Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH. Tampilkan semua postingan

Sabar , Ikhlas dalam perjalanan kepada Sang Maha Agung



Sepedih apapun engkau menangis,engkau tak akan menemukan sebuah senyuman jika engkau tak ikhlas utk rasa yang engkau jalani...

Setegar apapun dirimu, engkau tak akan merasa bahagia jika ternyata dalam ketegaranmu tak ada pula keikhlasan...

Semampu apapun engkau berusaha utk keindahan pada hatimu,jika dalam berusaha ternyata keikhlasanmu hanyakiasan,keindahan hatimu tetap tak akan engkau rasakan.”Ikhlas lah pada kehendak-Nya dan ingatlah siapa diri ini...yang tak mungkin berada dalam dunia,bila ALLAH AZZA WA JALLA tak mencintaimu...

Semua yg Allah SWT berikan kepada kita ,baik nikmat-Nya atau ujian-Nya..
Semata mata utk menguji keikhlasan hatimu.”.

Dalam kesakitan teruji kesabaran,
Dalam perjuangan teruji keikhlasan,
Dalam ukhuwah teruji ketulusan,
Dalam tawakkal teruji keyakinan..


Hidup ini amat indah jika ALLAH AZZA WA JALLA menjadi tujuan..

Ya Robb....
Ajari kami utk tersenyum meski berat pundak memikul beban.
Ajari kami utk berlapang dada meski banyak yg menyesakkan jiwa.
Ajari kami utk terus berusaha meski butuh waktu utk menggapai mimpi...
Ajari kami utk rendah hati karena Engkaulah Yang Maha Tinggi....
Bantu kami utk tidak takut gagal meski tantangan ada di depan mata...
Sungguh kerasnya kehidupan ini...Semoga sebanding dengan manisnya hasil di akhir perjuangan nanti...


.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”
 (HR. Ibnu Abi Ashim, diambil dari kitab Shahih al-Jami’no.7988)

UNGKAPAN HATI SEORANG ISTRI




Duhai Suamiku .. dada inilah yang selalu memelukku hangat dengan penuh kasih sayang...............

Si Istri mengelus dan mencium dada suaminya ......

Kemudian sambil membasuh tangan suaminya , si isteripun berucap ........
Subhanalloh.....Tangan inilah yang selalu kau gunakan mengais rizki untuk ku dan anak2 kita ........

Kemudian si istri membasuh kaki suaminya ... sambil berucap ......kedua Kaki inilah yang engkau gunakan untuk berjalan menuju tempat kau bekerja untuk menafkahi kami.juga untuk menuju Masjid ... dan kaki inipun tak pernah berjalan menuju tempat maksiat....

Kemudian si istri kembali menatap wajah suaminya ... sambil berucap..
Suamiku , matamulah yg selalu meneduhkan hatiku ini ... yang selalu memandangku dengan ketulusan dan kasih sayang ..... bibirmu selalu mengecup keningku saat kau bangun dari tidur .... telingamu.. selalu mendengarkan keluh kesah dan ucapan cintaku ...

Terima kasih suamiku .. kaulah yang telah membimbingku juga anak2 kita menjadi sekarang ini... memiliki keimanan dan ketaqwaan yg indah....

Aku janji padamu dan pada Allah .. ku akan menjadi yang kau impikan.. yaitu istri yang soleha ......aku akan mendidik anak2 kita agar mereka menjadi soleh dan soleha
Suamiku.... nantikan aku di pintu syurga ....
Jemput aku saat aku berpulang menyusulmu ...

Ya Allah.. tempatkanlah suamiku ini dalam pelukan cinta dan sayangMU Kaulah tempat terbaik bagi kami untuk berpulang.

Itulah kisah seorang istri soleha disisi jasad mayat seorang suami yang soleh
 

 يا الله، تجعلنا الزوجالزوج والزوجة دارما وسولى قبل

ya Allah , jadikanlah kami suami dan istri yang soleh dan soleha dihadapan Engkau

Indahnya Bisa Membahagiakan Ibu & Bapak


Orang tua yang telah membesarkan kita dgn penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik & merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.
Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kep ada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya & hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dgn sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)
Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah & Rasul-Nya, dgn mendapatkan dukungan dari orangtuanya.
Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah & Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.
Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?
Jika teringat kewajiban kita utk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini utk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.
Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah & Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.
Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:

1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam
Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah & maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dgn lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.
Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu utk mempersekutukan Aku dgn sesuatu yang tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, & pergaulilah keduanya di dunia dgn baik.” (Qs. Luqman: 15)

Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab & perkataan yang baik. Dan terus mempergauli & mendakwahi mereka dgn baik pula.

2. Anak tak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam
Tidak disebut durhaka anak yang tak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Dan di dlm hadits riwayat Bukhari & Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dlm perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dgn alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dlm bermaksiat pada Allah.

3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan & nasihat anaknya
Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati & marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik & perkataan yang lembut, maka hal ini tak termasuk durhaka pada orang tua.
Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah? Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)

Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan & nasihat anak, tidaklah termasuk dlm hadits di atas. Hadits di atas tak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.
Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.”(Qs. Maryam: 44).

Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tak dikatakan durhaka.

Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dgn sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya & Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dgn membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya & Allah menjadikan orang yang memurkainya dlm meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba & menghiasi ucapan & amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)

Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dlm bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.

Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dlm perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.
Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dgn keshalihan & keistiqomahanmu. Semoga dgn demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan & amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita.

Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan

“Kerenggangan antara orangtua & anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak utk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dgn kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dgn mengimbangi kesenjangan tersebut dgn melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh utk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dgn akhlak & budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dgn akhlak yang mulia!.”

Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tak menjadi terang.
Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah & senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.

Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dgn tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dgn baik.
Kita pun terlalu sibuk dgn dunia kita. Juga sibuk dgn teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja utk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan utk sekadar bercanda ria dgn teman kita.

Kemudian, beratkah bagi kita utk menyenangkan mereka dgn hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, & apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.


Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…
Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim).

Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?

Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dgn pendidikan & nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat & melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut.

Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan & menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia & batu.” (Qs. At Tahrim 6)

Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tak menghalangi kita utk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?
Apakah harus dgn mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i & mengamalkannya.
Jadilah engkau seorang yang telaten & tak mudah menyerah dlm berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur & menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu & memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dgn sabar orangtuamu memegang tanganmu & melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dgn tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.

Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.
Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dlm berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.

Landasi Semuanya Dengan Ilmu
Seorang anak dgn sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah & mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dgn dakwah anaknya.
Maka, bekalilah dirimu dgn ilmu berdasarkan Al Qur’an & Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dgn ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi & bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dgn yang dikehendaki Allah & Rasul-Nya.

Maka tak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa & tak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dgn orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu utk menghilangkan kebodohan pada dirimu & orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.
Karena itu, wahai saudariku…

Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dgn ilmu & amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dgn akhlaq yang mulia
Tegar & sabarlah!
Tegarlah dlm menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dlm berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah & berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah & ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah
Teriring cinta utk ibu & bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.

