SEBUAH RENUNGAN DARI SEPENGGAL KISAH NYATA
Seorang preman mendapatkan hidayah mengenal manhaj Salaf. Dulu, ia
dibenci masyarakat karena suka mengganggu, gemar mabuk, berjudi,
mengganggu orang lain dan seabrek perilaku negatif lain yang merugikan
masyarakat. Namun tidak ada seorang pun yang berani menegurnya, karena
takut mendapatkan bogem mentah darinya.
Setelah mengenal dakwah Ahlu Sunnah ini, ia berubah menjadi orang yang
baik (shalih) dan alim, hanya saja masyarakat tetap tidak menyenanginya,
tetap membencinya, padahal ia sudah meninggalkan keburukanya dulu.
Kalau dulu masyarakat tidak berani menegurnya, sekarang malah berani
memarahi, bahkan menyidangnya pula. Apa pasalnya?
Ternyata kebencian tersebut dipicu dari sikap kaku dan keras orang
tersebut, juga kekurangpiawaiannya dalam membawa diri di masyarakat.Dulu
dibenci karena 'kepremanannya', sekarang dibenci karena
'keshalihan'nya…
Haruskah orang yang mengikuti manhaj Salaf menghadapi kebencian dari
masyarakat? Apakah itu merupakan sebuah resiko yang tidak terelakkan?
Adakah kiat khusus untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak
meminimalisirnya?
Benar, seseorang yang teguh memegang kebenaran, ia akan menghadapi
tantangan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Ulama Salaf
saja sudah terlebih dulu menghadapi tantangan. Para pengusung
kebenaran, apalagi di akhir zaman ini, akan tetap dihadang oleh
tantangan dimana kejahatan lebih mendominasi dunia dibandingkan
kebaikan.
Namun, yang perlu menjadi catatan di sini, apakah kebencian yang muncul
di banyak masyarakat kepada para pengikut manhaj Salaf, murni
diakibatkan keteguhan mereka dalam berpegang teguh terhadap prinsip,
atau disebabkan factor lain, seperti tidak bisa membawa diri dengan baik
di tengah masyarakat, kurang cakap dalam dalam menjelaskan prinsip dan
kurang pandai dalam menetralisir pandangan miring masyarakat terhadap
prinsip-prinsip Ahlus Sunnah (dakwah Salaf) dengan penerapan akhlak
mulia? Atau mungkin juga karena enggan melakukan sesuatu yang dikira
terlarang, padahal sebenarnya boleh atau justru disyariatkan?
Berdasarkan pengamatan terbatas penulis, juga kisah-kisah nyata yang
masuk, nampaknya faktor terakhir lebih dominant dalam melahirkan
antipati masyarakat.
Dalam makalah sederhana ini, dengan memohon taufik dari Allâh semata,
penulis berusaha memaparkan peran besar akhlak mulia dalam meredam
kebencian masyarakat terhadap pengusung kebenaran, bahkan dalam menarik
mereka untuk mengikuti kebenaran tersebut.
PERINTAH UNTUK BERAKHLAK MULIA
Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia,
tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya.
Begitu banyak dalil dalam al-Qur'ân maupun Sunnah yang memerintahkan
kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:
Firman Allâh Azza wa Jalla tatkala memuji Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur [al-Qalam/ : 4]
Juga sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Pergaulilah manusia dengan akhlak mulia [HR. at-Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih]
APA ITU AKHLAK MULIA?
Banyak definisi yang disampaikan Ulama. Definisi yang cukup mewakili adalah:
بَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الْأَذَى وَاحْتِمَالُ الْأَذَى
Akhlak mulia adalah berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri ketika disakiti
Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:
1. Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.
2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.
3. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.
APA MAKSUD DAKWAH DENGAN AKHLAK?
Sebagian kalangan masih menganggap dakwah hanya berbentuk penyampaian
materi secara lisan. Padahal sebenarnya dakwah meliputi aspek lainnya
juga; semisal praktek nyata, memberi contoh amalan, dan akhlak mulia,
atau yang lazim dikenal dengan dakwah bil hâl. Bahkan justru yang
terakhir inilah yang lebih berat dibanding dakwah dengan lisan dan lebih
mengena sasaran.
Banyak orang yang pintar berbicara dan menyampaikan teori dengan lancar,
namun hanya sedikit yang menjalankan ucapannya dalam praktek nyata. Di
sinilah terlihat urgensi adanya qudwah hasanah (potret keteladanan yang
baik) di tengah masyarakat, yang tugasnya adalah menerjemahkan
teori-teori kebaikan dalam amaliah nyata, sehingga teori tersebut tidak
selalu hanya terlukis dalam lembaran-lembaran kertas.
Jadi, dakwah dengan akhlak mulia maksudnya mempraktekkan akhlak mulia
sebagai sarana untuk mendakwahi umat manusia kepada kebenaran.
