Lalilatul Qadar,, Kapan? Apa Cirinya? Apa Hadistnya?
Makna Lailatul Qadar
Sobat jatilovers, Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
Al-Qadar (bulan) yang disandarkan pada kalimat lailah (malam) dapat
diartikan sebagai keagungan, seperti firman Allah “Wama qadarullaha
haqqa qadrihi.” Ia mempunyai kekuasaan dan keagungan; seperti
diturunkannya Al-Quran, para malaikat, rahmat, barakah, ampunan, dan
juga lailatul Qadar. Semua ini sebagai bukti kemuliaan dan keagungannya.
Akan tetapi sebagian ulama berpendpat Al-Qadar disini berarti
kesempitan, seperti firman Allah: “Dan barang siapa yang di sempitkan
rizkinya” yang dimaksud dengan sempit di sini tersembunyi-nya malam dan
tidak ditentukan kapan turunnya. Atau bisa juga diartikan sebagai
kemampuan, bahwa sesungguhnya Allah mampu mengetahui apa yang akan
terjadi pada tahun itu, berdasarkan firman Allah: ”Fiiha yufraku kullu
amrin hakim”
Bangun pada malam lailatul Qadar merupakan sebuah keutamaan dimana
Allah akan membalasnya dengan kebaikan seribu bulan. Maka ibadah di
bulan Ramadhan lebih dianjurkan dari bulan-bulan yang lain.
Dari Abi Hurairah ra, dari Nabi Saw, ia berkata: “Barang siapa yang
berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan sadar akan
batasan dirinya, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang
telah lalu.” Adapun maksud perkataan beliau: “Barang siapa yang berpuasa
pada bulan Ramadhan dalam keadaan beriman” Yaitu percaya dengan janji
Allah akan pahala yang akan di berikan, karena Allah telah memberikan
pahala khusus bagi mereka yang berpuasa, sebagaimana di sebutkan dalam
Hadits Qudsi: “Semua perbuatan bani Adam diperuntukkan baginya kecuali
puasa, maka ia (puasa) adalah milikku dan aku akan membalasnya” dan
maksud dari kata (ihtisaaban) adalah; meminta keridlaan yang maha kuasa,
dan pahala-Nya, tidak ada yang manusia harapakan kecuali hal tersebut.
Al-Ihtisab berasal dari kata hasiba, seperti kata I’tidad dari kata
Al- ‘Adad, ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah pelaksanaan suatu
pekerjaan yang murni tidak mengharapkan apa-apa kecuali ridla-Nya.
“Ihtasabahu”karena waktu itu akan dihitung atau dihisab perbuatannya,
maka seakan-akan orang yang berpuasa-lah yang menentukan hasilnya.
Rasulullah bersabda: “Akan di ampuni segala dosanya yang telah lalu”
dalam hadis menunjukkan semua dosa secara keseluruhan, baik yang besar
maupun yang kecil. Akan tetapi para ulama telah bersepakat bahwa yang
dimaksud disini adalah dosa kecil, karena dosa besar tidak akan diampuni
kecuali dengan taubat Nasuha, dengan syarat-syarat sebagai berikut:
Menyesali apa yang telah ia perbuat, berniat kuat untuk tidak
mengulangnya kembali untuk melepaskan diri dari belenggu dosa, dan
mengembalikan semua hak kepada pemiliknya.
Nabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang yang berpuasa dan
berhak menerima penghapusan dosa yang telah lalu adalah mereka yang
berpuasa dengan penuh keimanan dan mawas diri, menjauhkan diri dari
riya, pamer dan perbuatan lain yang dapat mengurangi pahala ibadah,
bahkan menghilangkannya. Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada
umat-Nya untuk beribadah dengan ikhlas, jujur, selalu mendekatkan diri
kepada Tuhannya dengan hanya mencari ridlanya semata, tidak
menpersekutukannya dengan yang lain, “Barang siapa yang berharap bertemu
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia beramal saleh dan tidak
mempersekutukan-Nya dengan yang lain”
Bagi mereka yang menjalankan bangun malam dengan penuh keimanan dan
mawas diri, mengisinya dengan shalat tarawih, tahajud, membaca Al-Quran
dan memperbanyak dzikir dan do’a, akan mendapatkan pahala sekaligus
ampunan dari Allah untuk dosanya yang telah lalu.