Hukum dan Keutamaan Berbakti Kepada Orang Tua


Terdapat banyak ayat yang mendudukkan ridha orang tua setelah ridha Allah & keutamaan berbakti kepada orang tua adalah sesudah keutamaan beriman kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia  kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dlm keadaan lemah yang bertambah-tambah, & menyapihnya dlm dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku & kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Lukman: 14). Lihat pula QS. al-Isra 23-24, an-Nisa 36, al-An’am 151, al-Ankabut 08.
Ada lima kriteria yang menunjukkan bentuk bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Pertama, tak ada komentar yang tak mengenakkan dikarenakan melihat atau tercium dari kedua orang tua kita sesuatu yang tak enak. Akan tetapi memilih utk tetap bersabar & berharap pahala kepada Allah dgn hal tersebut, sebagaimana dulu keduanya bersabar terhadap bau-bau yang tak enak yang muncul dari diri kita ketika kita masih kecil. Tidak ada rasa susah & jemu terhadap orang tua sedikit pun.
Kedua, tak menyusahkan kedua orang tua dgn ucapan yang menyakitkan.
Ketiga, mengucapkan ucapan yang lemah lembut kepada keduanya diiringi dgn sikap sopan santun yang menunjukkan penghormatan kepada keduanya. Tidak memanggil keduanya langsung dgn namanya, tak bersuara keras di hadapan keduanya. Tidak menajamkan pandangan kepada keduanya (melotot) akan tetapi hendaknya pandangan kita kepadanya adalah pandangan penuh kelembutan & ketawadhuan. Allah berfirman yang artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dgn penuh kesayangan & ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. al-Isra: 24)
Urwah mengatakan jika kedua orang tuamu melakukan sesuatu yang menimbulkan kemarahanmu, maka janganlah engkau menajamkan pandangan kepada keduanya. Karena tanda pertama kemarahan seseorang adalah pandangan tajam yang dia tujukan kepada orang yang dia marahi.
Keempat, berdoa memohon kepada Allah agar Allah menyayangi keduanya sebagai balasan kasih sayang keduanya terhadap kita.
Kelima, bersikap tawadhu’ & merendahkan diri kepada keduanya, dgn menaati keduanya selama tak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah serta sangat berkeinginan utk memberikan apa yang diminta oleh keduanya sebagai wujud kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya.
Perintah Allah utk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal-hal yang disukai oleh anak ataupun hal-hal yang tak disukai oleh anak. Bahkan sampai-sampai al-Qur’an memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang-orang yang kafir.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan  dengan  Aku  sesuatu yang  tak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan  baik,  dan  ikutilah jalan   orang   yang  kembali  kepada-Ku,  kemudian  hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman: 15)
Syarat Menjadi Anak Berbakti
Ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi, agar seorang anak bisa disebut sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya:
Satu, lebih mengutamakan ridha & kesenangan kedua orang tua daripada ridha diri sendiri, isteri, anak, & seluruh manusia.
Dua, menaati orang tua dlm semua apa yang mereka perintahkan & mereka larang baik sesuai dgn keinginan anak ataupun tak sesuai dgn keinginan anak. Selama keduanya tak memerintahkan utk kemaksiatan kepada Allah.
Tiga, memberikan utk kedua orang tua kita segala sesuatu yang kita ketahui bahwa hal tersebut disukai oleh keduanya sebelum keduanya meminta hal itu. Hal ini kita lakukan dgn penuh kerelaan & kegembiraan & selalu diiringi dgn kesadaran bahwa kita belum berbuat apa-apa meskipun seorang anak itu memberikan hidup & hartanya utk kedua orang tuanya.
Keutamaan Menjadi Anak yang Berbakti
1. Termasuk Amal yang Paling Allah Cintai
Dari Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Amal apakah yang paling Allah cintai.” Beliau bersabda, “Shalat pada waktunya,” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi bersabda, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Nabi bersabda, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)
2. Masuk Surga
Dari Abu Hurairah, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celaka, celaka, & celaka.” Ada yang bertanya, “Siapa dia wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Dia adalah orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dlm usia tua, akan tetapi kemudian dia tak masuk surga.” (HR Muslim)
Dari Muawiyah bin Jahimah dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & bermusyawarah dgn beliau tentang jihad di jalan Allah. Nabi bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Ya,” kataku. Nabi pun bersabda, “Selalulah engkau berada di dekat keduanya. Karena sesungguhnya surga berada di bawah kaki keduanya.” (HR. Thabrani, al-Mundziri mengatakan sanadnya jayyid)
3. Panjang Umur & Bertambah Rezeki
Dari Salman, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa & tak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebaikan.” (HR. Turmudzi & dihasankan oleh al-Albani)
Anas mengatakan, “Barang siapa yang ingin diberi umur & rezeki yang panjang maka hendaklah berbakti kepada kedua orang tuanya & menjalin hubungan dgn karib kerabatnya.” (HR. Ahmad)
4. Semua Amal Shalih Diterima & Kesalahan-Kesalahan Diampuni
Allah ta’ala berfirman: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dgn susah payah, & melahirkannya dgn susah payah . Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa & umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku utk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku & kepada ibu bapakku & supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai, berilah kebaikan kepadaku dengan  kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau & sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan & Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS al-Ahqaf: 15-16)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ada seorang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Sesungguhnya aku melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Adakah cara taubat yang bisa ku lakukan?” Nabi bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu.” “Tidak” jawabnya. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki bibi dari pihak ibu.” “Ya,” jawabnya. Nabi bersabda, “Berbaktilah kepada bibimu.” (HR. Tirmidzi)
5. Mendapatkan Ridha Allah
Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua & murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani & dishahihkan oleh al-Albani)
6. Diterima Doanya & Hilangnya Kesusahan
Diantara dalilnya adalah kisah Ashabul Ghar, yaitu tiga orang yang tertangkap dlm goa. Salah satu diantaraa mereka adalah seorang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.” (HR. Bukhari & Muslim)
7. Lebih Utama Daripada Hijrah & Jihad
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ada seorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku hendak membaiatmu utk berhijrah & berjihad dlm rangka mengharap pahala dari Allah.” Nabi bertanya kepada keduanya, “Apakah diantara kedua orang tuamu ada yang masih hidup.” “Ya, kedua-duanya masih hidup.” Jawabnya. Nabi bertanya, “Engkau mengharap pahala dari Allah?” “Ya.” Jawabnya. Nabi bersabda, “Pulanglah, temui keduanya & sikapilah keduanya dgn baik.” (HR. Muslim)
8. Orang Tua Ridha & Mendoakan
Jika seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, tentu keduanya akan senang, & pertanda ridhanya kepadanya. Kemudian mendoakannya, sedangkan doa orang tua itu pasti terjawab.
Ada tiga orang yang doanya mustajab & hal tersebut tak perlu diragukan lagi. Tiga orang tersebut adalah doa orang yang teraniaya. Doa orang yang sedang bepergian & doa orang tua utk kebaikan anaknya. (HR. Ibnu Majah & dihasankan oleh al-Abani)
9. Anak Kita Akan Berbakti Kepada Kita
Sikap bakti adalah hutang, maka sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita, maka anak kita pun akan berbakti kepada kita.
10. Tidak Akan Menyesal
Seorang anak yang tak berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasakan penyesalan ketika keduanya sudah meninggal dunia & belum sempat berbakti.
11. Dipuji Banyak Orang
Bakti kepada kedua orang tua adalah sifat yang terpuji & orang yang memiliki sifat ini pun akan mendapatkan pujian. Kisah Uwais al-Qorni adalah diantara dalil tentang hal ini.
12. Merupakan Sifat Para Nabi
Tentang Yahya ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, & bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 14)
Tentang Isa ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Dan berbakti kepada ibuku, & Dia tak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32)
Tentang Ismail ‘alaihis salam Allah ta’ala berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai  berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dlm mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan  kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (QS. ash-Shaffat: 102)

Bidadari Cantik Hanya Berhias Untuk Suami


Saudariku,  Pada saatnya nanti kan tiba, engkau akan menjadi istri -Insya Allah-. Atau bahkan sekarang ini pun engkau sudah menjadi istri. Dan sudah barang tentu engkau pasti ingin menjadi wanita shalihah lagi berakhlak karimah. Ciri khas wanita shalihah yaitu wanita yang selalu berusaha merebut hati, mencari cinta suami, selalu mengharap ridha suaminya agar mendulang pahala, demi meretas jalan menuju Al-Firdaus Al-A’la…di sanalah, dia akan berharap bisa menjadi “permaisuri” suaminya ketika di dunia.
Lalu, lewat jalan manakah hati seorang lelaki akan terebut…dan ridhanya pun menyambut, sehingga dua jiwa dlm satu cinta akan bertaut?
Saudariku…Bunga-bunga cinta suami dapat mekar bersemi,
Harum semerbak mewangi di taman hati,
Jika ia senantiasa disirami