AKHLAK MULIA DAN DAMPAK POSITIFNYA DALAM DAKWAH
Di atas telah dijelaskan bahwa definisi akhlak mulia ialah berbuat baik
kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya serta menahan
diri ketika disakiti. Berdasarkan definisi ini berarti cakupan akhlak
mulia sangatlah luas, dan tidak mungkin dipaparkan satu persatu dalam
makalah singkat ini. Karena itulah penulis hanya akan membawakan
beberapa contoh saja. Semoga yang sedikit ini bisa mendatangkan berkah
dan para pembaca dapat menganalogikannya kepada contoh-contoh yang lain.
1. Gemar Membantu Orang Lain.
Banyak nash dalam al-Qur'ân maupun Sunnah yang memotivasi kita untuk
mempraktekkan karakter mulia ini. Di antaranya, sabda Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ؛ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Allâh akan membantu seorang hamba jika ia membantu saudaranya [HR. Muslim no. 6793dari Abu Hurairah]
Sifat gemar membantu orang lain akan membuahkan dampak positif yang luar
biasa bagi keberhasilan dakwah pemilik karakter tersebut. Menarik untuk
kita cermati ungkapan Ummul Mukminin Khadîjah Radhiyallahu anhuma
tatkala beliau menghibur suaminya; Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang ketakutan dan merasa khawatir tatkala wahyu turun pertama
kali pada beliau. Khadîjah Radhiyallahu anhuma berkata:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا؛ إِنَّكَ لَتَصِلُ
الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي
الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
Demi Allâh tidak mungkin! Allâh tidak akan pernah menghinakanmu. Sebab
engkau selalu bersilaturrahmi, meringankan beban orang lain, memberi
orang lain sesuatu yang tidak mereka dapatkan kecuali pada dirimu, gemar
menjamu tamu dan engkau membantu orang lain dalam musibah-musibah [HR.
al-Bukhâri no. 3 dan Muslim no. 401]
Maksud perkataan Khadîjah Radhiyallahu anhuma di atas, sesungguhnya
engkau Muhammad, tidak akan ditimpa sesuatu yang tidak kau sukai, karena
Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan dalam dirimu berbagai akhlak mulia
dan karakter utama. Lalu Khadîjah Radhiyallahu anhuma menyebutkan
berbagai contohnya, di antaranya gemar membantu orang lain.
Karakter ini sangat membantu keberhasilan dakwah. Tatkala seseorang
dalam keadaan sangat membutuhkan bantuan, kemudian ada orang yang
membantunya, jelas susah baginya melupakan kebaikan orang tersebut. Dia
akan terus mengingat jasa baik itu, sehingga manakala kita menyampaikan
sesuatu padanya, minimal dia akan lebih terbuka untuk mendengar ucapan
kita, bahkan sangat mungkin dia akan menerima masukan dan nasehat kita.
Sebagai salah satu bentuk 'berbalas budi' atas kebaikan yang kita
sodorkan kepadanya.
Karena itu, seyogyanya kita berusaha menerapkan akhlak mulia ini dalam
kehidupan sehari-hari. Tatkala ada tetangga yang meninggal dunia,
kitalah yang pertama kali memberikan sumbangan belasungkawa kepada
keluarganya. Manakala ada yang dioperasi karena sakit; kita turut
membantu secara materi semampunya. Saat ada yang membutuhkan bantuan
keuangan, kita berusaha memberikan hutangan pada orang tersebut. Begitu
seterusnya.
Jika hal ini rajin diterapkan, lambat laun akan terbangun jembatan yang
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam hati orang-orang yang pernah kita
bantu, sehingga dakwah salafiyah yang kita sampaikan lebih mudah untuk
mereka terima.
2. Jujur Dalam Bertutur Kata
Sifat jujur merupakan salah satu karakter mulia yang amat dianjurkan dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla berfiman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allâh dan ucapkanlah perkataan yang benar [al-Ahzâb/33:70]
Kejujuran bertutur kata dalam kehidupan sehari-hari membuahkan
kepercayaan masyarakat terhadap apa yang kita sampaikan, bukan hanya
dalam perkara duniawi, namun juga dalam perkara agama.
Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu anhu bercerita, bahwa tatkala turun firman Allâh Azza wa Jalla ,
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Berilah peringatan (wahai Muhammad) kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. [asy-Syu'ara/26:214]
Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam keluar dari rumahnya lalu menaiki
bukit Shafa dan berteriak memanggil, "Wahai kaumku kemarilah!".
Orang-orang Quraisy berkata, "Siapakah yang memanggil itu?". "Muhammad",
jawab mereka. Mereka pun berduyun-duyun menuju bukit Shafa.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, "Wahai bani Fulan,
bani Fulan, bani Fulan, bani Abdi Manaf dan bani Abdil Mutthalib.
Andaikan aku kabarkan bahwa dari kaki bukit ini akan keluar seekor kuda,
apakah kalian mempercayaiku?".