Allah tidak memberitahukan datangnya malam Lailatul Qadar, akan
tetapi sebagian hadis telah menerangkan bahwa malam tersebut berada pada
malam ke sepuluh terakhir bulan Ramadhan, atau pada bilangan ganjil di
bulan Ramadhan. Adapun yang dimaksud dengan “ampunan” disini adalah
ampunan dari dosa-dosa kecil, Imam Nawawi berkata: “Para ulama telah
bersepakat bahwa dosa yang dihapus pada malam Lailatul Qadar adalah dosa
kecil, pendapat ini disetujui oleh Imam Haramain, dan di harapkan
pengampunan ini dapat meringankan dosa besar yang mereka miliki.
Sedangkan menurut imam Nasa’i, bagaimana ampunan tersebut dapat
menghapus dosa yang belum kita kerjakan? Jawabannya adalah sebagaimana
diriwayatkan dalam sebuah hadis, yang menggambarkan keadaan golongan
ahli Badar: “Lakukanlah apa yang dapat kalian lakukan, maka Allah akan
mengampuni kalian” Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa maksud
dari ampunan disini adalah penjagaan dari dosa besar, ada juga yang
berpendapat bahwa dosanya akan terampuni.
Apakah orang yang beribadah pada malam Ramadhan akan mendapatkan
pahala Lailatul Qadar? Atau kah pahala tersebut hanya diperuntukkan bagi
mereka yang mampu menyingkap peristiwa tersebut dengan pertanda yang
datang kepada mereka? Sebagian ulama seperti At-Tabari dan yang lainnya
mengatakan, pahala malam Lailatul Qadar akan diterima oleh mereka yang
mengisi malam tersebut dengan ibadah, sekalipun tidak ada pertanda
berarti yang membedakan malam tersebut dengan yang lainnya, dan tidak
tergantung pada alamat dan tanda-tanda yang mengikat.
WAKTU DAN TANDA-TANDA KEDATANGAN MALAM LAILATUL QADAR
Dari Ibnu Umar ra, ada beberapa orang sahabat Nabi Saw yang bermimpi
bahwa Lailaitul Qadar akan datang pada pada tujuh malam terakhir bulan
Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda: “Aku juga melihat ru’yah kalian pada
tujuh malam terakhir bulan tersebut. Maka barang siapa yang
menginginkannya, dapatkanlah malam tersebut pada tujuh malam terakhir”
Lailatul Qadar mempunyai kedudukan yang istimewa dalam Islam, karena
malam tersebut diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam tersebut turunlah para malaikat (termasuk malaikat Jibril)
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam tersebut akan
penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.
Seperti halnya kematian, malam Lailatul Qadar juga dirahasikan
keberadaannya oleh Allah supaya manusia mempergunakan seluruh waktunya
untuk beribadah dan mengingatnya dengan tetap mawas diri setiap saat,
selalu berbuat kebaikan dan taat kepada Tuhannya.
“Aku juga melihat Lailatul Qadar dalam mimpi seperti kalian yaitu
pada tujuh malam terakhir” (dengan mempergunakan kalimat Tawaata’a).
Hadis ini bersinggungan dengan sebuah hadis yang berbunyi: “Seseorang
telah melihat malam Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir bulan
Ramadhan, maka Nabi bersabda: “Dapatkanlah malam mulia itu, pada tujuh
malam terakhir” (Dengan mempergunakan kata Ra’a). Riwayat Muslim
menyatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir sedang
riwayat Bukhari ada yang melihat jatuh pada malam ketujuh dan ada yang
melihat sepuluh terakhir.
