Tampilkan postingan dengan label JODOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JODOH. Tampilkan semua postingan

MAHABBAH


Perasaan cinta kepada pasangan hidup kita terkadang mengalami gejolak sebagaimana pasang surut yang dialami sebuah kehidupan rumah tangga. Tinggal bagaimana kita menjaga tumbuhan cinta itu agar tak layu terlebih mati.
Satu dari sekian tanda kebesaran-Nya yang agung, Allah menjadikan anak Adam u memiliki pasangan hidup dari jenis mereka sendiri, sebagaimana kenikmatan yang dianugerahkan kepada bapak mereka Adam .
Di saat awal-awal menghuni surga,  bersamaan dgn limpahan kenikmatan hidup yang diberikan kepadanya, Adam u hidup sendiri tanpa teman dari jenisnya. Allah pun melengkapi kebahagiaan Adam dgn menciptakan Hawa sebagai teman hidupnya, yang akan menyertai hari-harinya di surga nan indah.
Hingga akhirnya dgn ketetapan takdir yang penuh hikmah, keduanya diturunkan ke bumi utk memakmurkan negeri yang kosong dari jenis manusia (karena merekalah manusia pertama yang menghuni bumi). Keduanya sempat berpisah selama beberapa lama karena diturunkan pada tempat yang berbeda di bumi (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/81). Mereka didera derita & sepi sampai Allah mempertemukan mereka kembali.

Demikianlah Allah menutup “sepi” hidup-nya seorang lelaki keturunan Adam dgn memberi istri-istri sebagai pasangan hidupnya. Dia Yang Maha Agung berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan utk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung & merasa tenteram kepadanya, & dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah & rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum: 21)

Allah menciptakan seorang istri dari keturunan anak manusia, yang asalnya dari jenis laki-laki itu sendiri, agar para suami merasa tenang & memiliki kecenderungan terhadap pasangan mereka. Karena, pasangan yang berasal dari satu jenis termasuk faktor yang menumbuhkan adanya keteraturan & saling mengenal, sebagaimana perbedaan merupakan penyebab perpisahan & saling menjauh. (Ruhul Ma’ani, 11/265)
Allah juga berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu & Dia jadikan dari jiwa yang satu itu pasangannya agar ia merasa tenang kepadanya…” (Al-A’raf: 189)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir  : “Yang dimaksudkan dlm ayat di atas adalah Hawa. Allah Imenciptakannya dari Adam, dari tulang rusuk kirinya yang paling pendek. Seandainya Allah  menciptakan anak Adam semuanya lelaki sedangkan wanita diciptakan dari jenis lain, bisa dari jenis jin atau hewan, niscaya tak akan tercapai kesatuan hati di antara mereka dgn pasangannya. Bahkan sebaliknya, akan saling menjauh. Namun termasuk kesempur-naan rahmat-Nya kepada anak Adam, Allah menjadikan istri-istri atau pasangan hidup mereka dari jenis mereka sendiri, & Allah tumbuhkan mawaddah yaitu cinta & rahmah yakni kasih sayang. Karena seorang lelaki atau suami, ia akan senantiasa menjaga istrinya agar tetap dlm ikatan pernikahan dengannya. Bisa karena ia mencintai istrinya tersebut, karena kasihan kepada istrinya yang telah melahirkan anak untuknya, atau karena si istri membutuh-kannya dari sisi kebutuhan belanja (biaya hidupnya), atau karena kedekatan di antara keduanya, & sebagainya.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1052)

Mawaddah & rahmah ini muncul karena di dlm pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan & kenikmatan, serta mendapat-kan manfaat dgn adanya anak & mendidik mereka. Di samping itu, ia merasakan ketenangan, kedekatan & kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tak didapatkan mawaddah & rahmah di antara  sesama manusia sebagaimana mawaddah & rahmah yang ada di antara suami istri. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 639)

Allah tumbuhkan mawaddah & rahmah tersebut setelah pernikahan dua insan. Padahal mungkin sebelumnya pasangan itu tak saling mengenal & tak ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya kasih sayang, baik berupa hubungan kekerabatan ataupun hubungan rahim. Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, & ‘Ikrimah rahimuhumullah berkata: “Mawaddah adalah ibarat/kiasan dari nikah (jima‘) sedangkan rahmah adalah ibarat/kiasan dari anak.” Adapula yang berpendapat, mawaddah adalah cinta seorang suami kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya agar istrinya tak ditimpa kejelekan. (Ruhul Ma’ani 11/265, Fathul Qadir 4/263)

Cinta Suami Istri
adalah Anugerah Ilahi
Rasa cinta yang tumbuh di antara suami istri adalah anugerah dari Allah kepada keduanya, & ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercela orang yang senantiasa memiliki rasa cinta asmara kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya disyukuri. Namun tentunya selama tak melalaikan dari berdzikir kepada Allah , karena Allah I berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian & anak-anak kalian melalaikan kalian dari zikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)
“Laki-laki yang tak dilalaikan oleh perniagaan & tak pula oleh jual beli dari mengingat Allah… “ (An-Nur: 37) (Ad-Da`u wad Dawa`, Ibnul Qayyim, hal. 293, 363)

Juga, cinta yang merupakan tabiat manusia ini tidaklah tercela selama tak menyibukkan hati seseorang dari kecintaan kepada Allah sebagai Dzat yang sepantasnya mendapat kecintaan tertinggi. Karena Dia Yang Maha Agung mengancam dlm firman-Nya :
“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah & Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)