Manis ucapan, santun perkataan, lembut perlakuan, & baiknya pergaulan seorang wanita akan menjadi siraman yang dapat menumbuhkan benih-benih cinta di hati sanubari sang suami. Dan bukan hal yang mustahil, karena akhlakmulah, duhai wanita…hati suami pun akan mencinta.
Agar memiliki akhlak wanita yang mulia, seorang wanita seyogyanya berkiblat pada figur wanita abadi nan sempurna. Sosoknya banyak digambarkan dgn parasnya yang sungguh sangat cantik jelita. Kiranya engkau pun tahu…karena dia adalah…bidadari surga.
Bidadari surga teramat istimewa, wanita yang Allah ciptakan dgn penuh kesempurnaan yang didambakan pria. Dengan segala keistimewaan yang ada dlm dirinya, kiranya itu menjadi tantangan bagi wanita dunia utk bisa berusaha menyamai karakteristik bidadari surga. Menyinggung soal karakteristik, tentunya wanita dunia tak akan mampu bersaing dgn bidadari dlm urusan fisik, & yang bisa kita contoh adalah ciri khas akhlaknya. Baiklah, mari kita bersama-sama telusuri tabiat yang khas dari bidadari surga.

Cantik Parasnya, Baik Akhlaknya, & Harum Bau Tubuhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dgn keelokan & kecantikan yang sungguh sempurna, sebagaimana yang tergambar dlm ayat berikut,
وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ
” Dan Kami pasangkan mereka dgn bidadari – bidadari yang cantik & bermata jelita. ” (Qs. Ath-Thur: 20) – bagian yg berwarna sebaiknya dibuang, agar sesuai dg terjemahannya
Huur ( حور) adalah bentuk jamak dari kata haura (حوراء ) yaitu wanita muda usia yang cantik mempesona, kulitnya mulus & biji matanya sangat hitam.
Hasan berkata, “Al-Haura (الحوراء )adalah wanita yang bagian putih matanya amat putih & biji matanya sangat hitam.”
Zaid bin Aslamberkata, “Al-Haura adalah wanita yang matanya amat putih bersih & indah.”
Muqatilberkata, “Al-Huur adalah wanita yang wajahnya putih bersih.”
Mujahid berkata, “Al-Huur Al-’Iin (الحور العين ) adalah wanita yang matanya sangat putih & sumsum tulang betisnya terlihat dari balik pakaiannya. Orang bisa melihat wajahnya dari dada mereka karena dada mereka laksana cermin.”
Seorang penyair berkata,
Mata yang sangat hitam di ujungnya telah membunuh kita
Lalu tak menghidupkan kita lagi
Menaklukkan orang yang punya akal hingga tak bergerak
Dan mereka ialah makhluk Allah yang paling indah pada manusia
Benarlah memang, karena wanita juga akan tampak terlihat lebih menawan jika ia bermata indah, dgn kelopak mata yang lebar, berbiji mata hitam dikelilingi warna putih lagi bersih.
فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ
“Di dlm surga – surga ada bidadari – bidadari yang baik – baik lagi cantik – cantik.”. (Qs. Ar-Rahman: 70)
Khairaatun ( خَيْرَاتٌ ) adalah jamak dari kata khairatun, sedangkan hisaan adalah bentuk jamak dari hasanatun ( حسنة). Maksudnya, bidadari – bidadari tersebut baik akhlaknya & cantik wajahnya. Beruntunglah seorang pria yang diberi anugrah wanita secantik akhlak bidadari surga. Perhatikan & tanyakan pada diri kita…
Apakah kita sudah sepenuhnya memenuhi hak-hak suami, memuliakannya dgn sepenuh hati & segenap jiwa? Apakah kita sudah berterima kasih atas kebaikannya? Pernahkah kita menyakitinya dgn sadar atau tidak??
Duhai istri…Suami yang beriman merupakan orang yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan marah jika engkau menghina & menyakiti lelaki yang memiliki kedudukan yang mulia di sisiNya. Sebagai gantinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menugaskan para bidadari utk menjunjung kemuliaan suami-suami mereka di dunia ketika para istri menyakiti mereka - sekalipun sedikit - di dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya ketika di dunia, melainkan istri suami tersebut yang berasal dari kalangan bidadari akan berkata, ‘Jangan sakiti dia! Semoga Allah mencelakakanmu, sebab dia berada bersamamu hanya seperti orang asing yang akan meninggalkanmu utk menemui kami.” (Hr. Tirmidzi & Ahmad. Menurut Imam Tirmidzi, ini hadits hasan)
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sekiranya ada seorang wanita penghuni surga, yang menampakkan dirinya ke bumi, niscaya ia akan menerangi kedua ufuknya serta memenuhinya dgn semerbak aroma. Kerudungnya benar-benar lebih baik daripada dunia & seisinya.” (Hr. Bukhari)
Saudariku, sebagaimana kita ketahui…kecantikan paras wanita dunia seperti kita sangatlah minim jika dibandingkan kecantikan paras bidadari surga. Kita niscaya tak akan mampu menandingi kecantikan mereka, namun apakah kita harus bersedih? Sama sekali tidak!
Allah telah menciptakan manusia dlm bentuk yang beraneka rupa, sebagai tanda dari kehendak & kekuasaanNya. Maka terimalah apapun yang telah Ia karuniakan bagimu, karena itu yang terbaik untukmu. Meskipun wajah kurang cantik & fisik kurang menarik, janganlah takut utk tak dicinta. Berhiaslah & percantiklah dirimu dgn hal – hal yang Allah halalkan, karena istri shalihah bukan hanya yang tekun beribadah saja, namun seorang istri yang bisa menyenangkan hati suami ketika suami memandangnya.
Saudariku… Dan apakah kau lupa, fitrahmu sebagai wanita yang tentu suka akan perhiasan? Perhiasan terkait dgn makna keindahan, sehingga seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya… karena wanita adalah salah satu sumber kebahagiaan lelaki. Apabila seorang istri senantiasa melanggengkan berhias & mempercantik diri di hadapan suami, itu akan menjadi hal yang menambah keintiman hubungannya dgn suami. Sang Suami pun tentu akan semakin cinta pada istri pujaan hatinya insyaallah.
Bagi saudari-saudariku pada umumnya serta saudara-saudaraku pada khususnya, enak dipandang & menyenangkan hati bukan berarti harus cantik sekali bukan? Dan berhias pun tak harus menggunakan aksesori yang terlalu mahal . Lalu bagaimana jika Allah menentukan engkau mendampingi lelaki yang secara materi belum mampu “madep mantep“? (baca: hanya cukup utk membiayai kebutuhan pokok)
Aku ingatkan engkau pada nasihat para pendahulu kita kepada putrinya…
Abul Aswad berkata pada putrinya, “Janganlah engkau cemburu, & sebaik-baik perhiasan adalah celak. Pakailah wewangian, & sebaik – baik wewangian adalah menyempurnakan wudhu.”
Ketika Al-Farafisah bin Al-Ahash membawa putrinya, Nailah, kepad Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, & Beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dgn ucapannya, “Wahai putriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu utk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah & mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”
Memang tubuhmupun dicipta tiada bercahaya & harum mewangi laksana bidadari, namun engkau tentu bisa memakai wewangian yang disukai suamimu ketika engkau berada di kediamanmu bersamanya, dgn begitu penampilanmu tambah terlihat menawan dipandang mata.