Karena perbedaan kalimat pada kedua hadis tersebut (dalam riwayat
Muslim mempergunakan kalimat Tawata’a sedangkan riwayat Bukhori tidak
mempergunakan kalimat tersebut), timbullah perbedaan pendapat di antara
para ulama dalam menentukan datangnya malam Lailatul Qadar, ada yang
mengatakan pada tujuh malam terakhir dan ada juga yang mengatakan
sepuluh malam terakhir. Padahal secara tidak langsung bilangan tujuh
masuk ke dalam sepuluh, maka Rasulullah pun menentukan bahwa malam
Lailatul Qadar jatuh pada tujuh malam terakhir, karena makna Tawaata’a
pada hadis yang diriwayatkan Muslim berarti Tawaafuq (sesuai atau sama).
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tujuh di sini
adalah tujuh malam terakhir bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis yang
diriwayatkan Ali ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dapatkanlah
Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya
kalian kehilangan hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian
melewatkan malam-malam terakhir bulan tersebut”
Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw
bersabda: “Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka
jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya” Dari berbagai
versi hadis yang ada, telah terbukti bahwa Lailatul Qadar jatuh pada
sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam dua
puluh dua dan paling akhir jatuh pada malam dua puluh delapan,
berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Ibnu Abbas
bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Dapatkanlah Lailatul Qadar pada
sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam Lailatul Qadar
sendiri jatuh pada malam ke sembilan, tujuh dan lima Ramadhan (bilangan
ganjil).
Dari riwayat hadis yang berbeda lahirlah pendapat para ulama yang
beragam (tidak kurang dari empat puluh pendapat). Malam Lailatul Qadar
mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak dapat kita kenali
kecuali setelah berlalunya malam tersebut. Salah satu ciri atau
keistimewaan tersebut adalah; terbitnya matahari seperti biasa akan
tetapi memancarkan cahaya redup (tidak bersinar terang seperti biasa),
berdasarkan sebuah hadis: dari Zur Bin Hubaisy, ia berkata: “Aku
mendengar Ubay Bin Ka’ab berkata: “Barang siapa yang bangun di tengah
malam selama satu tahun ia akan mendapatkan Lailatul Qadar” Ayahku
berkata: “Demi Allah tidak ada Tuhan selain dia, malam itu terdapat di
bulan Ramadhan, demi Tuhan aku mengetahuinya, tapi malam manakah itu?
Malam dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk bangun untuk beribadah.
Malam tersebut adalah malam ke dua puluh tujuh, yang ditandai dengan
terbitnya matahari berwarna putih bersih tidak bercahaya seperti
biasanya”.
Diriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah dari hadis Ibnu Abbas: “Ketika
Lailatul Qadar pergi meninggalkan, bumi tidak terasa dingin, tidak juga
panas, dan matahari terlihat berwarna merah pudar” dan dari Hadits
Ahmad: “Pada hari itu tidak terasa panas ataupun dingin, dunia sunyi,
dan rembulan bersinar” Dari hadis kedua kita dapat menyimpulkan bahwa
ciri-ciri tersebut hanya ada pada waktu malam hari.
Malam Lailatul Qadar bukanlah malam yang penuh dengan bintang yang
bersinar (sebagaimana diperkirakan orang) akan tetapi Lailatul Qadar
adalah malam yang mempunyai tempat khusus di sisi Allah. Dimana setiap
Muslim dianjurkan untuk mengisi malam tersebut dengan ibadah dan
mendekatkan diri padanya.
Imam Thabari mengatakan: “Tersembunyinya malam Lailatul Qadar sebagai
bukti kebohongan orang yang mengatakan bahwa pada malam itu akan datang
ke dalam penglihatan kita sesuatu yang tidak akan pernah kita lihat
pada malam-malam yang lain sepanjang Tahun, sehingga tidak semua orang
yang beribadah sepanjang tahunnya mendapat Lailatul Qadar” Sedangkan
Ibnu Munir mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menghukumi setiap
orang dengan bohong, karena semua ciri-ciri tersebut bisa dialami oleh
sebagian golongan umat, selayaknya karamah yang Allah berikan untuk
sebagian hambanya, karena Nabi sendiri tidak pernah membatasi ciri-ciri
yang ada, juga tidak pernah menafikan adanya karamah.