Kecintaan kepada Istri
Rasulullah n, makhluk Allah yang paling mulia & sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya. Beliau nyatakan dlm sabdanya:
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian, para wanita (istri) & minyak wangi, & dijadikan penyejuk mataku di dlm shalat.”2
Ketika Rasulullah ditanya oleh shahabatnya yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash z:
“Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab: “Aisyah.”
Aku (‘Amr ibnul Ash) berkata: “Dari kalangan lelaki?”
“Ayahnya (Abu Bakar),” jawab beliau.3
Dan beliau n berkata membela & memuji Khadijah bintu Khuwailid x  ketika ‘Aisyah x cemburu kepadanya:
“Sesungguhnya aku diberi rizki yaitu mencintainya.” 4
Rasulullah pun pernah ingin menjadi perantara & penolong seorang suami yang sangat mencintai istrinya utk tetap mempertahankan istri yang dicintainya dlm ikatan pernikahan dengannya. Namun si wanita enggan & tetap memilih utk berpisah, sebagaimana kisah Mughits & Barirah. Barirah5 adalah seorang sahaya milik salah seorang dari Bani Hilal. Sedangkan suaminya Mughits adalah seorang budak berkulit hitam milik Bani Al-Mughirah. Barirah pada akhirnya merdeka, sementara suaminya masih berstatus budak. Ia pun memilih berpisah dgn suaminya diiringi kesedihan Mughits atas perpisahan itu. Hingga terlihat Mughits berjalan di belakang Barirah sembari berlinangan air mata hingga membasahi jenggotnya, memohon kerelaan Barirah utk tetap hidup bersamanya. Rasulullah n berkata kepada paman beliau, Al-’Abbas z:
“Wahai paman, tidakkah engkau merasa takjub dgn rasa cinta Mughits pada Barirah & rasa benci Barirah terhadap Mughits?”
Nabi n berkata kepada Barirah: “Seandainya engkau kembali kepada Mughits.” Barirah bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkan aku?”
“Tidak,” kata Rasulullah, “Akan tetapi aku hanya ingin menolongnya.”
“Aku tak membutuhkannya,” jawab Barirah.6
Tiga Macam Cinta Menurut
Al-Imam Ibnul Qayyim t
Perlu diketahui oleh sepasang suami istri, menurut Al-Imam Al-’Allamah Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar yang lebih dikenal dgn Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah  t,,, ada tiga macam cinta dari seorang insan kepada insan lainnya:
Pertama: Cinta asmara yang merupakan amal ketaatan. Yaitu cinta seorang suami kepada istri atau budak wanita yang dimilikinya. Ini adalah cinta yang bermanfaat. Karena akan mengantarkan kepada tujuan yang disyariatkan Allah I dlm pernikahan, akan menahan pandangan dari yang haram & mencegah jiwa/hati dari melihat kepada selain istrinya. Karena itulah, cinta seperti ini dipuji di sisi Allah I & di sisi manusia.
Kedua: Cinta asmara yang dibenci Allah  & akan menjauhkan dari rahmat-Nya. Bahkan cinta ini paling berbahaya bagi agama & dunia seorang hamba.
Yaitu cinta kepada sesama jenis, seorang lelaki mencintai lelaki lain (homo) atau seorang wanita mencintai sesama wanita (lesbian). Tidak ada yang ditimpa bala dgn penyakit ini kecuali orang yang dijatuhkan dari pandangan Allah I, hingga ia terusir dari pintu-Nya & jauh hatinya dari Allah .
Penyakit ini merupakan penghalang terbesar yang memutuskan seorang hamba dari Allah I. Cinta yang merupakan musibah ini merupakan tabiat kaum Luth u hingga mereka lebih cenderung kepada sesama jenis daripada pasangan hidup yang Allah I tetapkan utk mereka. Allah mengabarkan:
“Demi umurmu (ya Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dlm kemabukan.” (Al-Hijr: 72)
Obat dari penyakit ini adalah minta tolong kepada Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, berlindung kepada-Nya dgn sebenar-benarnya, menyibukkan diri dgn berdzikir/mengingat-Nya, mengganti rasa itu dgn cinta kepada-Nya & mendekati-Nya, memikirkan pedihnya akibat yang diterima karena cinta petaka itu & hilangnya kelezatan karena cinta itu. Bila seseorang membiarkan jiwanya tenggelam dlm cinta ini, maka silahkan ia bertakbir seperti takbir dlm shalat jenazah7. Dan hendaklah ia mengetahui bahwa musibah & petaka telah menyelimuti & menyelubunginya.

Ketiga: Cinta yang mubah yang datang tanpa dapat dikuasai. Seperti ketika seorang lelaki diceritakan tentang sosok wanita yang jelita lalu tumbuh rasa suka di hatinya. Atau ia melihat wanita cantik secara tak sengaja hingga hatinya terpikat. Namun rasa suka/ cinta itu tak mengantarnya utk berbuat maksiat. Datangnya begitu saja tanpa disengaja, sehingga ia tak diberi hukuman karena perasaannya itu. Tindakan yang paling bermanfaat utk dilakukan adalah menolak perasaan itu & menyibukkan diri dgn perkara yang lebih bermanfaat. Ia wajib menyembunyikan perasaan tersebut, menjaga kehormatan dirinya (menjaga ‘iffah) & bersabar. Bila ia berbuat demikian, Allah I akan memberinya pahala & menggantinya dgn perkara yang lebih baik karena ia bersabar karena Allah I & menjaga ‘iffah-nya. Juga karena ia meninggalkan utk menaati hawa nafsunya dgn lebih mengutamakan keridlaan Allah I & ganjaran yang ada di sisi-Nya. (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 370-371)

Bila cinta kepada pasangan hidup, kepada suami atau kepada istri, merupakan perkara kebaikan, maka apa kiranya yang mencegah seorang suami atau seorang istri utk mencintai, atau paling tak belajar mencintai teman hidupnya?
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Catatan Kaki:
1 Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi & shalat) dinyatakan termasuk dari dunia. Maknanya adalah: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepadaku di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita & minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi, sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara diniyyah (agama). (Catatan kaki Misykatul Mashabih 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’aat, Abdul Haq Ad-Dahlawi)
2 HR. Ahmad 3/128, 199, 285, An-Nasa`i no. 3939 kitab ‘Isyratun Nisa’ bab Hubbun Nisa`. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dlm Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain (1/82)
3 HR. Al-Bukhari no. 3662, kitab Fadha`il Ashabun Nabi n, bab Qaulin Nabi n : “Lau Kuntu Muttakhidzan Khalilan” & Muslim no. 6127 kitab Fadha`ilush Shahabah, bab Min Fadha`il Abi Bakar Ash-Shiddiq z.
4 HR. Muslim no. 6228 kitab Fadha`ilus Shahabah, bab Fadha`il Khadijah Ummul Mu`minin x
5 Disebutkan bahwa Barirah memiliki paras yang cantik, tak berkulit hitam. Beda halnya dgn Mughits, suaminya. Barirah menikah dgn Mughits dlm keadaan ia tak menyukai suaminya. Dan ini tampak ketika Barirah telah merdeka, ia memilih berpisah dgn suaminya yang masih berstatus budak. Dimungkinkan ketika masih terikat dlm pernikahan dgn suaminya, Barirah memilih bersabar di atas hukum Allah  walaupun ia tak menyukai suaminya. Dan ia tetap tak menampakkan pergaulan yang buruk kepada suaminya sampai akhirnya Allah Imemberikan kelapangan & jalan keluar baginya. (Fathul Bari, 9/514)
6 Lihat hadits dlm Shahih Al-Bukhari no. 5280-5282, kitab Ath-Thalaq, bab Khiyarul Amati Tahtal ‘Abd & no. 5283, bab Syafa’atun Nabi n fi Zauji Barirah.
7 Artinya dia telah mati

Batasan kufu dalam pernikahan

Para ahli fiqih (fuqaha) berbeda pendapat tentang kafa’ah (kufu) dalam pernikahan, namun yang benar sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma‘ad (4/22), yang teranggap dalam kafa’ah adalah perkara dien (agama). Beliau t berkata tentang permasalahan ini diawali dengan menyebutkan beberapa ayat Al Qur’an, di antaranya :


Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berkabilah-kabilah agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Al Hujurat: 13)
Orang-orang beriman itu adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
“Kaum mukminin dan kaum mukminat sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” (At Taubah: 71)
Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…” (An Nur: 26)
Kemudian beliau lanjutkan dengan beberapa hadits, di antaranya sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam:
Tidak ada keutamaan orang Arab dibanding orang ajam (non Arab) dan tidak ada keutamaan orang ajam dibanding orang Arab. Tidak pula orang berkulit putih dibanding orang yang berkulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dibanding orang kulit putih, kecuali dengan takwa. Manusia itu dari turunan Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah”.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada Bani Bayadlah: “Nikahkanlah wanita kalian dengan Abu Hindun”.