Mereka menjawab, "Kami tidak pernah mendapatkanmu berdusta!".
"Sesungguhnya aku mengingatkan kalian akan datangnya azab yang sangat
pedih!" , lanjut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam [HR.
al-Bukhâri no. 4971 dan Muslim no. 507 dengan redaksi Muslim]
Lihatlah bagaimana kejujuran Rasûlullâh dalam bertutur kata menjadi
dalil dan bukti akan kebenaran risalah yang disampaikannya.
Seorang Muslim yang telah dikenal di masyarakatnya jujur dalam bertutur
kata, berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan berita, akan
disegani. Ucapannya akan didengar. Dan ini modal yang amat berharga
untuk berdakwah. Didengarkannya apa yang kita sampaikan itu sudah
merupakan suatu langkah awal yang menyiratkan keberhasilan dakwah.
Andaikan dari awal saja, masyarakat sudah enggan mendengar apa yang kita
sampaikan, karena kita telah dikenal, misalnya mudah menyebarkan isu
yang belum jelas kebenarannya, tentu jalan dakwah berikutnya akan
semakin terjal.
3. Bertindak Ramah Terhadap Orang Miskin Dan Kaum Lemah
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ؛ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ
Tolonglah aku untuk mencari (dan membantu) orang-orang lemah.
Sesungguhnya kalian dikaruniai rezeki dan meraih kemenangan lantaran
adanya orang-orang miskin di antara kalian". [HR. Abu Dâwud no. 2594,
dan sanadnya dinilai jayyid (baik) oleh an-Nawawi]
Masih banyak hadits lain, juga ayat al-Qur'an yang memerintahkan kita
untuk berbuat baik, berlaku ramah dan membantu orang-orang lemah juga
miskin. Bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditegur
langsung Allâh Azza wa Jalla tatkala suatu hari beliau bermuka masam dan
berpaling dari seorang lemah yang datang kepada beliau; karena saat itu
beliau sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy. Kejadian itu
Allâh Azza wa Jalla abadikan dalam surat 'Abasa. Setelah itu, Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat memuliakan orang lemah tadi dan
bahkan menunjuknya sebagai salah satu muadzin di kota Madinah. Dialah
'Abdullâh Ibn Ummi Maktûm Radhiyallahu anhu .
Bersikap ramah dan perhatian terhadap orang-orang lemah menguntungkan
dakwah dari dua arah; sisi orang-orang lemah tersebut, juga sisi
masyarakat yang menyaksikan sikap mulia yang kita praktekkan tersebut.
Adapun sisi pertama, keuntungannya: orang-orang lemah tersebut akan
mudah untuk didakwahi dan diajak kepada kebenaran; apalagi pada umumnya
mereka memang lebih mudah untuk didakwahi. Perlu dicatat di sini, apa
yang disebutkan para ahli sejarah tentang salah satu isi dialog antara
Abu Sufyan dan kaisar Romawi; Heraklius. Tatkala Abu Sufyan ditanya
tentang siapakah pengikut Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia
menjawab, "Orang-orang lemah dan kaum miskin". Heraklius pun menimpali,
"Begitulah kondisi pengikut para nabi di setiap masa".
Ketika menafsirkan Surat asy-Syu'ârâ ayat ke-111, Imam Abu Hayyân
rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang lemah lebih banyak untuk
menerima dakwah dibanding orang-orang yang terpandang. Sebab, otak
mereka tidak dipenuhi dengan keindahan-keindahan duniawi, sehingga
mereka lebih mudah mengetahui al-haq dan menerimanya dibanding
orang-orang terpandang.
Sedangkan keuntungan kedua, dipandang dari sisi ketertarikan orang-orang
yang menyaksikan praktek akhlak mulia tersebut, termasuk orang-orang
yang memiliki status sosial tinggi. Masyarakat cenderung lebih respek
kepada ulama atau da'i yang rendah hati serta akrab dengan orang-orang
miskin dan lemah dibandingkan kepada penceramah yang hanya berada dalam
lingkaran kehidupan orang-orang kaya dan pemilik kekuasaan. Sebab
masyarakat menganggap da'i tersebut cenderung lebih tulus. Adapun
penceramah (Ulama) yang hanya beramah-tamah dengan para pejabat dan
konglomerat; masyarakat akan bertanya-tanya tentang motif kedekatan
tersebut? Apakah karena mengharapkan harta duniawi atau apa?
Keterangan ini sama sekali bukan untuk mengecilkan urgensi mendakwahi
orang-orang yang memiliki kedudukan , namun penulis hanya ingin
mengajak para pembaca untuk membayangkan alangkah indahnya andaikan para
da'i dan Ulama menyeimbangkan antara kedekatannya dengan orang-orang
terpandang dan kedekatannya dengan orang-orang lemah yang kekurangan,
dengan satu tujuan lurus, mengajak mereka semua ke jalan Allâh Azza wa
Jalla .
Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah masuk Islamnya
'Adi bin Hâtim ath-Thâ'I, seorang raja terpandang di negeri Arab. Ketika
mendengar munculnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
pengikutnya dari hari kehari semakin bertambah, membuncahlah dalam
hatinya kebencian dan rasa cemburu atas kemunculan raja pesaing baru,
hingga datanglah suatu hari dimana Allâh Azza wa Jalla membuka hatinya
untuk mendatangi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Begitu mendengar kedatangan 'Adi, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang saat itu sedang berada di masjid dengan para Sahabatnya
segera bergegas menyambut kedatangannya dan menggandeng tangannya
mengajak berkunjung ke rumah beliau. Di tengah perjalanan menuju rumah,
ada seorang wanita lemah yang telah lanjut usia memanggil-manggil
beliau. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berhenti dan
meninggalkan 'Adi guna mendatangi wanita tersebut. Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam cukup lama berdiri melayani kebutuhan si
wanita. Melihat tawadhu' Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , 'Adi
bergumam dalam hatinya, "Demi Allâh, ini bukanlah tipe seorang raja!".
Setelah selesai urusannya dengan wanita tua tersebut, Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggamit tangan 'Adi melanjutkan
perjalanan. Sesampai di rumah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bergegas mengambil satu-satunya bantal duduk yang terbalut kulit dan
berisikan sabut pohon kurma, lalu mempersilahkan 'Adi untuk duduk di
atasnya. 'Adi pun menjawab, "Tidak, duduklah engkau di atasnya". "Tidak!
Engkaulah yang duduk di atasnya" sahut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam . Akhirnya, 'Adi duduk di atas bantal tersebut dan Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas tanah. Saat itu, 'Adi
kembali bergumam dalam hatinya, "Demi Allâh, ini bukanlah karakter
seorang raja!".
Lantas terjadi diskusi antara keduanya, hingga akhirnya 'Adi pun
mengucapkan dua kalimat syahadat; menyatakan keislamannya.
Lihatlah bagaimana 'Adi begitu terkesan dengan kerendahan hati
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengan sabar melayani
kepentingan seorang wanita tua dan lemah di tengah-tengah perjalanannya
mendampingi seorang raja besar! Goresan kesan baik yang mengendap dalam
hatinya terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , merupakan titik
awal ketertarikan sang raja untuk memeluk Islam.
Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah kisah nyata tentang salah
seorang da'i muda Ahlus Sunnah di sebuah kota di tanah air. Dengan
usianya yang masih sangat hijau, dalam waktu singkat, sebagai pemain
baru di kotanya, berkat taufik dari Allâh Azza wa Jalla , dia telah
berhasil mengambil hati banyak masyarakat di kota tersebut. Bahkan
pernah pada suatu momen, ia diundang untuk mengisi suatu acara
kemasyarakatan di sebuah komunitas yang sebenarnya di situ banyak
tokoh-tokoh agama senior. Tatkala berusaha menghindar dengan alasan
banyak kyai di situ, orang yang mengundang menjawab, "Kalau yang mengisi
pengajian kyai A, sebagian masyarakat tidak mau datang, dan kalau yang
diundang kyai B, yang mau datang juga hanya sebagian. Tapi kalau yang
mengisi panjenengan, mereka semua mau datang!". Ketika penulis cermati,
ternyata salah satu rahasia kecintaan masyarakat terhadap da'i tersebut
yaitu keramahannya kepada siapapun, apalagi terhadap orang-orang
'kecil'. Dia menyapa tukang parkir, tukang sapu, orang tidak punya,
bersalaman dengan mereka dan tidak segan-segan untuk bertanya tentang
keadaan keluarga mereka dan anak-anaknya!
4. Santun Dalam Menyampaikan Nasehat, Sambil Memperhatikan Kondisi Psikologis Orang Yang Dinasehati.
Dari Abu Hurairah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Ucapan yang baik adalah sedekah [HR. al-Bukhâri no. 2989 dan Muslim no. 2332]
Memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan psikologis seseorang
sangat menentukan keberhasilan dakwah. Penulis pernah mendapatkan cerita
dari saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan
seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam
tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan
pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat
dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menangkis, "Ya, itukan cuma
lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata
kosong dan rapuh!". Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang
awam tadi langsung berubah dan terdiam.
Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada
kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita 'menabrak' langsung lawan
bicara kita. Bukankah itu akan mengakibatkan dakwah kita sulit untuk
diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur
pembicaraannya, lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita
sampaikan?
Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, "Betul Pak, pembangunan
fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat
untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Namun alangkah indahnya jika
pembangunan fisik tersebut diiringi pula dengan pembangunan mental
masyarakat, sehingga timbullah keseimbangan antara dua sisi tersebut".
Kita bisa mengambil suri teladan dari metode Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menasehati para Sahabat.
