhasyr 59:19)
    Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (al-ahzab 72)
    Tiap2 yg berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kami-lah kamu dikembalikan.
    (Al anbiya 21: 35)
    Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia,dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang  mulia.
    QS 17:23
    Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil
    QS 17:24
    Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat
    QS 17:25
    Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
    QS 17 : 26
    Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya
    QS 17 : 27
    Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
    (QS 17 : 29)
    Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
    (QS 17 : 30)
    Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya
    membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.
    (QS 17 : 31)
    Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
    (QS 17 : 32)
    Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab(Lauh Mahfuzh)
    QS 17 : 58
    “Allah tidak menghendaki untuk memberikan kamu sesuatu beban yang berat, tetapi ia berkehendak untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu supaya kamu berterimakasih.”
    (QS.Al-Maidah: 6)
    “Dan jgnlah km iri hati trhadap karunia yg telah dilebihkan Allah kpd sbgian km atas sebagian yg lain. (Krn) bagi laki2 ada bagian dr apa yg mrk usahakan, & bg perempuan (pun) ada bagian dr apa yg mrk usahakan. Mohonlah kpd Allah sbagian dr karunia-Nya. Snggh, Allah Maha Mengetahui sgl sesuatu.”
    (Q.S.4:32)
    …Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
    (QS. Lukman: 34)
    Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk
    [1] orang-orang fakir,
    [2] orang-orang miskin,
    [3] pengurus-pengurus zakat,
    [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya,
    [5] untuk budak,
    [6] orang-orang yang berhutang,
    [7] untuk jalan Allah dan untuk
    [8] mereka yang sedang dalam perjalanan,
    sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .
    (QS. At-Taubah : 60).
    Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan ENGKAU adalah sebaik-baik Yang Memberi Tempat.
    Qs. 23 Mu’minuun:29
    Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
    (Qs.13 Ra’d:11)
    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
    Almaidah 35
    Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.
    (QS yunus 12)
    Dan Kami sungguh2 mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yg mrk ucapkan. Maka bertasbihlah dg memuji Tuhanmu dan jadilah kamu diantara org2 yg bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sp datang kpdmu yg diyakini (ajal).
    (Al hijr 97-99.)
    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
    (Qs. Al-Ahzaab: 59)
    ….Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
    QS 8 : 60
    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):” Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir “.
    QS. al-Baqarah (2) : 286
    Setiap bencana yg menimpa di bumi & yg menimpa dirimu sendiri,semuanya telah tertulis dlm kitab (lauh mahfudz) sebelum kami menciptakannya. sungguh yg demikian itu mudah bagi Allah. agar kmu tdk bersedih hati terhadap apa yg luput dari kmu & tak terlalu gembira terhadap apa yg diberikanNya padamu & Allah tak menyukai org yg sombong & membanggakan diri (57:22-23)
    dan orang2 yang ber-IMAN dan mengerjakan AMAL2 yg saleh, Kami TIDAK memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sesuai batas kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya
    (QS 7:42)
    “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”
    (QS 2 : 216)
    Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
    QS. al-Baqarah (2) : 120
    “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (65:2-3)
    ….dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia
    (an-nur:26)
    Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah (surga) padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa malapateka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yg beriman bersamanya berkata ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah.’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat.
    (QS. 2:219)
    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
    (QS. Al-Imran :185)