Ia meneruskan: Lailatul Qadar tidak selamanya harus diiringi
keajaiban atau kejadian-kejadian aneh, karena Allah lebih mulia
kedudukannya untuk membuktikan dan memberikan segala sesuatu sesuai
dengan kehendaknya. Sehingga ada yang mendapatkan malam Lailatul Qadar
hanya dengan beribadah tanpa melihat adanya keanehan, dan ada sebagian
lain yang melihat keanehan tanpa di sertai ibadah, maka penyertaan
ibadah tanpa disertai keanehan kedudukannya akan lebih utama di sisi
Tuhan.
Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa salah satu ciri datangnya
malam Lailatul Qadar adalah melihat segala sesuatu yang ada di bumi ini
tertunduk dan sujud ke hadirat-Nya. Sebagian lain mengatakan pada malam
itu dunia terang benderang, dimana kita dapat melihat cahaya
dimana-mana sampai ke tempat-tempat yang biasanya gelap. Ada juga yang
mengatakan orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar dapat mendengar
salam dan khutbahnya malaikat, bahkan ada yang mengatakan bahwa salah
satu ciri tersebut adalah dikabulkannya do’a orang yang telah
diberikannya taufik.
MALAM YANG DINANTIKAN
Para ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam kedua
puluh tujuh Ramadhan, pendapat ini lahir berdasarkan beberapa riwayat,
di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdah dan
‘Asim Bin Abi Najwad: keduanya mendengar Zur Ibnu Hubaisy berkata: “Aku
bertanya kepada Ubay Bin Ka’ab ra tentang datangnya malam Lailatul
Qadar” Kemudian aku meneruskan: “Sesungguhnya adikmu Ibnu Mas’ud pernah
berkata: “Barang siapa yang bangun pada tengah malam selama setahun maka
ia akan mendapatkan malam Lailatul Qadar?” Pada waktu itu Ubay
menjawab: “Ia (Ibnu Mas’ud) tidak ingin manusia hanya beribadah pada
malam itu saja, ia berkata seperti itu karena ia tahu bahwa malam
Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, yaitu
pada malam ke duapuluh tujuh, kemudian ia bersumpah bahwa malam Lailatul
Qadar benar-benar jatuh pada malam ke dua puluh tujuh” Kemudian aku
bertanya: “Apa dalil yang dapat membuktikan perkataanmu itu wahai Abu
Mundzir?” Ia menjawab: “Dengan ciri-ciri yang pernah Rasulullah
sebutkan, seperti terbitnya matahari dengan redup tanpa cahaya”
Sebenarnya dari hadis tersebut kita dapat menilai bahwa para sahabat
mampu melihat keberadaan malam Lailatul Qadar, akan tetapi kehati-hatian
dalam beribadah telah menumbuhkan keimanan dan mengembangkan ketaqwaan
dalam jiwa dan diri mereka, sehingga tertuanglah gerak ritmis ritual
keagamaan menghiasi setiap malam mereka dengan sujud dan tafakur,
berdzikir dan bertasbih tanpa mengenal lelah, hanya untuk menggapai
ridlonya.
Dalam hadis Abdullah Bin Mas’ud di atas disebutkan: “Barang siapa
yang bangun di malam hari selama setahun maka ia akan mendapatkan
Lailatul Qadar”. Hadis tersebut menghimbau seluruh manusia untuk tidak
hanya mengkhususkan malam Lailatul Qadar sebagai satu-satunya tempat
untuk beribadah, lebih dari itu ia menghimbau supaya manusia mengisi
setiap detik dari malam-malamya dengan ibadah, dan jangan membiarkan
malam-malam yang lain dalam tahun tersebut kosong tanpa diisi dengan
ibadah, dzikir dan taubat kepada-Nya. Seandainya manusia mengetahui
rahasia di balik malam Lailatul Qadar, malam yang jatuh pada malam dua
puluh tujuh Ramadhan!.