Maka merekapun menikahkannya sementara Abu Hindun ini profesinya sebagai tukang bekam.
Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah menikahkan Zainab bintu Jahsyin Al Qurasyiyyah, seorang wanita bangsawan, dengan Zaid bin Haritsah bekas budak beliau. Dan menikahkan Fathimah bintu Qais Al Fihriyyah dengan Usamah bin Zaid, juga menikahkan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin `Auf.
Dari dalil yang ada dipahami bahwasanya penetapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam masalah kufu adalah dilihat dari sisi agama. Sebagaimana tidak boleh menikahkan wanita muslimah dengan laki-laki kafir, tidak boleh pula menikahkan wanita yang menjaga kehormatan dirinya dengan laki-laki yang fajir (jahat/jelek).
Al Qur’an dan As Sunnah tidak menganggap dalam kafa’ah kecuali perkara agama, adapun perkara nasab (keturunan), profesi dan kekayaan tidaklah teranggap. Karena itu boleh seorang budak menikahi wanita merdeka dari turunan bangsawan yang kaya raya apabila memang budak itu seorang yang ‘afif (menjaga kehormatan dirinya) dan muslim. Dan boleh pula wanita Quraisy menikah dengan laki-laki selain suku Quraisy, wanita dari Bani Hasyim boleh menikah dengan laki-laki selain dari Bani Hasyim. (Zaadul Ma‘ad, 4/22) .

KENAPA MENCARI JODOH SULIT ?


SUBHANALLAH MAHA BESAR ALLAH TELAHMENCIPTAKAN BERPASANG-PASANG DI DUNIA INI.BUAT SAUDARAKU YANG BELUM MENERIMANYAMOHON SABAR DAN SELALU PUNYA KEYAKINAN BAHWA ALLAH BERSAMA KITA.DAN SELALUMEMBERSIHKAN DIRI ATAS KESALAHAN KITA SEBELUM-BELUMNYA…
SEMOGA ALLAH MEMUDAHKAN KITA SETELAHMEMAHAMI DAN MENJALANKAN DENGAN PENUH HATI DAN KEYAKINAN DALAM POTINGAN INI.
DOA KAMI SEMUA UNTUKMU SAUDARAKU



Masalah jodoh baik bagi kaumpria maupun wanita dewasa inisudah menjadi masalah yang pelik. Kesibukan bekerja , mencari ilmu dan lainsebagainya seolah menjadi kendala dalam menemukan jodoh yang serasi. Banyakwanita maupun pria yang usianya sudah mencapai kepala 3 bahkan sudah memasukikepala 4 namun belum juga menemukan jodohnya. Mereka bukan tidak ingin berumahtangga , didalam hati kecilnya bahkan menjerit ingin segera mengakhiri masalajangnya, namun apa daya saat yang dinantikan itu tidak juga kunjung datang.
Umumnya banyak orang yang menyalahkan faktor kesibukan dalambekerja atau sekolah sebagai biang keladi dari keterlambatan mendapat jodohini. Saya pernah terkejut menerima undangan pernikahan dari teman saya seorangDoktor disalah satu perguruan tinggi terkenal yang usianya sudah lebih 45tahun. “ Saya fikir kamu sudah berkeluarga “ kata saya menyatakan keherananketika menerima undangan itu. “Waduh pak kalau bukan usaha keras dari keluargasaya , mungkin saya akan terus melajang sampai tua ” jawabnya menjelaskan.

Faktor penghambat jodoh
Banyak faktor yang menjadi penyebab keterlambatan mendapatjodoh baik bagipria maupun wanita. Faktor utama ada didalam diri mereka masingmasing yang merupakan mental blocking, yang tanpa disadari menjadi penghalangbagi datangnya jodoh bagi mereka . Umumnya mereka tidak menyadari adanya mentalblocking tersebut. Untuk memuluskan jalan bagi menemukan jodoh, carilah mentalblocking yang ada pada diri masing masing. Singkirkan mental blocking tersebut.
Mental blocking merupakan sistim didalam hati dan fikiran(alam bawah sadar) yang menutup dan merintangi jalan untuk mendapatkan jodohbagi seseorang. Ia bekerja secara otomatis. Ada ada saja rintangan dan kendalayang muncul ketika jodoh sudah mendekat. Ada yang berpacaran bertahun tahuntanpa sebab yang jelas ketika sudah mulai serius menuju jenjang pernikahan tibatiba hubungan mereka putus.Ada pula diantaranya yanggonta ganti pacar sampaibeberapa kali namuntidak satupun yang jadi.
Keberadaan mental blocking umumnya tidak disadarioleh yangbersangkutan. Berikut ini saya sampaikan beberapa model mental blocking yangbisa menghambat jalan perjodohan, silahkan diteliti bagi anda yang belummendapat jodoh , adakah itu pada diri anda.
  • Tidak akan berumah tangga kalau belum meraih sukses seperti punya rumah, mobil, dan jabatan tertentu (mendahulukan karir).
  • Ingin menyelesaikan studi dahulu hingga mencapai S2 atau S3
  • Ingin membiayai adik adik hingga semuanya menjadi sarjana
  • Ada trauma (melihat orang tua atau tetangga), kuatir disia siakan suami yang tidak bertanggung jawab.
  • Cemas dan kuatir meninggalkan ibu atau ayah jika telah berumah tangga nanti.
  • Takut dan cemas tidak sanggup membiayai rumah tangga
  • Takut dan kuatir tidak sanggup membahagiakan keluarga dan memenuhi semua kebutuhan mereka
  • Kuatir tidak mendapat kebebasan dari suami seperti yang didapat selama ini.
Dan banyak lagi mental blocking lainnya yang sangat halusdan tersimpan jauh dilubuk hati nan dalam. Berbagai perasaan seperti diatasmengedap didalamfikiran bawah sadar dan tanpa disadari menjadi perintang sertapenghalang bagi jodoh yang bersangkutan.
Jika anda terlambat mendapat jodoh , beberapa kali pacaranselalu kandas ditengah jalan, coba cermati apakah ada mental blocking yangmungkin jadi perintang bagi perjodohan anda.
Kadang kala ada orang yang menyarankan anda untuk datang padaparanormal, ditenggarai anda terkena pagar ghaib dari seseorang sehingga andasulit mendapat jodoh. Anda disarankan untuk mandi kembang dan air dari 7 sumuratau sungai. Hindari cara cara seperti itu , jangan sampai anda terjebakperbuatan musyrik atau minta tolong pada sesuatu selain Allah. 