SEJARAH CINCIN PERTUNANGAN


Sejarah cincin pertunangan
Cincin pertunangan berasal dari tradisi orang-orang Nasrani. Ketika pengantin pria memasang cincin di ibu jari pengantin putri, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa,” lalu cincin tadi dipindahkannya ke jari telunjuk seraya berkata, “Dengan nama Tuhan Anak,” kemudian dipindahkannya ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus,” dan terakhir kalinya dia pindahkan cincin tersebut ke jari manis seraya mengucapkan, “Aamiin.”
Pernah ada pertanyaan yang dilontarkan kepada majalah berbahasa Inggris “The Woman” yang terbit di London pada edisi 19 Maret 1960 hlm. 8 sebagai berikut, “Mengapa cincin pertunangan diletakkan di jari manis tangan kiri?
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Angela Talbot, penanggung jawab rubrik tersebut, “Hal ini karena konon di jari tersebut terdapat urat saraf yang berhubungan dengan hati. Selain itu ada juga sumber ajaran kuno yang menyebutkan bahwa tatkala pengantin putra memasang cincin di ibu jari pengantin putri, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa,” lalu cincin tadi dipindahkannya ke jari telunjuk seraya berkata, “Dengan nama Tuhan Anak,” kemudian dipindahkannya ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus,” dan terakhir kalinya dia pindahkan cincin tersebut ke jari manis seraya mengucapkan, “Aamiin.”

Tulisan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh seorang penulis wanita bernama Malak Hanano.
Semoga Allah membalas kebaikannya.

UCAPAN PENGHUNI SYURGA

SEJARAH SALAM

Diriwayatkan bahawa ketika Nabi Adam (AS) selesai diciptakan, Allah (SWT) menyuruh Nabi Adam (AS) bertemu dengan segolongan malaikat yang sedang duduk dan memberi salam kepada mereka.

"Dengarkanlah, jawapan salam mereka kepadamu, sesungguhnya itu adalah sebagai penghormatan bagimu dan bagi keturunanmu", Allah (SWT) berfirman kepada Nabi Adam (AS).

Maka Nabi Adam (AS) pun menghampiri para malaikat itu dan mengucapkan salam yang diajarkan Allah keapda baginda iaitu: "Assalamu 'alaikum".

"Waalaikumus salam warahmatullah", jawab para malaikat.

(HR. Bukhari - Muslim).

Prinsip-Prinsip Dalam Lafaz Salam
1. Mengingati  Allah  (SWT).

2. Peringatan kepada diri sendiri untuk menjaga kesejahteraan.

3. Ungkapan dan penyebaran kasih sayang antara sesama umat Islam.

4. Doa yang istimewa.

5. Janji dan pengakuan bahawa ‘anda aman dari bahaya tangan dan lidahku’ kepada orang yang diucapkan salam.

Protokol Ucapan Salam

Protokol (adab) dalam mengucapkan salam adalah seperti berikut:
- Orang yang berkenderaan mendahului memberi salam kepada orang yang berjalan kaki.

- Orang yang berjalan kaki mendahului memberi salam kepada orang yang duduk.


- Kelompok yang sedikit mendahului memberi salam kepada kelompok yang lebih ramai.


- Orang yang hendak meninggalkan sesuatu tempat memberi salam kepada orang yang tinggal.


- Semasa keluar rumah dan juga semasa  pulang ke rumah, ucapkanlah salam walaupun tidak ada orang di rumah

- Jika bertemu berulang-ulang maka ucapkan salam setiap kali bertemu.


- Orang yang hendak berucap mengucapkan salam kepada orang yang mendengar (di depannya)

- Orang yang lebih muda mendahului mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua.

- Orang yang baru sampai mengucapkan salam kepada orang yang telah dahulu berada di satu-satu tempat.
SALAM: Ucapan Cinta Penghuni Syurga

UCAPAN atau perkataan yang digunakan oelh para penghuni syurga adalah ucapan salam atau ucapan keselamatan dan kata-kata yang baik kerana kebahagiaan mereka dapat memasuki syurga. Tiada perkataan  melukakan perasaan atau ucapan yang sia-sia dan keji. Semua ucapan penghuni syurga adalah ucapan kesejahteraan, kasih sayang dan kebahagiaan.

"Mereka (para penghuni syurga) tidak akan mendengar perkataan yang sia-sia yang menyebabkan dosa, melainkan perkataan saiam, seiamat, sejahtera. "(Surah Al-Waqi'ah : 25-26).

"Mereka (para penghuni syurga) tidak mendengar perkataan yang sia-sia di dalamnya melainkan perkataan salam (perkataan yang baik), dan bagi mereka (pula) memperoleh rezeki di dalamnya pagi dan petang." (Surah Mariam : 62).

Dan para malaikatpun akan menyampaikan ucapan salamat kepada penghuni-penghuni syurga : "Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya, dihalau ke dalam syurga dengan berbondong-bondong, sehingga apabila mereka sampai kepadanya, dibukalah pintu-pintunya dan berkata malaikat-malaikat penjaganya kepada mereka : Selamat untukmu, kamu telah suci, maka masuklah kamu kedalam syurga serta kekal (di dalamnya)." (Surah Az-Zumar: 73).

Sekiranya kita mengaharapkan dan mengimpikan kehidupan di syurga, maka budayakan ucapan salam dan perkataan yang baik-baik dalam kehidupan kita di dunia ini.

PENUTUP 

‘Hello’ dalam bahasa Ibrani (atau Yahudi) bermaksud; ‘Hell’ maknanya neraka, ‘O’ maknanya kamu; jika digabungkan menjadi ‘Kamu Ahli Neraka’ atau ‘Celaka Kamu’. Maka terbukti ucapan salam lebih indah dan lebih baik untuk kita amalkan dan gunakan baik semasa bertemu, semasa memulakan perbualan telefon, ketika menjawab panggilan telefon dan sebagainya.

Salam merupakan salah satu daripada perkara-perkara yang menjadi hak antara seorang muslim dengan muslim yang lain. Salam adalah doa seorang muslim kepada saudaranya yang lain agar beroleh kesejahteraan, kasih sayang dan berkat dari Allah (SWT). Budaya mengucapkan dan menjawab salam adalah budaya saling-mendoakan yang semestinya difahami dan diamalkan oleh kita.

Salam bukan sekadar ‘pembuka bicara’ atau ‘ucapan untuk menyapa’. Salam adalah sebuah doa. Sesuai dengan kedudukannya sebagai doa yang kita ucapkan kepada orang lain pasti di sebaliknya adalah tuntutan untuk kita saling berusaha agar kehidupan kita sentiasa dipayungi keselamatan dan kesejahteraan. Sepatutnya perbuatan kita dalam perhubungan dengan orang lain yang selalu kita ucapkan salam kepadanya tidak bertentangan dengan doa yang selalu kita ucapkan kepadanya seperti lafaz doa (salam) di atas.

Semoga di sebalik salam yang kita sering ucapkan dan menjawabnya, tidak tersembunyi perasaan-perasaan buruk sangka, pandang rendah, bongkak sombong, dengki khianat, dan lain sebagainya. Semoga kita bukan saja menjadi umat yang saling mendoakan kesejahteraan, kasih sayang dan keberkatan malah kita sama berusaha menjadi umat yang saling mengecapi dan menjaga kesejahteraan, kasih sayang dan memperolehi keberkatan Allah (SWT).