Telah disebutan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah ra tentang salah satu ciri datangnya malam Lailatul Qadar:
“Kami mengetahui datangnya malam Lailatul Qadar dari Rasulullah SAW,
ketika itu beliau bertanya: “Siapa diantara kalian yang pernah melihat
bulan pada waktu malam muncul seperti retak tempurungnya?” Dari hadis
tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Lailatul Qadar datang pada akhir
bulan Ramadhan, karena bulan dengan bentuk yang ditunjukkan Nabi tidak
datang kecuali pada akhir bulan.
Dari Abdullah Bin Anas bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apakah kamu
melihat malam Lailatul Qadar kemudian melupakannya? Allah telah
memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya kepadaku pada pagi harinya,
sehingga akupun tersujud di tanah yang becek dan berlumpur” Kemudian
beliau meneruskan “Hujan itu telah datang pada malam dua puluh tiga”
Rasulullah pun salat bersama kami, kemudian pergi begitu saja, sekalipun
tanah bercampur air masih tersisa di kening dan hidungnya, Abdullah Bin
Anas berkata: “Dua puluh tiga (malam dua puluh tiga Ramadhan)”
Adapun pendapat yang dianggap kuat adalah pendapat yang mengatakan
bahwa Lailatul Qadar jatuh pada hari ganjil sepuluh terakhir bulan
Ramadhan, dan dari hari ganjil itulah terpilih malam dua puluh tujuh.
Diriwayatkan oleh Abdurrazik dari Ibnu Abbas ia berkata: “Umar
memanggil para sahabat Rasulullah, kemudian menanyakan perihal malam
Lailatul Qadar pada mereka, maka mereka sepakat bahwa malam tersebut
jatuh pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Kemudian Ibnu Abbas
berkata: “Ketika itu aku mengatakan kepada Umar: “Sesungguhnya aku tahu
malam keberapakah itu” Kemudian umar bertanya: “Malam ke berapa?” Akupun
menjawab: “Malam ketujuh pertama bulan Ramadhan atau malam ketujuh pada
sepuluh terakhir bulan tersebut” Kemudian ia bertanya kembali: “Dari
mana kamu mengetahui hal tersebut?” Maka aku-pun menjawab: “Allah telah
menciptakan tujuh lapis langit, dan tujuh lapis bumi, tujuh hari, dan
masa terus bergulir dalam tujuh perputaran, manusia terbentuk dalam
tujuh bulan, bersujud sebanyak tujuh kali, begitu pula dengan thawaf
melempar jumrah dan sebagainya.”
Yang terpenting untuk selalu di ingat dan diperhatikan adalah bahwa
malam ini adalah malam yang penuh dengan keutamaan, kedudukannya sangat
mulia di sisi Tuhan, dimana seorang Muslim dianjurkan untuk mengisinya
dengan ibadah dan memperbanyak do’a terutama do’a yang terdapat dalam
hadis Aisyah RA: “Aku (Aisyah) berkata”: “Wahai Rasulullah
beritahukanlah kepadaku, apabila datang malam lailatul Qadar, do’a
apakah yang harus aku baca?” Bersabda Rasulullah “bacalah: “Ya Allah,
engkau adalah dzat yag maha pemaaf, maka maafkanlah semua dosa dan
salahku”
Dari Abi Hurairah ra, bahwasanya Nabi berkata: “Barang siapa yang
bangun untuk beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan
dan mawas diri, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu” Maka
ibadah yang ia lakukan pada malam itu sama pahalanya dengan ibadah
seribu bulan, dan do ‘a yang paling utama bagi seorang hamba pada malam
itu adalah memohon ampunan dan maaf dari Allah Tuhan seru sekalian alam.