Abu Umamah Radhiyallahu anhu bercerita, "Suatu hari ada seorang pemuda
yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,
"Wahai Rasûlullâh, izinkan aku berzina!". Orang-orang pun bergegas
mendatanginya dan menghardiknya, mereka berkata, "Diam kamu, diam!".
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, "Mendekatlah". Pemuda
tadi mendekati beliau dan duduk.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, "Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?".
"Tidak demi Allâh, wahai Rasul" sahut pemuda tersebut.
"Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai".
"Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?".
"Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!".
"Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai".
"Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?".
"Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!".
"Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai".
"Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?".
"Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!".
"Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai".
"Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?".
"Tidak, demi Allâh, wahai Rasul!".
"Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai".
Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di
dada pemuda tersebut sembari berkata, "Ya Allâh, ampunilah
kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya".
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk
berbuat zina". [HR. Ahmad XXXVI/545 no. 22211 dan sanad shahîh].
Cermatilah bagaimana Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
langsung menyalahkan pemuda tadi. Namun, dengan sabar beliau mengajak
pemuda tadi untuk berpikir sambil memperhatikan kondisi psikologisnya.
Mungkin, sebagian kalangan yang kurang paham menilai bahwa metode
tersebut terlalu panjang dan bertele-tele. Namun lihatlah apa hasilnya?
Jalan dakwah memang panjang dan membutuhkan kesabaran.
Tidak ada salahnya, kita kembali memutar rekaman perjalanan hidup kita
dahulu sebelum mengenal dakwah Salaf dan proses perkenalan kita dengan
manhaj yang penuh dengan berkah ini. Apakah dulu serta-merta sekali
diomongi, kita langsung meninggalkan keyakinan yang telah berpuluh tahun
kita pegangi? Atau melalui proses panjang yang penuh dengan lika-liku?
Dengan merenungi masa lalu kelam sebelum mendapat hidayah, dan
bahwasanya kita memperolehnya secara bertahap, kita akan terdorong untuk
mendakwahi orang lain juga dengan hikmah, nasehat yang bijak, serta
secara bertahap. Demikian keterangan yang disampaikan Syaikh 'Abdur
Rahmân as-Sa'di rahimahullah ketika beliau menafsirkan firman Allâh Azza
wa Jalla :
كَذَلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ اللّهُ عَلَيْكُمْ
Begitu pulalah keadaan kalian dahulu, lalu Allâh melimpahkan nikmat-Nya pada kalian. [an-Nisâ/4: 94]
Tidaklah mudah, mengajak seseorang meninggalkan ideologi lamanya untuk
menganut sebuah keyakinan baru. Maka, langkah awal yang ditempuh,
buatlah ia ragu akan ideologi lamanya, lalu secara bertahap kita
jelaskan keunggulan (keistimewaan, kebenaran) ideologi baru yang akan
kita tawarkan padanya. Dengan berjalannya waktu, dengan izin Allâh Azza
wa Jalla , sedikit demi sedikit ideologi lama akan ditinggalkannya,
kemudian beralih ke ideologi yang baru.
5. Bersifat Pemaaf Terhadap Orang Yang Menyakiti Dan Membalas Keburukan Dengan Kebaikan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan, serta jangan pedulikan orang-orang jahil [al-A'râf/7:199]
Potret praktek akhlak mulia ini dalam kehidupan Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam amatlah banyak, baik dengan sesama Muslim, maupun
dengan para musuh beliau dari kalangan orang-orang kafir dan kaum
musyrikin.
Di antara contoh jenis pertama, kejadian yang dikisahkan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu :
كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ فَأَدْرَكَهُ
أَعْرَابِيٌّ فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى
صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ
أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ ثُمَّ قَالَ:
"مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ!" فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ
فَضَحِكَ ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ
Suatu hari aku berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
saat itu beliau mengenakan pakaian (kain) buatan Najran yang tepinya
kasar. Tiba-tiba datanglah seorang Arab badui dari belakang dan menarik
keras kain beliau, hingga aku melihat di pundaknya tergaris merah bekas
kasarnya tarikan orang itu, sembari berkata, "Berilah aku sebagian dari
harta yang Allâh berikan padamu!". Beliau pun menengok kepadanya sembari
tersenyum lalu memerintahkan agar ia diberi sebagian harta". [HR.
al-Bukhâri no. 3149 dan Muslim no. 2426]
Contoh jenis kedua antara lain, kejadian yang dikisahkan ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :
Suatu hari aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
"Wahai Rasûlullâh, apakah engkau pernah melewati suatu hari yang lebih
berat dibandingkan hari peperangan Uhud?".