CARA JITU PELEMBUT HATI





عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَسْوَةَ قَلْبِهِ ، فَقَالَ لَهُ : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ “. (السلسلة الصحيحة) 2/533
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan hatinya yang keras. Maka Rasulullah bersabda: Jika engkau ingin lembut hatinya beri makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim (Silsilah ash-Shahihah 2/533)
Faidah hadits:
  • Yatim adalah anak kecil yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum usia baligh, jika sudah baligh bukan disebut yatim.
  • Hadits ini sebagai petunjuk nabi bagi siapa saja yang mendapati hatinya keras agar memberi makan orang miskin dan menyentuh kepala anak yatim agar hatinya menjadi lembut, karena dengan menyentuh kepala anak yatim kita bisa merasakan keterasingan anak kecil ini dan perasaan takut akan kehilangan orang yang mengasuhnya, sehingga kita berusaha membahagaikannya, memelihara dan membantunya. Dengan melihat keadaan anak kecil ini akan membuat hati kita yang keras menjadi lembut. Demikian pula ketika kita memberi makan orang miskin, kita akan mensyukuri nikmat yang Allah berikan, dengan melihat keadaan orang yang kurang (keadaan ekonominya) daripada kita. Berbeda jika kita melihat orang yang lebih kaya, ini akan membuat kita mengingkari atau menghina nikmat yang telah Allah berikan.
Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Thaha:20)
Rasulullah bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang kurang daripada kamu dan jangan kamu melihat kepada orang yang di atas kamu! Karena yang demikian adalah lebih layak untuk kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu”. (HR. Ahmad)Wallahu Ta’ala A’lam


QOLBUN SALIM SANGAT PENTING DLM RUMAH TANGGA

Qolbun—atau sering disebut kalbu—dalam bahasa Indonesia berarti jantung, sehingga jantunglah yang dimaksudkan oleh ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits tatkala menyebut kata qolbu (dalam bentuk tunggal) ataupun kata-kata qulub (yang merupakan bentuk jamaknya).

Namun kemudian kata qolbu ataupun qulub lebih sering diterjemahkan dengan hati meskipun kenyataannya antara jantung dan hati itu sangat berbeda sifat-sifat maupun peranannya. Pembahasan tentang hati kali ini pun yang kami maksudkan adalah pembahasan tentang jantung, kita gunakan kata hati untuk menerjemahkan kata qolbu di sini dan tidak menggunakan terjemah aslinya yaitu jantung, hanya untuk memudahkan pemahaman sebab memang kata hati ini lebih dikenal oleh masyarakat kaum muslimin.

Al-muhim, hati adalah organ tubuh yang sangat urgen peranannya dalam tubuh seorang hamba. Imam Bukhori rahimahullahu ta’ala dalam kitab Shohih-nya meriwayatkan sebuah hadits yang shohih di mana Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Ketahuilah bahwa di dalam jasad ini ada sekerat daging, apabila ia baik maka akan baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah ia adalah jantung (hati).” (HR. Bukhori)

Begitulah peranan hati dalam jasad seorang hamba. Yang harus kita sadari bahwa hati ada yang baik, artinya sehat dan selamat dari berbagai penyakit hati, dan ada pula yang tidak baik yaitu yang sakit sebab tertimpa berbagai penyakit hati. Alloh menyebutkan sebagian fenomena hati yang sakit, di antaranya hati yang tertimpa penyakit nifaq/kemunafikan dalam firman-Nya:
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. al-Baqoroh [2]: 10)

Ayat di atas hanya salah satu dari sekian banyak ayat yang menetapkan adanya hati yang sakit. Yang harus kita renungkan, bagaimanakah kiranya bila hati seseorang sakit atau ditimpa penyakit, maka apakah kiranya yang akan terjadi pada jasad? Sudah pasti jasad pun akan tidak baik. Lalu bagaimana bila penyakitnya semakin lama semakin parah? Maka bisa jadi hati itu akan mengeras, atau bahkan mati dan tidak berperan lagi, sehingga bisa dipastikan jasad pun tidak akan ada kebaikannya, nas’alullohal afiyah wassalamah. Sebagaimana Alloh subhanahu wata’ala telah menegaskan:
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. al-Baqoroh [2]: 74)

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, bahwa Islam sangat memperhatikan kebaikan agama dan akhlaq para calon pasutri. Hal ini disebabkan baiknya agama serta akhlaq seseorang itu merupakan baik dan selamatnya hati orang tersebut dari penyakit hati. Ini mengisyaratkan akan arti pentingnya qolbun salim—yaitu hati yang selamat dari penyakit-penyakit hati—dalam membentuk rumah tangga yang Islami, agar berjalan di atas asas mawaddah dan rohmah sehingga bisa menggapai sakinah. Selain itu juga mengisyaratkan adanya sebuah anjuran bagi setiap diri agar berusaha memperbaiki dan memelihara kebaikan hati dengan mengenali penyakit-penyakit hati sekaligus terapi pengobatannya, sebagai usaha memperbaiki agama dan akhlaq diri, untuk menuju kebaikan agama dan akhlaq diri yang mulia lagi tinggi.
Wallohu A’lam.

KRISIS IMAN




Akhlaq yang tampak pada diri seseorang merupakan refleksi zhohir dari batin orang tersebut. Artinya baik buruknya akhlaq yang terlihat maka seperti itulah jati diri batin orang tersebut. Islam telah menetapkan kaidah agung tentang hal ini, yaitu adanya korelasi yang kuat lagi erat antara akhlaq dan iman seseorang. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً.

“Seorang mu’min yang paling sempurna imannya adalah seorang mu’min yang paling bagus akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi: 1082)
Hadits di atas menunjukkan bahwa akhlaq merupakan tolok ukur kadar keimanan seseorang. Apabila seseorang biasa berhias diri dengan akhlaq-akhlaq terpuji ini merupakan tanda yang zhohir atas kekuatan kadar keimanannya. Sebaliknya apabila seseorang terbiasa dengan akhlaq-akhlaq tercela ini merupakan tanda yang zhohir pula atas kelemahan atau bahkan tidak adanya iman pada dirinya.
Kita semua tidak memungkiri betapa sering kita menyaksikan kenyataan di sekitar kita perilaku-perilaku amoral. Sebagai contohnya adalah perilaku sebagian anak dalam kehidupan rumah tangga; kalau dahulu jarang dijumpai anak yang durhaka terhadap orang tuanya, namun sekarang kedurhakaan kepada orang tua telah dianggap biasa. Kalau dahulu usai sholat Maghrib di langgar (surau) atau masjid, anak-anak kembali ke rumahnya untuk ngaji al-Qur’an atau ke rumah guru ngajinya. Namun sekarang realitanya beda, usai sholat Maghrib anak duduk di depan layar TV untuk ‘ngaji’ akhlaq darinya, bahkan pada hampir seluruh waktunya mereka habiskan untuk menyerap “materi akhlaq” darinya.
Dahulu, jika terdengar ucapan kotor yang terucap dari lisan sang anak, dengan serta-merta orang tua menegur bahkan memarahinya, namun sekarang tidaklah demikian, kecuali sebagian orang tua yang dirohmati oleh Alloh. Walhasil, masih ada setumpuk contoh perilaku amoral lainnya yang disaksikan di zaman ini, dan hanya kepada Alloh kita mengadukan musibah yang menimpa umat ini.
Diakui atau tidak semua yang anak-anak lakukan sangat terkait dengan ada dan tiadanya didikan dan arahan orang tuanya. Sebab peran orang tua sangat dominan dalam menjadikan akhlaq anak-anak menjadi terpuji maupun tercela. Ambil contohnya tatkala rasa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan akhlaq anak mengalami erosi atau bahkan tidak dipedulikan, juga tatkala pendidikan anak lebih dipercayakan kepada orang lain; baik guru di sekolah, atau guru ngaji atau yang lainnya. Atau tatkala pengetahuan agama orang tua sangat minim, sebagai akibatnya mereka kurang perhatian terhadap pendidikan agama anak-anaknya. Atau tatkala orientasi pendidikan orang tua terhadap anak yang cenderung kepada pendidikan dan pelajaran ilmu-ilmu umum saja. Semua ini ternyata berakibat kemerosotan moral dan akhlaq anak-anak baik di desa-desa terlebih lagi di perkotaan.
Bila kita telusuri sebab dan faktor utama adanya dekadensi moral ini maka akan didapati sebuah konsep bahwa antara akhlaq dan keimanan memiliki korelasi yang kuat lagi erat. Tidaklah muncul perkataan maupun perbuatan amoral yang sangat memprihatinkan melainkan sebab utamanya adalah makin sirnanya nilai-nilai dan prinsip-prinsip pokok keimanan pada hati seseorang. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan dalam sabda beliau di atas.
Akhlaq tercela baik pada anak-anak maupun orang tua termasuk pemicu utama timbulnya prahara rumah tangga. Kerap kali kita menjumpai broken home yang ternyata pemicu utamanya adalah akhlaq tercela dari anggota keluarga itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan kebutuhan umat umumnya, dan sebuah keluarga khususnya terhadap perbaikan kualitas dan kuantitas iman saat sekarang adalah sangat mendesak. Yaitu harus ada usaha mengembalikan umat ini juga keluarga kaum muslimin kepada ajaran keimanan dan mendidik mereka di atasnya. Sebab dengan keimanan yang mengurat dan mengakar dalam dada akan lahirlah sosok-sosok umat yang jauh dari segala tindak tanduk amoral.
Wallohul-Muwaffiq.