Imam Sowiy berkata dalam tafsirnya: “Dan do’a yang paling utama pada
malam itu adalah memohon ampunan, maaf dan kesehatan kepada Tuhannya.”
Dan bagi orang yang membagi waktunya dalam sepanjang malam tersebut
untuk memilih dan memilah bacaan yang banyak pahalanya, seperti Ayat
kursi, ayat-ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, surat Al-Ikhlas,
memperbanyak istigfar dan shadaqoh, dan disebutkan: “Barang siapa yang
shalat Magrib dan Isya berjama ‘ah maka akan mendapatkan pahala seperti
pahala Lailatul Qadar.
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa orang yang mengerjakan
shalat Isya berjama’ah maka ia dianggap telah mendirikan shalat malam,
dan barang siapa yang mengerjakan shalat Subuh berjamaah maka ia
seakan-akan mendapatkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Dan barang siapa yang mengucapkan “laa ila ha illa Allah al Halim Al
Karim subhanallah rabbu as Samawati as Sab’I wa Rabbu Al ‘arsyi Al
‘adzim” sebanyak tiga kali maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang
yang mendapatkan pahala Lailatul Qadar. Beribadah dan mengisi setiap
malamnya dengan hati yang tulus, niat yang ikhlas, menyerahkan diri
kepada Tuhan secara lahir dan batin, karena Allah akan menerima ibadah
orang-orang yang bertakwa.
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang ditunggu dan diharapkan
kedatangannya dimana semua do’a akan diterima, dimana para maikat
diturunkan ke bumi, dimana pintu rahmat dibukakan bagi mereka yang
beriman dan beramal shaleh. Maka berbahagialah orang-orang yang dapat
mensucikan dirinya dari rasa dengki dan menenggelamkan diri dalam
shalat, shalawat, dalam dzikir dan do’a, memperbanyak membaca Al-Quran,
dan memohon ampunan pada dzat yang maha pengampun.
Dari Anas ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila datang
Lalilatul Qadar, turunlah Jibril dalam barisan para malaikat, mereka
mengucapkan salawat dan salam kepada hamba Tuhan (baik yang duduk maupun
berdiri) yang selalu berdzikir kepada Tuhannya.
Lailatul Qadar adalah hadiah yang Tuhan berikan untuk hambanya yang
Mukmin, dan hanya orang memperbanyak taubat, dzikir dan do’a lah yang
akan mendapatkannya.
(Disunting dari al-Shiyâm fî ‘l-Islam, karya Dr. Ahmad Umar Hasyim)
APA HADISTNYA??
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk meraih keutamaan
Lailatul Qadr.
Hadits tersebut adalah sebagai berikut:
عن ابن عباس : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال في
ليلة القدر : ليلة سمحة طلقة لا حارة و لا باردة تصبح شمسها صبيحها ضعيفة
حمراء
Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang Lailatul Qadr: “yaitu
malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak
begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan
nampak kemerah-merahan.”
Hadits ini dikeluarkan oleh:
- Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3693
- Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya No. 2192
- Imam Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 2680, 2802
- Imam Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, No. 40102
- Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 24052
- Imam Al ‘Uqaili dalam Adh Dhuafa, 2/147
Para ulama berselisih pendapat tentang shahih tidaknya hadits ini.
Pihak yang mendhaifkan antara lain:
- Imam Al Baihaqi mendhaifkan hadits ini. (Lihat Imam As Suyuthi, Ad Durul Mantsur, 8/581)
- Imam Al Munawi berkata:
فيه زمعة بن صالح المكى قال الذهبى : ضعفه أبو أحمد ، وأبو حاتم وغيرهما ، وفيه سلمة بن وهرام ضعفه أبو داود قال أحمد : له مناكير .