Membersihkan mental blocking
Bersihkan berbagai kekuatiran, kecemasan , ketakutan yangmengedap dalam fikiran dan perasaan dengan berserah diri pada Allah. Yakinkandidalam hati dan fikiran bahwa tidak ada suatu bencanapun yang terjadi padadiri kita tanpa seizin Allah. Jika Allah melindungi kita maka tidak ada satukekuatanpun yang dapat membahayakan kita.
Tingkatkan mutu shalat anda dengan memahami dan mengertisetiap kalimat yang dibaca dalam shalat. Shalat yang dilakukan dengan benar dankhusuk dapat menghilangkan berbagai rasa cemas, gelisah, kuatir yang berlebihlebihan.Bacaan Al Fatihan yang dibaca dengan sungguh sungguh dan khusuk , sertadoa pada saat duduk iftirash dapat memberi ketenangan pada hati dan fikiran.
Usahakan setiap saat hati anda merasa aman , nyaman danbahagia, jangan ada rasa tertekan, cemasdan takut yang berlebihan. Ikhlas danridho dengan berbagai ketetapan Allah. Harapkan selalu rahmat dan kasih sayangdari Allah. Jika anda bisa mempertahankan rasa bahagia , aman, nyaman dantentram didalam hati dan fikiran, insya Allah berbagai aura negatif akan musnahdari diri anda berganti dengan cahaya aura positip yang akan mendatangkanberbagai keberuntungan dalam hidup anda. 

Kiat mendapatkan jodoh
Jika anda telah berhasil menghilangkan berbagai mentalblocking yang ada didalam diri anda , mulailah buat rancangan untuk mendapatkanjodoh yang sesuai bagi diri anda.Ambil langkah langkah sebagai berikut:
  • Tetapkan kriteria bagi jodoh yang anda inginkan, seperti umur, pendidikan, perawakan,suku,perilaku dan lain sebagainya
  • Tetapkan target anda untuk berumah tangga, tahun ini , tahun depan atau 3 tahun lagi.
  • Sewaktu waktu misalnya selesai shalat bayangkan jodoh yang anda inginkan dalam fikiran anda
  • Rasakan seolah olah anda sudah mendapatkan jodoh yang anda inginkan
  • Rasakan kebahagiaan dan kegembiraan dihati anda
  • Kemudian sujud pada Allah, panjatkan puji syukur padaNya yang telah mengabulkan semua hajat keinginan anda. Lakukan semua ini dengan ikhlas seolah olah semua itu sudah terjadi. Walaupun pada kenyataannya semua itu belum terjadi.
  • Lakukan semua itu dengan penuh keyakinan pada Allah, tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah. Jangan ada keraguan dan was was sedikitpun.
Ingat jangan ada rasa cemas, kuatir dan meragukan kemampuanAllah untuk mengabulkan semua keinginan anda. Semua akan terjadi nsesuaikeyakinan anda. Jika anda ragu dan tidak yakin maka keraguan anda itupun akanmenjelma jadi kenyataan. 

Lakukan shalat malam
Iringi semua langkah seperti tersebut diatas denganmengerjakan shalat malam setiap hari. Lakukan shalat malam sebanyak 8 rakaat (4x 2 rakaat) ditambah denganshalat witir 3 rakaat.Shalat malam atau tahajuddimulai jam 3.00 sampai menjelang subuh. Jika tidak sanggup melakukan 11 rakaatkerjakan sesanggupnya minimal 2 rakaat ditutup dengan witir 3 rakaat. Jikadirasa masih berat untuk bangun malam bisa diganti dengan mengerjakan shgalatpada waktu dhuha antara jam 6.00 sampai jam 8.00 pagi hari.
Metode seperti tersebut diatas sudah pernah saya lakukansebanyak dua kali. Pertama ketika saya menginginkan jodoh ketika remaja dahulu,dan yang kedua ketika saya menginginkan pengganti istri saya yang meninggalketika saya berusia 55 tahun. Alhamdulillah keduanya berhasil dengan baik ,sebagaimana saya sampaikan pada kisah berikut dibawah ini.

Pengalaman mencari istri untuk pertama kali
Ketika remaja dahulu saya tinggal dan menetap dimasjid alFalah Bendungan Hilir. Saya aktif mengurus Masjid dan berbagai kegiatan dakwah.Posisi dan kedudukan saya ketika itu menyebabkan saya sulit berkomunikasidengan wanita , sedangkan saya waktu itu sudah sangat ingin berumah tangga.Saya sudah bekerja di PLN dengan penghasilan yang cukup.
Setiap malam saya megerjakan tahajud memohon pada Allah agardipertemukan dengan jodoh yang sesuai. Alhamdulillah salah seorangpengurus pengajian yang sama sama mengurus kegiatan pengajian dengan sayaberminat mempertemukan saya denga keponakannya. Saya menargetkan untuk berumahtangga ketika itu pada usia 25 tahun, ternyata Allah mempertemukan saya denganjodoh saya pada umur 27 tahun. Kurang lebih selama 2 tahun saya tidak putusmengerjakan shalat tahajud memohon padaNya agar dipertemukan dengan jodoh yangsesuai. Alhamdulillah Allah memenuhi permohonan saya dan mepertemukan sayadengan istri saya ketika itu.
Kami hidup bersama istri saya yangpertama Herisna selamakurang lebih28 tahun dikaruniai 3 orang anak . Menjelang pensiun pada tahun2006 Allah berkehendak memanggil istri saya lebih dahulu menghadapNya. Sayamemasuki masa pensiun pada tahun 2006 tanpa istri yang mendampingi. Sayatinggal bersama ketiga orang putra putri saya. 