ISTRI YG TIDAK SHOLAT WAJIB DICERAI


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du ….

Syaikhul Islam ditanya tentang orang yang memiliki istri yang tidak mau shalat: Apakah suami wajib memaksanya untuk shalat? Jika istri tetap tidak mau shalat, apakah dia wajib menceraikannya?
Jawaban beliau,
نعم عليه أن يأمرها بالصلاة ويجب عليه ذلك، بل يجب عليه أن يأمر بذلك كل من يقدر على أمره إذا لم يقم غيره بذلك، وقد قال الله تعالى: وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا. وقال تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا. وقال عليه الصلاة والسلام: علموهم وأدبوهم.
وينبغي مع ذلك أن يحضها على ذلك بالرغبة كما يحضها على ما يحتاج إليها، فإن أصرت على ترك الصلاة فعليه أن يطلقها، وذلك واجب على الصحيح، وتارك الصلاة مستحق للعقوبة حتى يصلي باتفاق المسلمين
“Ya, dia boleh memerintahkan istrinya untuk shalat, bahkan dia wajib memerintahkannya. Dan bahkan dia juga wajib memeritahkan setiap orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, ketika mereka tidak mengerjakan shalat. Allah telah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah untuk menegakkan shalat.’
Allah juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari neraka.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
علموهم وأدبوهم
Ajarilah mereka dan didik mereka dengan adab.’
Selayaknya, kepala keluarga memotivasi istrinya dengan janji pahala, sebagaimana dia memerintahkan istrinya untuk mendapatkan apa yang bermanfaat baginya.
Jika tetap meninggalkan shalat, suami harus untuk menceraikannya. Perceraian ini hukumnya wajib menurut pendapat yang benar. Selain itu, setiap orang yang meninggalkan shalat berhak dihukum berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Fatawa, 32:277)
Fatwa yang sama juga disampaikan Imam Abdul Aziz Ibnu Baz. Ketika beliau ditanya tentang sikap suami terhadap istrinya yang tidak shalat. Jawaban beliau,
عليك أن تشتكي بهما وتبين لهما عظم ترك الصلاة وأنها عمود الصلاة وأن تركها كفر، فإن تابتا فالحمد لله، بقيتا معك، وإن لم تتوبا وجب عليك فراقهما، وسوف يعطيك الله خيراً منهما، ومن ترك شيئاً لله عوضه الله خيراً منه، والله -سبحانه- يقول: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ[الطلاق: 2-3]، ويقول -سبحانه-: وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً[الطلاق: 4]
“Anda bisa menyampaikan kepada istri Anda dan menjelaskannya tentang bahaya meninggalkan shalat. Menjelaskan bahwa shalat adalah tiang agama dan meninggalkannya termasuk kekafiran. Jika dia bertaubat, alhamdulillah, dan pertahankan dia untuk menjadi istri Anda. Jika dia tidak mau taubat, Anda wajib menceraikannya. Allah akan memberikan yang lebih baik darinya. Karena siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan memberikan ganti yang lebih baik daripada itu. Allah telah berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan memberikan jalan keluar kepadanya * dan memberinya rizki yang tidak dia duga.’ (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Allah juga berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan jalan kemudahan baginya.’ (QS. Ath-Thalaq: 4)”

Berbisnis dengan modal uang haram



Yang pertama: Allah mensyariatkan muamalah di kalangan kaum muslimin dengan akad-akad yang mubah, seperti akad jual-beli, sewa-menyewa, salam, syarikah, dan semisalnya, yang mengandung kemaslahatan hamba.
 Kedua: Allah  mengharamkan sebagian akad karena mengandung unsur kemudaratan, seperti akad riba, asuransi bisnis, dan sebagian jual-beli barang haram seperti jual beli alat musik, menjual khamr, ganja dan rokok, karena mengandung beraneka macam kemudaratan.
Sehingga, setiap muslim wajib menempuh cara-cara mubah dalam mencari ma’isyah (penghidupan) dan usaha. Dan hendaklah dia menjauhi harta-harta yang haram dan cara-cara yang terlarang.
Bila Allah tahu kejujuran niat seorang hamba dan tekadnya mengikuti syariat-Nya, upaya terbimbing dengan Sunnah Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya Allah akan memberi kemudahan atas segala urusannya dan akan melimpahkan rizki kepadanya dari arah yang tidak dia sangka. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ
“Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik.” 
(HR. Ahmad, 5/28)
Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak diperbolehkan bagi anda untuk berbisnis dengan modal uang haram, baik itu pemberian ayahmu ataupun dari yang lainnya.”

Pernikahan Membawa Berkah





Meluruskan niat/motivasi (Ishlahun Niyat)
Benerlah siapa yang ingin menikah maka luruskan niat kita dulu. Niat menikah tentunya karena Allah SWT karena menikah adalah ibadah. Karena menikah juga merupakan perintahNya. Coba kawan dicek dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 32. Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kaurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur : 32).
Oya nikah juga merupakan sunah Nabi, jadi dalam proses nikah hingga pasca pernikahan nanti kita wajib mencontoh Nabi. Contohnya ketika diawal memilih pasangan hidup menurut Nabi hendaknya yang dipilih adalah agamanya, kemudian pada saat walimatul ursy sebaiknya tidak berlebihan karena kita tahu Nabi mengajarkan kita untuk selalu bersikap hidup sederhana (tidak boros) dan dalam berumah tangga hendaknya kita membiasakan diri dengan adab dan akhlaq seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Begitu kawan. Setuju yah.
Sikap Saling terbuka (Mushorohah)
Sikap saling terbuka disini yang saya pahami adalah ketika sudah menjadi suami dan istri maka hal–hal yang sebelumnya haram menjadi halal. Misalnya secara fisik kita sudah halal untuk bersentuhan. Selain itu juga sikap saling keterbukaan ini dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh) diantara suami dan istri karena adanya rasa keinginan saling mengenal satu dengan yang lainnya entah itu sifat kepribadian, kebiasaan, kesenangan, ketidaksukaan sehingga suami/istri merasa nyaman.
Sikap toleran (Tasamuh)
Sudah pasti ketika berumah tangga suami dan istri memiliki kebiasaan, pemikiran yang berbeda-beda sehingga akan timbul konflik/perdebatan dalam rumah tangga. Sehingga sikap toleran ini sangat penting bagi kehidupan suami istri untuk memujudkan keluarga yang tetap harmonis. Dan dalam hal ini sikap toleran juga menuntut adanya sikap saling memaafkan, yang meliputi 3 (tiga) tingkatan, yaitu: (1) Al Afwu yaitu memaafkan orang jika memang diminta, (2) As-Shofhu yaitu memaafkan orang lain walaupun tidak diminta, dan (3) Al-Maghfiroh yaitu memintakan ampun pada Allah untuk oran lain.