Beliau menjawab, "Aku telah menghadapi berbagai cobaan dari kaummu, dan
cobaan yang paling kurasa berat adalah kejadian di hari Aqabah. Saat
itu, aku menawarkan dakwah kepada Ibn Abd Yâlil bin Abd Kulal, namun ia
enggan menerimaku. Aku pun pergi dalam keadaan amat sedih dan tidak
tersadar melainkan tatkala sampai di Qarn ats-Tsa'âlib. Aku pun
mendongakkan kepala, ternyata di atasku ada awan yang menaungiku.
Kulihat di sana ada malaikat Jibril, ia memanggilku, "Sesungguhnya Allâh
telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka padamu. Allâh telah
mengirimkan untukmu malaikat gunung, supaya engkau memerintahkannya
melakukan apa saja kepada mereka sesuai kehendakmu". Malaikat gunung pun
memanggilku dan mengucapkan salam lalu berkata, "Wahai Muhammad, jika
engkau mau, akan kutimpakan dua gunung atas mereka!". Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam pun menjawab, "Justru aku berharap, semoga Allâh
berkenan menjadikan keturunan mereka generasi yang mau beribadah kepada
Allâh semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun". [HR.
Muslim no. 4629]
Jalan dakwah merupakan jalan yang terjal yang dipenuhi onak dan duri,
apalagi mengajak manusia meninggalkan keyakinan-keyakinan keliru yang
telah mendarah-daging puluhan tahun dalam diri mereka. Pasti akan muncul
tantangan, berupa cemoohan, makian, atau bahkan mungkin juga berbentuk
serangan fisik, dari pihak yang antipati terhadap dakwah. Ketika seorang
da'i menghadapi semua halangan tadi dengan ketegaran dan kesabaran,
tidak lupa diiringi dengan kelapangan dada, bahkan justru membalas
keburukan dengan kebaikan; insya Allâh dengan berjalannya waktu, hati
para 'lawan' dakwah akan luluh, atau minimal akan menyegani dakwah yang
penuh berkah ini dan tidak mudah untuk melontarkan tuduhan-tuduhan
miring.
Biografi para ulama Islam penuh dengan contoh praktek sifat mulia ini.
Penulis bawakan dua contoh dari kehidupan seorang ulama yang sangat
masyhur keteguhannya dalam mempertahankan prinsip dan ketegasannya dalam
meluruskan penyimpangan sekte-sekte sesat. Beliau adalah Syaikhul Islam
Ibn Taimiyyah rahimahullah.
Contoh pertama: Suatu hari segerombolan ahlul bid’ah menghadang Ibnu
Taimiyah rahimahullah lalu mereka memukuli beliau ramai-ramai dan pergi.
Tatkala kabar itu sampai ke telinga murid-murid dan para pendukung
beliau, mereka pun bergegas datang kepadanya, meminta izin guna membalas
dendam perbuatan jahat gerombolan ahlul bid’ah itu.
Namun Ibnu Taimiyah rahimahullah melarang mereka, seraya berkata, “Kalian tidak boleh melakukan hal itu”.
“Perbuatan mereka pun juga tidak boleh didiamkan, kami sudah tidak tahan lagi!”, tukas mereka.
Ibnu Taimiyah rahimahullah menimpali, “Hanya ada tiga kemungkinan; hak
untuk balas dendam itu milikku, atau milik kalian, atau milik Allâh.
Seandainya hak untuk balas dendam itu adalah milikku, maka aku telah
memaafkan mereka! Jika hak itu adalah milik kalian, seandainya kalian
tidak mau mendengar nasehatku dan fatwaku maka berbuatlah semau kalian!
Andaikan hak itu adalah milik Allâh, maka Dia k yang akan membalas jika
Dia k berkehendak!”.
Contoh kedua: Kisah makar ahlul bid'ah untuk menggantung Ibnu Taimiyyah.
Sultan Muhammad Qalawun rahimahullah termasuk penguasa yang mencintai
dan mendukung dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pada
suatu tahun, Sultan Qalawun pergi berhaji ke Baitullah. Selama
menjalankan ibadah haji, pemerintahan diserahkan kepada salah seorang
wakilnya, Sultan al-Muzhaffar Ruknuddin Piprus, yang merupakan murid
salah satu tokoh sufi abad itu, Nashr al-Manbaji, dikenal sangat benci
terhadap Ibnu Taimiyah.
Tatkala Piprus mengambil tampuk pemerintahan, ahlul bid’ah pun segera
menyusun makar agar pemerintah mengeluarkan surat perintah hukum mati
Ibnu Taimiyah rahimahullah. Namun sebelum makar mereka berhasil, Sultan
Qalawun terlebih dahulu kembali dari haji.
Mendengar berita adanya makar ahlul bid’ah tersebut, Sultan Qalawun pun
marah besar dan memerintahkan bawahannya untuk menghukum mati para
pelaku makar tersebut. Namun, begitu sampai berita itu ke telinga Ibnu
Taimiyah rahimahullah , ulama ini bergegas mendatangi Sultan Qalawun ,
sambil mengatkan, “Saya telah memaafkan mereka semua”. Akhirnya, Sultan
pun memaafkan mereka.