Pengalaman mencari istri untuk yang kedua kali
Hidup terasa sepih, apalagi ketika anak anak sudah pergisemua yang kuliah dan bekerja. Saya tinggal dirumah seorang diri, hidup terasasepih. Saya jadi tidak betah dirumah, saya sering pergi kerumah adik saya, danbaru pulang malam hari setelah anak saya ada dirumah semua.
Ketika saya berkunjung kerumah ibu saya , ibu memeluk sayasambil menangis, saya heran. “ Apa ibu ingat dengan istri saya yang sudah tiada“ kata saya pada ibu. “Tidak “ jawabnya:”Ibu kasihan melihat kamu, posisimutanggung . Tua tidak mudapun tidak. Jika sudah tua dan berusia lanjut kau tidakperlu mencari istri lagi, kalau masih muda tidak sulit bagimu mendapatkanistri. Namun sekarang posisimu tanggung , sulit bagimu mendapat istri yangsepadan”
Saya terkejut mendengar penjelasan ibu. Memang betul ketikaitu usia saya 55 tahun dan sudah memasuki masa pensiun. Tentu sulit mencariistri yang sepadan. Sekarang saya merasa memerlukan seorang pendamping bagikehidupan saya. Apalagi saya mengidap sakit jantung koroner ada resiko mendadakkerumah sakit, siapa yang akan menemani saya dirumah sakit?.
Kemudian saya mengambil langkah seperti yang saya ceritakandiatas, saya tetapkan kriteria calon istri dan target untuk berumah tangga.Saya kerjakan tahajud setiap malam, dan yakin bahwa Allah akan mempertemukansaya dengan istri yang sesuai bagi saya. Saya yakin jika ia belum ada akandiadakan oleh Allah danjika ia sudah ada akan dipertemukan oleh Allah.
Kurang lebih selama satu setengah tahun saya mengerjakantahajud, pada satu hari adik saya menyampaikan bahwa ada temannya yang inginmemperkenalkan saya dengan adiknya. Seorang gadis usianya sekitar 43 tahun.Saya memang menargetkan usia sekitar 40 s/d 50 tahun, tidak terlalu dekatdenganusia anak saya yang ketika itu sudah 30 tahun. Adik saya mengatakan bahwasaya dulu pernah mengajar dirumah gadis tersebutketika masih remaja dulu.
Saya katakan silahkan diperkenalkan pada saya dalam salahsatu kegiatan pengajian yang saya adakan. Ketika diperkenalkan setelahpengajian saya terkesiap ternyata wajah gadis tersebut mirip sekali denganalmarhumah ibunya yang pernahsaya kenal. Ketika masih muda dahulu saya pernahmengajar danmemberi pengajian sekali seminggu dirumahnya. Ketika itu ia masihduduk dibangku SD.
Alhamdulilah akhirnya komunikasi berlanjut dan kami menikahpada bulan November tahun 2007. Demikianlah Allah mempertemukan saya denganistri kedua saya yang usianya 13 tahun lebih muda dari saya. Istri saya iniMurliati juga termasuk seorang gadis yang terlambat mendapatkan jodoh. Setelahsaya diskusikan dengannya memang ada beberapa mental blocking yang menghambatperjodohannya.
Setelah ia berusaha menghilangkan semua hambatan mentalblocking dan berusaha untuk iklhlas pada Allah dibantu pula dengan rajinmengerjakan shalat tahajud , Alhamdulilah akhirnya ia mendapatkan jodoh bersamasaya. Belakangan ia juga mengetahui dari catatan ayahnya di kalender ternyataayahnya juga rajin mengerjakan tahajud setiap malam.  Sekarang kami hidupbahagia dengan 3 orang anak dan seorang cucu.Dari 3 orang putra putri saya satuorang sudah berumah tangga , insya Allah dua orang lagi akan segera menyusul.
Mudah mudahan apa yang saya sampaikan ini bisa membantu danmenjadi motivasi bagi anda yang merasa kesulitan mendapat jodoh. Mungkindiantara anda ada yang sudah berusia 30 atau 40 tahun  lebih namun belumjuga menemukan jodoh yang serasi. Cobalah kiat yang saya sampaikan diatas mudahmudahan berhasil .

Tadabbur Al Fatihah untuk memelihara dan  mendapatkan jodoh
Bagimereka yang belum mendapat jodoh disamping mengerjakan tahajud , setelahselesai tahajud saya sarankan untuk membaca tadabbur Al fatihah seperti yangsaya sampaikan dibawah ini. Bagi mereka yang sudah menemukan jodoh namun belumnaik kepelaminan saya sarankan untuk membaca tadabbur Al Fatihah tersebut setelah shalat magrib , menjelang tidur atau setelah selesai shalatsubuh.
Dalammasa pacaran atau menjelang naik kepelaminan ada saja halangan dan rintanganyang mungkin saja membatalkan perjodohan yang diidam idamkan. Banyak orang yangsudah pacaran bertahun tahun , tiba tiba hubungan mereka putus ditengah jalantidak berlanjut pada pernikahan yang diidam idamkan. Untuk menjaga dan merawathubungan perjodohan itu saya sarankan biasakanlah membaca tadabbur Al fatihahminimal sesudah shalat maghrib dan subuh. Insya Allah Dia akan menjaga danmemelihara perjodohan anda sampai naik kepelaminan. Jika karena sesuatu halperjodohan anda terputus insya Allah Dia akan menggantinya dengan yang lebihbaik.
Kemampuanpenglihatan kita amat terbatas kita tidak mengetahui hal yang ghaib , namunAllah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dengan tadabbur Al fatihah kitaharap Allah akan memilihkan jodoh yang terbaik bagi kita.  Apa yang kitasangka baik belum tentu baik menurut Allah, apa yang kita sangka buruk belumtentu buruk menurut Allah. Boleh jadi Allah melihat cacat yang tidak kita ketahuipada calon suami atau istri kita , kemudian Ia memutuskan untuk memisahkankita. Jika kita ridho dan sabar Insya Allah Dia akan segera mengganti denganyang lebih baik dari calon sebelumnya. Masalah jodoh serahkan sepenuh nya padapilihan Allah yang maha  mengetahui segala sesuatu.
Selesaishalat tahajud, atau shalat magrib dan subuh bacalah surat al fatihah secarakomplit sebagai berikut ini
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
 SURAT AL-FATEKHA


Selanjutnyabaca tadabburnya ayat demi ayat sebagai berikut dibawa ini. Baca dengan khusukdan penuh penghayatan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ya Allah dengan menyebut namaMu yang maha pengasih , penuh cinta kasih.  Dengan menyebut namaMu yang maha penyayang  penuh kasih sayang. Kami mohon limpahan rahmat dan kasih sayangMu ya Allah.Kami mohon limpahan kasih sayang dari seorang (suami…istri) yang telah Kau tetapkan bagi kami ya Allah.   Jadikan kami bersama keluarga kami , karib kerabat dan  handai taulan  kami  dalam naungan kasih sayangMu ya Allah   .Beri kami Rasa aman nyaman dalam naungan kasihMu ya Allah. Jangan kau jadikan hubungan kami dengan karib kerabat, sanak saudara, handai taulan  dalam kebencian , kedengkian , kemarahan dan kekalutan diantara sesama kami.

Jadikan lingkungan kami lingkungan yang aman ,  nyaman penuh dengan  rahmat dan dan kasih  sayang Mu ya Allah.  Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah.Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa. 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ya Allah Engkau yang maha pengasih penuh cintakasih, Engkau yang maha penyayang penuh kasih sayang. Segala puji bagiMu yaAllah  yang telah menjadikan segala sesuatu  berpasang pasangan.Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menamankan rasa kasih sayang diantarakami dengan pasangan yang telah Kau tetapkan bagi kami . Ya Allah yang maha pengasihpenuh cinta kasih, yang maha penyayang penuh kasih sayang, jadikan bagi kamiseorang suami/istri yang menyayangi dan mencintai kami.  Jadikan bagi kamijodoh yang serasi, saling mengasihi saling menyayangi dalam rahmat dan kasihsayangMu. Jauhkan kebencian, kemarahan, kecurigaan dari hati kami masingmasing.Jadikan kami dalam naungan rahmat dan kasih sayangMu Lindungi hubungankami dari campur tangan syetan dari golongan jin dan manusia yang menimbulkanperpecahan, kemarahan dan kebencian diantara sesama kami. Perkenankanlahpermohonan kami ini ya Allah , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.ا

لرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم
Ya Allah Engkau yang maha pengasih penuh cinta kasih, Engkau yang maha penyayang penuh kasih sayang. Segala puji bagiMu ya Allah  yang telah menjadikan segala sesuatu  berpasang pasangan. Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menamankan rasa kasih sayang diantara kami dengan pasangan yang telah Kau tetapkan bagi kami . Ya Allah yang maha pengasih penuh cinta kasih, yang maha penyayang penuh kasih sayang, jadikan bagi kami seorang suami/istri yang menyayangi dan mencintai kami.  Jadikan bagi kami jodoh yang serasi, saling mengasihi saling menyayangi dalam rahmat dan kasih sayangMu. Jauhkan kebencian, kemarahan, kecurigaan dari hati kami masing masing.Jadikan kami dalam naungan rahmat dan kasih sayangMu Lindungi hubungan kami dari campur tangan syetan dari golongan jin dan manusia yang menimbulkan perpecahan, kemarahan dan kebencian diantara sesama kami. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa. 

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Ya Allah Engkaulah Raja yang berkuasa penuh dihari berbangkit. Engkaulah penguasa tunggal dihari itu. Dihari yang tiada berguna harta dan anak anak, dihari yang tiada menolong sanak famili, dihari yang tiada berguna pangkat dan jabatan. Tidak ada tempat berlindung dihari itu selain lindunganMu , tidak ada tempat bernaung dihari itu selain naunganMu. Jangan kau hinakan kami dihari itu ya Allah, jadikan kami dalam naungan dan lindunganMu. Ampuni semua dosa dan kesalahan kami dihari itu ya Allah. Tempatkan kami pada tempat yang mulia disiMu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa’

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Ya Allah, hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. Engkaulah Tuhan kami, tidak ada yang kami sembah selain Engkau. Hanya padaMu kami rukuk dan sujud. Hanya padaMu kami mengabdikan seluruh hidup kami. Hanya padaMu kami mohon pertolongan dan perlindungan. Engkaulah tempat kami menggantungkan harapan kami. Tolong kami menghadapi berbagai masalah yang hadir dihadapan kami. Tolong kami mendapatkan jodoh yang serasi dari sisiMu , jodoh (suami atau istri) yang membawa rahmat bagi kami dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Ya Allah jika kau pertemukan kami dengan jodoh yang telah kau tetapkan , satukan hati kami dalam rahmat dan kasih sayangMu,mudahkan kami melanjutkan hubungan kami kejenjang pernikahan yang Kau ridhoi.  lindungi kami dari gangguah syetan golongan jin dan manusia yang menimbulkan kebencian, kemarahan dan perpecahan diantara sesama kami.

Tolong kami dengan kekuatan yang dahsyat dari sisiMu. Engkaulah tempat kami mengadu dan menggantungkan semua harapan kami. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ya Allah , tunjuki kami  (berdua) jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan rohmat dan berkahMu. Tunjuk  kami jalan yang lurus  yaitu jalan yang penuh dengan rahmat dan berkamu. Bimbing kami, tuntun kami menempuh jalanMu yang lurus ya Allah.  

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Yaitu jalan orang orang yang telah mendapat nikmat dariMu, bukan jalan orang yang Kau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat. Ya Allah Tunjuki kami jalan yang lurus, jalan yang ditempuh oleh para nabi, para Rasul, para sholihin, para shodiqin. Bukan jalan orang yang Kau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat. Bukan jalan orang yang maksiat dan bergelimang dosa. Bukan jalan orang yang kufur dan terus menerus menentangMu. Tunjuki kami jalan yang lurus dan penuh dengan rahmat dan berkahMu ya Allah. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah. Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.

Baca tadabbur al fatihah ini dengan sungguh sungguh dan khusuk, Insya Allah Dia akan memilihkan jodoh yang terbaik bagi anda dan menjaga anda hingga sampai kepernikahan yang anda idam idamkan.













Jika ikhwan cari gebetan…..!!!!!