Komunikasi
Komunikasi ini sangat penting karena dengan komunikasi katanya akan meningkatkan sikap saling cinta antar pasangan. Komunikasi juga untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Karena saya juga melihat beberapa keluarga yang tetap harmonis kuncinya adalah komunikasi yang tetap terjaga dan tidak pernah putus hmm. Apalagi bagi suami dan istri yang memiliki kesibukan masing-masing, sehingga dengan komunikasi ini memberikan rasa perhatian, saling mendengar, dan memberikan respon. Zaman sekarang komunikasi sudah cukup canggih bisa via telephone, email, whats app, skype, dan sebagainya.
Oya point komunikasi ini bisa mengingatkan kita kepada kisah keluaraga Ibrahim As. Dalam surah As-Shaaffat ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaaffat: 102).
Ibroh yang dapat diambil dari ayat tersebut adalah komunikasi timbal balik antara orang tua dengan anak. Nabi Ibrahim mengutarakan pendapatnya dengan bahasa dialog bukan menetapkan keputusannya sendiri, sehingga adanya keyakinan yang kuat kepada Allah, adanya tunduk dan patuh atas perintah Allah dan adanya tawakal kepada Allah SWT, sehingga Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas yang sehat dan besar.

Sabar dan syukur
Yah, sabar dan syukur dalam berumah tangga memang sangat dianjurkan. Pasalnya setiap ujian dalam berumah tangga harus disikapi dengan rasa sabar seperti pada pasangan suami/istri terdapat kekurangan/kelemahan sehingga perlu disikapinya dengan sabar. Kemudian disikapi rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan kepada suami dan tidak banyak menuntut khusus untuk istri karena kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita, disebabkan istri yang kurang bersyukur terhadap pemberian suaminya. Dan apabila kita bersyukur maka Allah akan melebihkan nikmatNya lagi untuk kita. Bisa dilihat dalam firman Allah surah Ibrahim ayat 7: Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih” (QS.Ibrahim : 7).

Sikap yang santun dan bijak
Sikap santun dan bijak dari seluruh anggota keluarga dalam berinteraksi kehidupan berumah tangga ini perlu dilakukan karena akan menciptakan suasana yang nyaman dan indah. Sehingga suasana ini membuat penghuni rumah betah tinggal di rumah. Sebagaimana ungkapan bahwa “Rumahku adalah Syurgaku” bukan berarti fasilitas yang lengkap dan rumah tinggal yang luas akan tetapi ada suasana interaktif antar keluarga; suami istri dan anak-anak yang penuh kesantunan dan bijaksana. Sehingga menimbulkan suasana yang penuh keakraban, kedamaian, dan cinta kasih antar keluarga.
Oya sikap santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seorang itu labil maka ada kecenderungan bersikap emosional dan marah, karena syetan akan mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita agar jangan mudah marah (Laa tagdlob). Bila muncul amarah maka bersegeralah menahan diri dengan beristighfar dan mohon perlindungan kepada Allah dengan (taawudz billah), bila masih merasa marah maka hendaknya berwudhu dan mendirikan sholat. Karena sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa, baik orang yang marah maupun bagi orang yang dimarahi. Oleh sebab itu dalam berumah tangga harus ada saling memaafkan bila terjadi kemarahan dan Allah menyukai orang yang suka memaafkan.

Kuatnya hubungan dengan Allah
Sudah pasti kalau kita menginginkan rumah tangga yang tetap harmonis, hubungan kita dengan Allah harus diperkuat, karena dengan begitu akan menghasilkan keteguhan hati (kemampanan ruhiyah), sebagaimana dalam firman Allah disurah Ar-Rad’u ayat 28 “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Rad’u : 28)
Rasulullah SAW juga selalu memanjatkan doa agar mendapatkkan keteguhan hati : Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thooatika” (Wahai yang membolak-bailikan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’atiMu).
Kedekatan kita dengan Allah bisa dimulai dengan membiasakan dalam keluarga untuk melaksanakan ibadah nafilah secara bertahap seperti tilawah, shaum, tahajud, Duha, doa, infaq, doa, matsurat, dan sebagainnya. Karena tanpa adanya kedekatan dengan Allah mustahil seseorang dapat mewujudkan kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Menjadi Penyejuk Pandangan Bagi Orang Tua



Sahabatku! Memandangi hamparan padi di sawah yang berwarna hijau sungguhlah menyejukkan hati, karena membawa sejuta harapan. Namun demikian, hijaunya padi yang semula nampak indah tidak lama lagi akan berubah warna menjadi kekuningan. Dan kala itu, kuningnya warna padi juga menyejukkan hati karena bukan lagi menjanjikan sejuta harapan, namun harapan petani kini benar benar telah menjadi kenyataan.

Di saat musim panen tiba, tiada seorangpun dari petani yang menyesali kepergian warna hijau yang beberapa hari lalu nampak begitu indah dan menyejukkan. Andai ada seorang petani yang meratapi kepergian indahnya warna hijau yang telah berganti dengan warna kuning, niscaya semua orang menganggap petani tersebut telah terperosok dalam kebodohan besar.
Namun, setiap petani pasti berduka yang mendalam andai kepergian warna hijau dan berganti menjadi coklat atau hitam karena serangan hama, sehingga gagal panen.
Demikianlah kehidupan dunia ini, kemaren anda adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Kedua orang tua anda begitu bahagia mendengar canda dan tawa anda. Apapun yang anda lakukan selalu saja nampak lucu dan menyenangkan.
Saya yakin kedua orang tua anda tidak pernah menyesali kepergian masa kekanak-kanakan anda, karena kini anda telah berubah menjadi lelaki atau wanita dewasa yang berhasil mewujudkan harapan mereka.

Walau penampilan anda yang imut telah sirna dan ulah anda yang lucupun tinggal kenangan, namun semua itu tidak mereka sesali, karena kini anda telah menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orang tua. Kini anda menjadi penawar rasa lelah dan letih perjuangan mereka mendidik dan menafkahi anda. Dengan demikian anda senantiasa menjadi penyejuk dalam hidup mereka.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang senantiasa berdoa: Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami penyejuk pandangan kami dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan 72)
Namun tentu penyesalan kedua orang tua anda tiada dapat digambarkan atau dibayangkan, bila hingga kini anda gagal mewujudkan harapan mereka, bahkan tiada henti anda menambah berat beban hidup mereka. Umur mereka yang telah lanjut dan fisik mereka yang telah lemah, namun demikian anda belum kunjung juga meringankan beban hidup mereka.
Saudaraku! Termasuk yang manakah anda saat ini?