Dalam sanadnya terdapat Zam’ah bin Shalih Al Makki, berkata Adz
Dzahabi: “Didhaifkan oleh Abu Ahmad, Abu Hatim, dan selain mereka
berdua. Dalam sanadnya juga terdapat Salamah bin Wahram yang didhaifkan
oleh Abu Daud. Berkata Imam Ahmad: “Dia memiliki riwayat-riwayat
munkar.”(Faidhul Qadir, 5/505)
Sedangkan pihak yang menshahihkan di antaranya:
- Imam Al Bushiri mengatakan: rijaaluhu tsiqaat – para perawinya terpercaya. (Lihat Ittihaf Al Khairah, No. 2365)
- Imam Al Haitsami mengatakan: Rijaaluhu rijaal ats tsiqaat - para perawinya adalah perawi terpercaya. (Majma’ Az Zawaid, 3/175)
- Imam As Suyuthi menghasankannya. (Al Jami’ush Shaghir No. 7727, Faidhul Qadir, 5/505)
- Syaikh Al Albani menshahihkannya. (Shahihul Jami’ No. 5475)
Perselisihan ini lantaran, semua sanadnya terdapat dua rawi yang dinilai bermasalah, yakni:
1. Zam’ah bin Shalih
Umumnya para ulama mendhaifkan beliau dan meninggalkan haditsnya. Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengatakan: “Dhaiful hadits – haditsnya lemah.” Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dhaif.” Juga didhaifkan oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah. (Al Jarh wat Ta’dil, 3/624)
Imam Ibnul Jauzi mengatakan: “Ahmad, Yahya, dan Ar Razi
mendhaifkannya. An Nasa’i mengatakan: bukan orang yang kuat, dan banyak
kesalahannya. Ibnu Hibban mengatakan: Dia adalah orang shalih, tapi ada
keraguan, tidak tahu hadits, membuat kekeliruan, tidak paham, dan
kebanyakan haditsnya adalah munkar.” (Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhuafa wal Matrukin, No. 1281)
Imam Ibnu Khuzaimah mengatakan: “Dihatiku ada sesuatu terhadap
haditsnya.” As Saaji mengatakan: “Tidak bisa dijadikan hujjah dalam
hukum.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 3/293)
Imam Al Bukhari mengatakan: “Telah terjadi perselisihan tentang
haditsnya, pada akhirnya Ibnu Mahdi (yakni Abdurrahman bin Mahdi, pen) meninggalkan haditsnya.” (Tarikh Al Kabir, 3/451)
Imam Yahya bin Ma’in pernah mengatakan: “Shuwailihul Hadits – haditsnya agak baik.” ‘Amru bin ‘Ali mengatakan: “Dhaif.” (Imam Ibnu ‘Adi, Al Kamil fidh Dhu’afa Ar Rijaal, 3/229)
Imam Yahya bin Ma’in juga mengatakan: “Hadits Zam’ah tidak kuat, tapi dia lebih baik dibanding Shalih bin Abi Al Akhdhar.” (Imam ‘Uqaili, Adh Dhuafa, 2/94)
Tetapi sebagian imam ada yang mengambil hadits darinya seperti
Sufyan Ats Tsauri, Abdurrahman, Abu Daud, Bisyr As Sirri, Abu ‘Amru,
katanya: Jaaizul hadits ma’ad dha’fi – bersama kelemahannya, haditsnya boleh-boleh saja.
As Sa’di mengatakan: “Mutamasik – orang yang teguh.” (Ibid)
Ibnu ‘Adi mengatakan: “Barangkali pada sebagian
yang diriwayatkannya adalah ada keraguan, aku harap dia baik haditsnya
dan tidak apa-apa.” (Al Hafizh Ibnu Hajar,Tahdzibut Tahdzib, 3/293)
2. Salamah bin Wahram
Para ulama juga berselisih tentang beliau.