Ikhwan nyari gebetan? Gak salah nih? Eit, jangan su’udzon dulu ya. Meski panggilan ikhwan identik dengan cowok pengajian, mereka juga kan manusia. Sama seperti cowok laen. Punya rasa punya hati dan nggak punya antivirus merah jambu. Itu artinya, ikhwan juga bisa kepeleset jatuh hati ama pesona lawan jenisnya. Terutama pada kalangan cewek pengajian yang biasa dijuluki akhwat. Soalnya mereka kan beraktivitas pada dunia yang sama. Dunia dakwah gitu, lho. Wajar dongs!
Bedanya ama cowok laen, cowok pengajian mungkin lebih punya pertimbangan mateng untuk jatuh cintrong. Ciiee, sori bukan narsis lho. So, nyari gebetan di sini bukan berarti nyari gandengan yang bisa diajak kencan atau jalan berduaan. Tapi untuk diajak serius melabuhkan cintanya di jalan yang halal. Loving you, Merit yuk? Enak.. enak.. enak..!
Nah, kali ini kita mo ngorek informasi dari temen-temen ikhwan seputar komentar tentang Liga Champions, eh tentang akhwat idaman mereka. Informasi berharga nih. Penasaran? Yuk!
***
Akhwat Idaman di Mata Ikhwan
Ngobrolin soal akhwat nggak bisa lepas dari sikap, karakter, dan aktivitas dakwahnya yang dengan mudah tercium oleh ikhwan. Ada yang lincah kayak bola bekel, ada yang rame mirip Nirina Zubir, ada yang aktif banget sampe nggak terlalu mikirin penampilan yang seadanya, dan lain sebagainya. Pokoknya mah bervariasi banget deh. Tapi, seperti apa sih akhwat yang disukai ikhwan?
Seorang teman dari negeri jiran, Hadi, via FS (Friendster)-nya ngasih komentar : “… perempuan yang aku suka adalah sejuk mata memandang dek terlihat keluhuran akhlaknya menjadi sumber ketenangan jiwa bila hati bergelora.”
Kalo menurut ‘penkhianatyangtelahmusnah
(pytm)’ dalam YM (Yahoo Messenger)-nya, “yang jelas ngaji. Masalah pendiem, kalem, jaim, rame itu mah selera. Rame asyik dibawa ngobrol. Kalem asik kayak punya bidadari yang bisa diapain. Hahaha…”Lain lagi pendapat Zubair, mahasiswa ITB (Kimia) 2002, akhwat yang disukainya adalah yang…. “Pandai berkomunikasi dalam bentuk verbal, sehingga dengan modal dasar ini mudah-mudahan setiap masalah yang ada mampu dikomunikasikan dan diselesaikan dengan kepala dingin, bahkan jadi modal yang sangat cukup untuk dakwah.”
Gimana dengan akhwat yang agak agre. Maksute, akhwat yang punya inisiatif berjuang setengah hidup nyari info tentang ikhwan idamannya. Walau diam-diam, tapi aktif tanya sana-sini-situ. Mungkin udah ngebet kali ye ama ikhwan incarannya en takut keburu dicantol ama yang laen. Hehehe…
‘pytm’ dan ‘javanehese2000′ bilang saat chatting, akhwat agre bukan tipe yang disukainya. Lantaran khawatir timbul fitnah bin gosip yang nggak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka lebih suka yang kalem. Akhwat banget, gitu lho. Rada pendiem en bisa jaim di tempat umum. Mungkin tipe-tipe akhwat yang nunggu diajuin proposal ama ikhwan gitu deh. Kayak mo tujuh belasan pake ngajuin proposal? Hihihi…
Tapi bagi Zubair, akhwat agre adalah tipe kesukaannya. “… karena kalo orangnya terlalu pendiem, kita nggak tau secara persis keadaan dia kayak gimana, kalo agresif alias ekspresif kan enak tuh, kalo ada masalah ketahuan jadi mungkin kita bisa bantu tolong.” Dengan kata lain, doi nggak gitu nyetel ama akhwat yang kalem, “… soalnya kalo yang kalem susah ditebak isi hatinya.”
Oh ya, untuk tipe agresif meski nggak umum di kalangan akhwat, bukan berarti ‘cela’ lho. Karena Siti Khadijah pun termasuk yang ‘agresif’ hingga berani menawarkan diri kepada Muhammad bin Abdullah setelah terpikat oleh sifat dan karakter beliau.
Oke deh sobat, itu segelintir komentar temen-temen ikhwan tentang tipe akhwat yang disukainya. Yang pasti, mau yang agre ataupun kalem, semuanya sama baiknya selama shalehah. Tinggal pandai-pandainya kita aja mensikapinya. Dan yang nggak kalah pentingnya, akhwat yang bersangkutan suka juga ama kita. Biar nggak bertepuk sebelah tangan. Huehehe…
***
FBI = Female Bidikan Ikhwan
Sobat, dari komentar ikhwan-ikhwan tersebut pas ditanya soal akhwat idaman, mereka nangkepnya lagi ditanya soal sosok yang bakal jadi istrinya. Geer banget kan? Tapi wajar aja sih kalo kegeeran, itu kan gejala normal seorang jomblo. Padahal untuk calon istri, mungkin lebih khusus lagi kriterianya. Kayak gimana sih?
Menurut Anas, “Tipe yang Anas suka, tipe yang memang benar-benar pantas jadi istri. Simpel kan? Dia harus bisa jadi benteng pertama dari sisi apapun bagi anak-anaknya, karena (mungkin) tugas suami adalah mencari nafkah (cenderung keluar).”
Kalo pendapat Zubair, “… Sopan, cukup ekspresif, pandai komunikasi, wajah lumayan cantik, kulitnya putih kalo bisa enn sabar. Bahkan kalo ada sih yang ilmu keislamannya baik + akhlaknya baik, jadi bisa ngingetin kita kalo salah…”
Namun kini, kondisi yang meminta kehadiran wanita di dunia kerja tak bisa dihindari. Ada aja akhwat yang sudah kerja di kantoran, menjadi buruh pabrik, atau pengen kerja meski udah merit. Gimana dengan akhwat model gini?
Kalo buat pytm, “… pengennyah sih punya istri tuh di rumah ajah. Meski bisa dongkrak ekonomi dalam negeri, tapi tetep ajah amanah di rumah lebih gede. Boleh kerja tapi di sekitar rumah. Ga boleh jauh. Trus yang ringan. Jadi guru TK ato apalah…”
Sobat, sosok FBI alias female bidikan ikhwan sepertinya nggak harus punya kelebihan secara fisik, status sosial, suku, status pendidikan, atau dandanan. But, nggak berarti cuek banget, hanya saja bukan prioritas. Itu aja kok. Nggak lebih.
***
Syakhsiyahmu yang Kumau
Bagi bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasal?
Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.
Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!
Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits : “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M. Fauzhil Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’).
Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal : cantik, kaya, shalehah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, shalehah, kaya dan cantik. Yeee… itu mah sama aja atuh!
Ups! Maksute relakanlah predikat shalehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita shalehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!
Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
***
Jangan Egois Donk!
Allah SWT berfirman : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nûr [24] : 26).
Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah RA menjadi istri Nabi SAW. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang shalehah, kita juga kudu shaleh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushala yang shaleh. Tul nggak sih?
Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?
Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.
Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri shalehah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?
So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang shaleh/shalehah. Mau dong? Yuuuk!

Rahasia QS. An-Nur: 26 tentang Jodoh









”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal r.a. dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasullullah SAW. dan para shahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah dikalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik; jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan. Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi perpecahan diantara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat yang menunjukkan kepada kaum muslimin bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau, yaitu ‘Aisyah r.a.

Jika kita hubungkan dengan kehidupan kita saat ini, ayat ini menunjukkan bahwa sebenarnya setiap orang pasti ada pasangannya (jodohnya) masing-masing, yaitu yang sesuai dengan tingkatannya (kufu’nya). Sesuai dengan tingkatan yang saya maksud adalah setara jumlah kebaikannya, jumlah kekurangannya, setara ilmunya (kealimannya), setara dosa-dosanya baik yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan (Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi). Jadi, seorang laki-laki ahli maksiyat sebaiknya tidak perlu memimpikan seorang santri putri yang suci, atau seorang wanita nakal tidak perlu memimpikan seorang ustad yang baik.
Namun, jika kenyataannya tidak selalu demikian dalam pandangan kita, wallahu a‘lam. Allah lebih tahu apa yang sebaiknya terjadi, apa yang baik buat hamba-Nya. Meski kadang-kadang kita tidak bisa menalarnya, karena yang kita ketahui cuma sedikit.
Berkenaan dengan masalah jodoh ini, saya ingin menyarankan kepada teman-teman yang masih lajang (termasuk saya sendiri, hehehe.. 

untuk mendambakan seorang yang tingkatannya lebih baik dari kita. Hal ini akan memotivasi kita untuk memperbaiki diri dan berusaha mencapai tingkatan yang sama dengan dambaan kita tadi agar Allah merestui dan kemudian menjodohkan kita dengannya, amin.