Setelah peristiwa itu, salah seorang musuh besar Ibnu Taimiyah
rahimahullah , Zainuddîn bin Makhlûf pun berkata, “Tidak pernah kita
mendapatkan orang setakwa Ibnu Taimiyah! Setiap ada kesempatan untuk
mencelakakannya, kami berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu
sebaik-baiknya. Namun, tatkala dia memiliki kesempatan untuk membalas,
malah memaafkan kami!”.
Begitulah orang-orang berjiwa besar menyikapi kejahatan orang lain, dan
lihatlah buahnya! Disegani lawan maupun kawan. Betapa banyak musuh
bebuyutan yang berubah menjadi teman seperjuangan, berkat taufiq dari
Allâh Azza wa Jalla , kemudian dengan ketulusan hati para da'i.
6. Menahan Diri Dari Meminta-Minta Apa Yang Dimiliki Orang Lain.
Sifat ini lebih dikenal para Ulama dengan istilah 'iffah atau 'afâf. Ini
merupakan salah satu karakter para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagaimana Allâh Azza wa Jalla beritakan dalam al-Qur'ân,
"يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً ".
"(Orang lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang
kaya; karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Engkau (wahai
Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta dengan
cara mendesak kepada orang lain". [Al-Baqarah: 273].
Tidak heran andaikan mereka memiliki karakter mulia tersebut; sebab
mereka dapat menyaksikan langsung Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri mempraktekkannya dan senantiasa memotivasi mereka untuk
mempraktekkannya juga. Di antara nasehat yang beliau sampaikan:
sabdanya,
"مَنْ يَسْتَعِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ".
"Barang siapa menahan diri untuk tidak minta-minta; maka Allâh akan
jadikan ia memiliki sifat 'iffah. Dan barang siapa menampakkan diri
berkecukupan; niscaya Allâh akan menjadikannya kaya". [HR. al-Bukhâri
no. 1427 dan Muslim no. 2421 dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anuh]
Lantas apa korelasi antara bersifat 'iffah dengan keberhasilan dakwah? Sekurang-kurangnya bisa ditinjau dari dua sisi:
Pertama: Orang yang menjaga diri dari meminta apa yang dimiliki orang
lain, juga tidak silau dengan apa yang dimiliki orang lain; akan
dicintai mereka. Sebab secara tabiat, manusia tidak menyukai orang lain
yang meminta-minta apa yang dimilikinya. Hal itu telah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam isyaratkan dalam nasehatnya untuk
seseorang yang bertanya, "Wahai Rasûlullâh, beritahukan padaku suatu
amalan yang jika kukerjakan, aku akan disayang Allâh dan dicintai
manusia!". Beliau pun menjawab:
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Bersifat zuhudlah di dunia, niscaya engkau akan disayang Allâh. Dan
bersikap zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka
mencintaimu [HR. Ibnu Mâjah no. 4177 dari Sahl bin Sa'd as-Sâ'idi
Radhiyallahu anhu dan sanadnya dinilai hasan oleh Imam an-Nawawi
rahimahullah]
Jika seorang da'i telah dicintai masyarakat, maka mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya.
Kedua: Orang yang memiliki sifat 'afâf, ketika ia berdakwah, masyarakat
akan menilai bahwa dakwahnya tersebut ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla ,
bukan karena mengharapkan balasan duniawi dari mereka. Saat mereka
merasakan ketulusan niat da'i tersebut; jelas -dengan izin Allâh Azza wa
Jalla - mereka akan lebih mudah untuk menerima dakwahnya. Allâh Azza wa
Jalla berfirman:
اتَّبِعُوا مَن لاَّ يَسْأَلُكُمْ أَجْراً وَهُم مُّهْتَدُونَ
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk [Yâsin/36:21]
KIAT MENUMBUHKAN SIFAT ‘AFAF
Sifat mulia ini memang cukup berat untuk ditumbuhkan dalam jiwa. Namun,
ada kiat khusus yang dapat membantu kita menumbuhkan karakter mulia ini
dalam diri kita. Yaitu, dengan melatih diri bersifat qona'ah yang
berarti menerima dan rela dengan berapapun yang diberikan Allâh Azza wa
Jalla . Sebab, sebenarnya sifat 'afâf merupakan buah dari sifat qona'ah.
Jika ada yang bertanya bagaimana cara membangun pribadi yang qona'ah?
Jawabannya, dengan melatih diri menyadari seyakin-yakinnya bahwa rezeki
hanyalah di tangan Allâh Azza wa Jalla dan yang kita dapatkan telah
dicatat Allâh Azza wa Jalla , serta tidak mungkin melebihi apa yang
telah ditentukan-Nya, walaupun kita pontang-panting dalam bekerja.