Abdullah bin Ahmad berkata: Aku bertanya kepada ayahku (Ahmad bin
Hambal), tentang Salamah bin Wahram, dia menjawab: “Zam’ah meriwayatkan
darinya hadits-hadits munkar, aku khawatir haditsnya itu adalah hadits
dhaif.” (Al Jarh wat Ta’dil, 4/175. Lhat juga Al Kamil, 3/338-339)
Sementara Yahya bin Ma’in dan Abu Zur’ah menyatkan: “tsiqah- terpercaya.” (Ibid)
Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Didhaifkan oleh Abu Daud, dan ditsiqahkan oleh yahya bin Ma’in dan Abu Zur’ah.” (Al Mughni fidh Dhuafa No. 2550)
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Shaduuq – jujur.” (Taqribut Tahdzib No. 2515)
Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “Aku harap dia tidak apa-apa.” (Mizanul I’tidal, 3/9)
Demikian tentang dua orang ini. Maka, pada dasarnya sanad hadits ini adalah dhaif karena
ada dua orang yang dibincangkan, yang membuat hilangnya kepastian atas
keabsahan hadits ini. Sedangkan dalam hal ini ada kaidah para ulama
hadits: “Al Jarh Al Mufassar muqaddamun ‘alal ta’dilil ‘Aam – kritikan terperinci mesti didahulukan dibanding pujian yang masih umum.”
Tetapi, hadits ini memiliki banyak syawahid (saksi) yang menguatkannya sehingga hilanglah kelemahannya.
Kami akan menyebutkan beberapa riwayat saja yang menguatkan hadits ini, di antaranya adalah:
1. Diriwayatkan dengan sanad yang shahih, oleh Ubai bin Ka’ab secara marfu’:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِي. هِيَ
اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ
وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ
يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui malam yang manakah itu, itu adalah malam yang pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan
kami untuk shalat malam, yaitu malam yang sangat cerah pada malam ke
27, saat itu tanda-tandanya hingga terbitnya matahari, pada pagi harinya
putih terang benderang, tidak ada panas.” (HR. Muslim No. 762)
2. Juga diriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
صُبْحَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَّمْسُ لَا شُعَاعَ لَهَا كَأَنَّهَا طَسْتٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ
Paginya Lailatul Qadr itu terbitnya matahari tidak ada panas seakan dia adalah bejana tembaga, sampai dia meninggi. (HR. Ahmad No. 21235, Abu Daud No. 1378)
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “shahih.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 21235), juga oleh Syaikh Al Albani. (Shahihul Jami’ No. 3754)
3. Diriwayatkan secara marfu’ pula dari Al Hasan Al Bashri dalam sebagian hadits-hadits mursalnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ليلة القدر ليلة بلجة سمحة ، تطلع الشمس ليس لها شعاع
Lailatul Qadr adalah malam yang terang dan penuh kemudahan, terbitnya matahari tidak ada panas.(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 7880, 9636)
Berkata Syaikh Al Albani: “isnaduhu shahih mursal – isnadnya shahih lagi mursal.” (As Silsilah Adh Dhaifah, 9/394)
4. Diriwayatkan oleh Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:
إني كنت أريت ليلة القدر، ثم نسيتها، وهي في العشر الأواخر، وهي طلقة بلجة لا حارة ولا باردة كأن فيها قمرا يفضح كواكبها، لا يخرج شيطانها حتى يخرج فجرها
Sesungguhnya saya diperlihatkan Lailatul Qadr, kemudian saya
lupa, itu terjadi pada sepuluh malam terakhir, saat itu malam yang
penuh kebaikan dan begitu terang, tidak panas dan tidak pula dingin,
seakan sinar rembulan membukakan bintang-bintang, syetan tidak keluar
sampai terbitnya fajar.(HR. Ibnu Hibban No. 3688, Mawarid Azh Zham’an No. 297, Ibnu Khuzaimah No. 2190. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih lisyawahidihi.)
Maka, hadits yang ditanyakan ini adalah shahih lighairih, karena banyaknya riwayat lain yang menguatkannya.
Namun yang terpenting bagi kita adalah bukan mengoleksi tanda-tanda Lailatul Qadr lalu sibuk dengan itu, tetapi hendaknya menyibukkan diri dengan amalan ibadah yang mesti kita lakukan saat itu.
Wallahu A’lam