Jika Kau Menjadi Istriku Nanti


Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, “Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu,” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku” dan “bla…bla…bla…” Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, “Aih…aih…, abang bisa aja.” Onde mande, rancak bana !!!
Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui ‘ancaman’ hanya karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi, “Jangan macem-macem lu, gue punya nih!” Amboi… belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.
Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat.
Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realita yang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si Pencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?
Nah…
Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita? Pusying… pusying… gimana caranya ya? Ih nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta’aruf. Apa sih yang harus dilakukan dalam ta’aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti diatas?
Ta’aruf sering diartikan ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta’aruf?
1. Keadaan KeluargaJelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang “Abi, boljug tuh kaya’ ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!” Lho? :D
2. Harapan dan Prinsip HidupWarna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, “Ya Allah… suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya…,” hush…! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?
3. Kesukaan dan Yang Tidak DisukaiDari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa.
4. Ketakwaan Calon PasanganApa yang terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai ‘KETAKutan WAlimahAN’ :DKarena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yang begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’
Inget lho, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, karena alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya buanyak buanget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?”
Wah…, kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? Nah lho…!!!
Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak, ‘jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?’
Ya akhi wa ukhti fillah,
Semoga antum segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada air mata yang menetes, semoga itu adalah air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT karena Ia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya, aamiin allahumma aamiin.
Barakallahulaka barakallahu’alaika wajama’a bainakuma fii khairin.
Wallahu a’lam bishowab,
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

Indahnya Berta'aruf cara Islami



Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.
Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah,:
1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.
2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.
3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.
4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.
5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.
6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.
7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.
Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.
Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..
Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin

Hadits dan Ayat Alqur’an Tentang Pernikahan


“Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang
isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga
memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka
Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih &
sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari
isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah
dosa-dosa dari segala jemari keduanya” (HR. Abu Sa’id)

“Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah
berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang
diamalkan oleh jejaka (atau perawan)” (HR. Ibnu Ady
dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
 terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum21)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN
MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(An Nuur 32)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan,
 supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat49)

“Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu
 perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra32)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang,
kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar
menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang
baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki
yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”
(An-Nur 26)

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu
nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An
Nisaa : 4)

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka,
bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu :
berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan
menikah” (HR. Tirmidzi)

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duan (khalwat)
dengan seorang perempuan, karena pihak ketiga adalah
syaithan” (HR. Abu Dawud)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang
telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)

“Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat,
sebab syaithan menemaninya. Janganlah salah seorang di
antara kita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai
mahramnya” (HR. Imam Bukhari dan Iman Muslim dari
Abdullah Ibnu Abbas ra).

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang
wanita yang tidak disertai mahramnya, karena
sesungguhnya yang ketiga adalah syetan” (Al Hadits)

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang
sholihah” (HR. Muslim)

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau
senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia
(dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima
(lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan
kerusakan yang luas” ( H.R. At-Turmidzi)

“Barang siapa yang diberi istri yang sholihah oleh
Allah, berarti telah ditolong oleh-Nya pada separuh
agamanya. Oleh karena itu, hendaknya ia bertaqwa pada
separuh yang lain” (HR. Al-Hakim dan At-Thohawi)

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri,
apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila
diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga
harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al
Hadits)

“Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah : 1.
Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. 2.
Budak yang menebus dirinya dari tuannya. 3. Pemuda / i
yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang
haram” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)

“Wahai generasi muda! Bila diantaramu sudah mampu
menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih
terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang
mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu
sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah
kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku
bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah
umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan
sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah”
(HR. Bukhari)

“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang
hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling
hina adalah kematian orang yang memilih hidup
membujang” (HR. Abu Ya¡Â?la dan Thabrani)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang
siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih
lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan
terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang
yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah
akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan
menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau
akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan
akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu
dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita
karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya,
Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan
memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita
karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan
kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya
karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya
atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah
senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan
itu padanya” (HR. Thabrani)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya,
mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan
kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin
saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan
tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab,
seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk
wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah
bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang
karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan
kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR.
Muslim dan Tirmidzi)

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang
paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al
Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau
lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah,
maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi
wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

“Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang
sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad)

“Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu
Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij
dari An Nasa’i)

“Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor
kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Rasulullah Saw melarang laki-laki yang menolak kawin (sebagai alasan)
untuk beralih kepada ibadah melulu.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan)
dan sebaik-baik benda (perhiasan) adalah wanita (isteri) yang sholehah”. (HR. Muslim)

“Rasulullah Saw bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah
kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya,
jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda)
bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR. Ahmad)

“Seorang janda yang akan dinikahi harus diajak bermusyawarah
dan bila seorang gadis maka harus seijinnya (persetujuannya),
dan tanda persetujuan seorang gadis ialah
diam (ketika ditanya). “(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Kawinilah gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih sedap mulutnya
dan lebih banyak melahirkan serta lebih rela
menerima (pemberian) yang sedikit.”(HR. Ath-Thabrani)

“Janganlah seorang isteri memuji-muji wanita lain di hadapan
suaminya sehingga terbayang bagi suaminya seolah-olah dia
melihat wanita itu.” (HR. Bukhari)

“Seorang isteri yang ketika suaminya wafat meridhoinya maka
dia (isteri itu) akan masuk surga. “(HR. Al Hakim dan Tirmidzi)

“Hak suami atas isteri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami
dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati perintahnya
dan tidak ke luar (meninggalkan) rumah kecuali dengan ijin suaminya,
tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang
yang tidak disukai suaminya. “(HR. Ath-Thabrani)

“Tidak sah puasa (puasa sunah) seorang wanita yang suaminya
ada di rumah, kecuali dengan seijin suaminya. “(Mutafaq’alaih)
“Tidak dibenarkan manusia sujud kepada manusia, dan
kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan
memerintahkan wanita sujud kepada suaminya karena
besarnya jasa (hak) suami terhadap isterinya.”(HR. Ahmad)

“Apabila di antara kamu ada yang bersenggama dengan isterinya
hendaknya lakukanlah dengan kesungguhan hati. Apabila selesai
hajatnya sebelum selesai isterinya, hendaklah dia sabar menunggu
sampai isterinya selesai hajatnya. “(HR. Abu Ya’la)

“Apabila seorang di antara kamu menggauli isterinya,
janganlah menghinggapinya seperti burung
yang bertengger sebentar lalu pergi. “(HR. Aththusi)

“Seburuk-buruk kedudukan seseorang di sisi Allah pada
hari kiamat ialah orang yang menggauli isterinya dan isterinya
menggaulinya dengan cara terbuka lalu suaminya mengungkapkan
rahasia isterinya kepada orang lain. “(HR. Muslim)

“Sesungguhnya wanita seumpama tulang rusuk yang bengkok.
Bila kamu membiarkannya (bengkok) kamu memperoleh
manfaatnya dan bila kamu berusaha meluruskannya
maka kamu mematahkannya. “(HR. Ath-Thahawi)

“Talak (perceraian) adalah suatu yang halal yang
paling dibenci Allah. “(HR. Abu Dawud dan Ahmad)
“Ada tiga perkara yang kesungguhannya adalah kesungguhan (serius)
dan guraunya (main-main) adalah kesungguhan (serius), yaitu perceraian,
nikah dan rujuk. “(HR. Abu Hanifah)

“Apabila suami mengajak isterinya (bersenggama) lalu isterinya
menolak melayaninya dan suami sepanjang malam jengkel
maka (isteri) dilaknat malaikat sampai pagi. “(Mutafaq’alaih)
“Allah tidak akan melihat (memperhatikan) seorang lelaki yang
menyetubuhi laki-laki lain (homoseks) atau yang
menyetubuhi isteri pada duburnya. “(HR. Tirmidzi)