CATATAN PENTING
Ada tiga catatan penting di akhir makalah ini:
Pertama: Untuk merealisasikan akhlak mulia ini bukan berarti kita
'melarutkan' diri dalam ritual-ritual bid'ah yang ada di masyarakat
dengan alasan penerapan akhlak mulia!
Kita bisa bermasyarakat tanpa harus larut mengikuti yasinan ,
tahlilan , maulidan atau acara-acara bid'ah lainnya. Caranya? Dengan
selalu berusaha berpartisipasi dalam acara-acara kemasyarakatan yang
tidak mengandung unsur penyimpangan terhadap syariat, semisal kerja
bakti, pembuatan taman RT, kumpul bulanan RT, menjenguk tetangga yang
sakit, mengantar jenazah ke pemakaman, membantu orang yang sedang
ditimpa musibah, menebarkan salam, berbagi masakan ketika kita sedang
memasak makanan yang enak, membantu membawakan barang belanjaan
seseorang yang baru pulang dari pasar, membantu mendorong becak yang
keberatan bawaan ketika dia menaiki jalan yang menanjak dan lain
sebagainya.
Dengan berjalannya waktu, masyarakat akan paham bahwa ketidakikutsertaan
kita dalam ritual-ritual bid'ah bukan berarti karena kita sedang
mengucilkan diri dari mereka, namun karena hal itu berkaitan dengan
keyakinan yang 'tidak ada tawar-menawar' di dalamnya.
Kedua: Sebagian pihak 'mengolok-olok' beberapa da'i Ahlus Sunnah yang
tidak jemu-jemunya menekankan pentingnya akhlak mulia, dengan mengatakan
bahwa mereka telah tasyabbuh (menyerupai) salah satu kelompok ahlul
bid'ah yang terkenal berkonsentrasi dalam membenahi akhlak umat, namun
mengabaikan pembenahan akidah.
Jawabannya:
A. Barangkali pihak yang gemar 'mengolok-olok' itu lupa bahwa dakwah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah bukanlah dakwah yang hanya mengajak kepada
akidah yang benar saja. Namun, juga merupakan dakwah yang mengajak
kepada penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari; karena dakwah
Ahlus Sunnah tidak lain adalah agama Islam yang dibawa Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana Islam memadukan antara akidah,
ibadah dan akhlak. Imam Bisyr al-Hâfî rahimahullah berkata, "Sunnah
adalah Islam dan Islam adalah Sunnah".
Syaikh Dr. Ibrâhîm bin ‘Âmir ar-Ruhailî hafizhahullâh menjelaskan,
"Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang
mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan
akidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru, adanya prasangka
bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan akidah Ahlus
Sunnah saja, tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta
penunaian hak-hak kaum Muslimin" .
B. Seandainya ada sebagian ahlul bid'ah menonjol dalam pengamalan
beberapa sisi syariat Islam, apakah kita akan mengabaikannya hanya
karena mereka lebih terkenal dalam penerapannya?! Bukankah justru
sebaliknya kita harus berusaha membenahi diri dengan menutupi kekurangan
yang ada pada diri kita, sehingga kita benar-benar bisa menerapkan
ajaran Ahlus Sunnah secara komprehensif dan bukan sepotong-sepotong?!
Ketiga: Mungkin pula ada sebagian pihak lain yang ketika ia merasa jenuh
melihat kekurangan sebagian Ahlus Sunnah dalam penerapan akhlak Islami,
dia cenderung 'menjauhi' mereka dan memilih 'bergabung' dengan
kelompok-kelompok ahlul bid'ah yang terkenal menonjol dalam sisi itu.
Sikap ini juga kurang tepat, karena seharusnya dia berusaha membenahi
diri dengan memperbaiki akhlaknya yang belum baik, lalu berusaha
terus-menerus menasehati saudara-saudaranya sesama Ahlus Sunnah guna
memperbaiki akhlak mereka, bukan malah menjauh. Mari kita selesaikan
suatu masalah dengan cara yang tidak menimbulkan masalah lain!
PENUTUP
Sebenarnya masih banyak contoh lain penerapan akhlak mulia yang akan
membuahkan dampak positif bagi keberhasilan dakwah. Seperti bersifat
amanah dalam segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis, yang amat
disayangkan mulai luntur, bahkan sampai di kalangan mereka yang sudah
ngaji. Sehingga muncullah istilah "Bisnis afwan akhi!" , yang
intinya adalah berbisnis tanpa mengindahkan etika-etikanya. Dan
contoh-contoh lainnya yang dipandang perlu untuk disinggung. Semoga yang
sedikit ini dapat memberikan manfaat yang banyak dan menjadikan kita
selalu berupaya untuk berakhlak mulia di tengah masyarakat yang
jelas-jelas membutuhkan pembinaan Islami untuk menjadi lebih baik.
Wallâhul muwaffiq ilâ aqwamith tharîq... Wa shallallahu 'ala nabiyyina muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.