Erosi Akhlak Merupakan MUSIBAH DIATAS MUSIBAH



DAHULU seorang muslim mencintai orang-orang sholeh, Rasulullah, para sahabat, dan pengikutnya. Kini telah berubah; mereka mencintai dan mengikuti orang-orang kafir & fasik. seperti Bon Jovi, Michael Jakcson, Kurt Cobain, Meihem, Maradona, Bekcham, Ronaldo, dan lainnya. Lebih senang kepada para pemain musik, semisal Padi, Ungu, Ratu, Keris Patih, Samsons, Metallica, Iron Maiden, Nirvana, dan lainnya .
Erosi Akhlak
Gemerlapnya kota, gedung-gedung menjulang tinggi dengan kokoh, fasilitas dunia relatif lengkap, teknologi semakin maju, bidang medis hebat, pendidikan meningkat, dan sederet kemajuan yang menunjukkan kehebatan dan kekuatan. Semua ini adalah nikmat yang patut disyukuri.
Namun realita dan fakta di lapangan melaporkan bahwa kekokohan lahiriah dan dunia seperti ini tidak ditopang oleh kekokohan batin, yakni aqidah dan akhlaq karimah!! Kemajuan lahiriah jika tidak ditopang oleh aqidah dan akhlaq, maka ia ibaratnya pohon yang menjulang tinggi, namun batangnya keropos.
Nikmat dan kemajuan seperti ini wajib disyukuri dengan memanfaatkannya dalam perkara ketaatan. Jangan nikmat ini malah menjadi sebab datangnya musibah seperti yang terjadi pada umat-umat terdahulu. Karenanya, Allah -Ta’ala- mengingatkan orang-orang Bani Isra’il (Yahudi) ketika mereka mulai ingkar nikmat,
Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datangnya nikmat itu kepadanya, maka Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.(QS. Al-Baqoroh: 211).
Apa yang terjadi pada Bani Isra’il juga mulai terjadi pada umat Islam. Ini tergambar pada iman dan akhlaq pada setiap muslim di zaman kita. Perhatikanlah kanan-kiri kita; kita akan menemukan keajaiban dengan terjadinya kerusakan. Kerusakan itu terjadi sedikit-demi sedikit, seperti gunung yang mengalami erosi sampai kita tak lagi melihat lagi gunung yang dahulu menjulang kokoh, bahkan bekasnya tak lagi, rata dengan bumi.
Demikianlah kondisi akhlaq pada umat ini; telah mengalami erosi yang perlahan-lahan mengikis identitas keislaman pada diri kebanyakan generasi muslim. Sehingga hampir-hampir kita tak lagi mengenal antara yang muslim dan kafir. Bahkan pada sebagian kondisi, kita tak mengenal identitas itu lagi pada diri dan penampilannya.
> Dahulu kaum muslimin hanya berdo’a dan meminta hajatnya hanya kepada Allah saja. Sekarang lain, malah berdo’a, dan meminta kepada orang yang dianggap wali-wali & orang sholeh, atau tempat keramat dan kuburan.
Padahal Allah -Ta’ala- berfirman,
Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdo’a kepada) seseorangpun di dalamnya di samping (menyeru) Allah“. (QS. Al-Jin: 18).
Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, “Allah -Ta’ala- menyatakan demikian untuk memerintahkan para hamba-Nya agar mengesakan Allah dalam setiap kondisi ibadah, dan tidak ada seorang yang boleh diseru (dido’ai) selain Allah, serta tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun“. [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim (4/555)]
>Dahulu para wanita menutup seluruh tubuhnya dengan jilbab yang tebal lagi lebar, tak membentuknya. Sekarang sudah banyak wanita tak lagi memakai jilbab; kalaupun pakai, yah pakai jilbab modern yang tak syar’i, karena jilbab macam ini tidak menutupi seluruh tubuh, tak lebar, dan tak tebal !!!
Padahal Allah -Ta’ala- berfirman,
Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukminah, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Ahzaab: 59).
>Dahulu para pemuda kita sibuk membaca Al-Qur’an di malam hari dan mempelajari agamanya. Kini semuanya tinggal khayalan; diganti dengan kebiasaan jelek berupa menyanyi & mendengarkan musik, menonton TV, nongkrong di pinggir jalan sambil memetik gitar dan usil. Wah, sungguh sial !!
Padahal Allah -Ta’ala- berfirman
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan“.(QS. Luqman: 6).
Apa yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna”? Abdullah bin Mas’ud berkata,
هُوَ -وَ اللهِ- الْغِنَاءُ
Demi Allah, itu adalah nyanyian“. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (21130), Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan (10/201), Al-Baihaqiy dalam Syu'abul Iman (5096), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok alaa Ash-Shohihain (3542). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (jilid 6/hal. 1017)]
>Dahulu seorang muslim mencintai orang-orang sholeh, semisal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, dan pengikutnya. Kini telah berubah; malah mencintai dan mengikuti orang-orang kafir & fasik. Bahkan mengidolakan mereka. Buktinya ?! Lihatlah pemuda kita lebih bangga dengan Bon Jovi, Michael Jakcson, Kurt Cobain, Meihem, Maradona, Bakcham, Ronaldo, dan lainnya. Lebih senang kepada para pemain musik, semisal Padi, Ungu, Ratu, Keris Patih, Samsons, Metallica, Iron Maiden, Nirvana, dan lainnya dibandingkan orang-orang yang sholeh tersebut. Musibah di atas musibah!!!
Padahal Allah -Ta’ala- berfirman,
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah hizbullah (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung“. (QS. Al-Mujadilah: 22).
Syaikh Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy-rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang mentaati Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan mengesakan Allah, maka tak boleh baginya mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun orang yang ia cintai adalah kerabat terdekatnya“. [Lihat Tashil Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 11), cet. Dar Ibnu Rajab]
>Dulu seorang muslim malu jika berdusta dan mencuri. Kini dusta malah menjadi bahan profesi bagi para pemuda dan pelawak; mencuri dan korupsi menjadi hobi bagi sebagian orang yang tak takut kepada Allah. Na’udzu billah min dzalika.
Padahal Allah -Ta’ala- berfirman,
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. Al-Maa’idah: 38)
Para pakar psikolog, dan ahli pendidikan berusaha mencari sebab terjadinya kerusakan akhlaq tersebut beserta solusinya. Namun mereka tak bisa sepakat dan mufakat; setiap pakar hanya sekedar meraba-raba bagaikan seorang yang buta berjalan di kegelapan malam. Padahal andaikan mereka mengambil penerang dari pelita Al-Qur’an, dan Sunnah, maka mereka akan sampai ke tujuan dengan selamat, tanpa pusing dan takut.
Ketika berselisih seperti ini, kita kembalikan kepada Allah & Rasul-Nya. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“. (QS. An-Nisaa’: 59).
Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Ini merupakan perintah dari Allah -Azza wa Jalla- bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia berupa prinsip-prinsip agama, dan furu’-(cabang)nya agar perselisihan dalam perkara itu dikembalikan kepada kepada Al-Kitab (Al-Qur’an), dan Sunnah“. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/687)]
Bila kita kembali kepada Sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kita akan menjumpai bahwa sebab kemerosotan dan erosi akhlaq disebabkan oleh beberapa faktor asasi:
-Jauhnya Kaum Muslimin dari petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah
-Merebaknya Taqlid Buta kepada Kaum Kuffar
-Tipisnya Iman dalam Hati Generasi Muslim
-Hawa Nafsu yang Berkuasa
-Munculnya Acara-Acara yang Merusak lewat Media Massa –utamanya TV-
Terjadinya erosi dan krisis akhlaq dan moral seperti ini, kembali menyadarkan kita dari tidur yang panjang dan kelalaian yang akut. Sadarlah dari keterlenaan ini sebelum Allah -Azza wa Jalla- menurunkan adzab (siksan)-Nya sebagaimana yang terjadi pada umat-umat durhaka terdahulu. Jika Allah menurunkan adzab-Nya, maka ia tak akan menyisakan dan membedakan antara orang yang sholeh dan orang yang jelek. Semuanya akan dikenakan siksaan, jika tak saling mengingatkan, dan menasihati ketika melihat kemungkaran.
Allah -Ta’ala- berfirman,
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya“. (QS. Al-Anfaal: 25).
Semoga tulisan yang ada di depan anda merupakan sebuah upaya nasihat-menasihati diantara kaum muslimin sehingga kita tak diliputi adzab Allah pedih.
Terakhir, kami berdo’a kepada Allah sebagaimana dalam sebuah hadits riwayat Muslim,
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
Ya Allah berikanlah hatiku ketaqwaannya, dan sucikan. Engkaulah Penolong dan Pemelihara-nya”.