Tampilkan postingan dengan label IMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMAN. Tampilkan semua postingan

KISAH TAUBAT YG SANGAT INDAH


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Pada suatu hari Rasulullah duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka.
Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi .

Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau .
Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, dia berjalan dengan penuh gentar dan takut, dia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, dia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia.

Hingga dia sampai kepada Rasulullah , kemudian dia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa dia telah berzina!!

Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!”

Apa yang diperbuat oleh Rasulullah ?!
Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut?
Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Pergilah, hingga engkau melahirkannya.”

Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!”

Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat.

Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya?
Maka Nabi bersabda: “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku.”

Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahunpun bergulir berganti tahun. Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia
berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!”

Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman.

Nabi mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak.

Nabi bersabda: “Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka dia adalah temanku di sorga seperti ini…” Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam.

Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar : “Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda:

“Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah ?” (HR. Ahmad)

Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah. Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia
berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah berdiri pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah.

Ya, inilah taubat nashuha wahai hamba-hamba Allah.
" Semoga saja kita semua yang membaca artikel ini terinspirasi dan benar2 memperbaiki taubatannya masing2 terutama diri saya pribadi ....dan semoga saja Allah menjadikan kita semua sebagai orang2 yang selalu bertaubat kepadaAllah "
----=== o0O " YUDHA MY SAQ " O0o ===-----

Sabar , Ikhlas dalam perjalanan kepada Sang Maha Agung



Sepedih apapun engkau menangis,engkau tak akan menemukan sebuah senyuman jika engkau tak ikhlas utk rasa yang engkau jalani...

Setegar apapun dirimu, engkau tak akan merasa bahagia jika ternyata dalam ketegaranmu tak ada pula keikhlasan...

Semampu apapun engkau berusaha utk keindahan pada hatimu,jika dalam berusaha ternyata keikhlasanmu hanyakiasan,keindahan hatimu tetap tak akan engkau rasakan.”Ikhlas lah pada kehendak-Nya dan ingatlah siapa diri ini...yang tak mungkin berada dalam dunia,bila ALLAH AZZA WA JALLA tak mencintaimu...

Semua yg Allah SWT berikan kepada kita ,baik nikmat-Nya atau ujian-Nya..
Semata mata utk menguji keikhlasan hatimu.”.

Dalam kesakitan teruji kesabaran,
Dalam perjuangan teruji keikhlasan,
Dalam ukhuwah teruji ketulusan,
Dalam tawakkal teruji keyakinan..


Hidup ini amat indah jika ALLAH AZZA WA JALLA menjadi tujuan..

Ya Robb....
Ajari kami utk tersenyum meski berat pundak memikul beban.
Ajari kami utk berlapang dada meski banyak yg menyesakkan jiwa.
Ajari kami utk terus berusaha meski butuh waktu utk menggapai mimpi...
Ajari kami utk rendah hati karena Engkaulah Yang Maha Tinggi....
Bantu kami utk tidak takut gagal meski tantangan ada di depan mata...
Sungguh kerasnya kehidupan ini...Semoga sebanding dengan manisnya hasil di akhir perjuangan nanti...


.“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”
 (HR. Ibnu Abi Ashim, diambil dari kitab Shahih al-Jami’no.7988)

ASAMNYA BUAH JERUK AKAN TERASA MANIS


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Allah SWT telah menjadikan hubungan antara manusia dengan dunia ini sebagai hubungan imtihan (ujian) dan ibtila' (coba'an). Dengan ujian dan coba'an ini kehidupan manusia menjadi lebih bermakna, dengan ujian dan coba'an ini manusia dapat diketahui kadar kesabarannya, dan dengan coba'an inilah Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang sabar ketika menjalani kehidupannya di dunia yang penuh dengan hayalan ini.

Tidak diragukan lagi bahwa sifat sabar adalah perbuatan yang dianjurkan oleh syare'at. Akan tetapi sabar mempunyai arti atau makna bermacam-macam. Kebanyakan ulama mengartikan sabar dengan: "Menahan jiwa dari segala hal yang tidak disukai". Ini adalah arti yang sangat bagus, akan tetapi menahan jiwa dari semua hal yang tidak disukai, jika ditafsirkan dengan: selalu menerima kepahitan dalam kenyata'an ini dan selalu merasakan sakitnya kekejian dalam kenyata'an, bisa berakhir dengan keada'an jelek seperti kesedihan dan kebodohan atau minder.

Bahkan mungkin kesabarannya akan terkalahkan oleh hawa nafsu setelah dirinya membanding-bandingkan antara coba'an yang tidak dia sukai ini dengan apa yang dia cintai dan dia inginkan, ini adalah akhir dari sakitnya coba'an yang dia rasakan, sehingga ketika dia tersesat dalam kegelapan coba'an ini, dia tidak ingin mencari cahaya yang dapat menolong dirinya, atau mencari seorang penolong yang dapat menyelamatkan dirinya.

Agama islam dalam hal ini berperan sebagai perubah kesabaran menjadi ridha (kerela'an) akan
tetapi selama masih dalam garis yang dibolehkan, nafsu manusia tidak akan mencoba dinginnya
ridha jika syare'at mengeluarkan perintah yang beku, atau mewajibkan suatu hal yang sulit, tidak mungkin...! Karena dalam suatu perintah membutuhkan dua hal penting, pertama: kelembutan dengan jiwa, kedua: dapat meluluhkan hati yang diperintah, jika tidak ada dua hal ini maka tiada guna kita mengatakan: "Aku telah ridha", sedangkan diri kita masih kelihatan susah.

Hal pertama ynag dianjurkan oleh agama islam ketika datang coba'an ini adalah dengan menghadapkan perasa'an kita ke arah cobaan yang terjadi. Kita coba lihat kembali coba'an yang menerpa kita.

Siapa tahu? Mungkin dalam kesusahan  ini terdapat manfa'at, siapa tahu juga badan yang sehat
dan selamat dari berbagai penyakit akan tetapi membahayakan dirinya di suatu hari, siapa tahu coba'an akan menjadi anugrah?

Siapa yang tahu? Dalam kelelahan dalam coba'an yang kita alami di dunia ini adalah sebuah pintu menuju kebaikan yang tidak disangka-sangka, maka jika saja kita menjalaninya dengan penuh dengan kesabaran dan ridha niscaya kita akan bebas menikmati masa depan yang lebih baik.      

(( وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (216))) [البقرة/216]

"Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui". Qs Al-Baqarah:216

Kebanyakan diantara kita telah tenggelam oleh keada'an sekitar kita, kadang-kadang kekurangan, atau krisis dan diharamkannya sebagian nikmat dalam hidup kita berlipat-lipat ganda, tahukah anda bahwa kelelahan dan coba'an dalam hidup ini adalah bagaikan sebuah debu dimana darinyalah terlahir biji-biji kejantanan. Tidaklah terlahir keahlian orang-orang mulia kecuali ditengah setumpuk kelelahan dan pengorbanan.

Dalam hal ini "Deel Karnejy" mengatakan: "Setiap bertambahnya semangatku dalam mempelajari pekerja'an beratku yang telah dilaksanakan sebagian orang-orang pintar aku bertambah percaya bahwa semua pekerja'an ini tidaklah sempurna kecuali karena hasil dari merasa selalu kurang; perasa'an inilah yang telah memberi semangat kepada mereka sehingga mereka dapat melaksanakan pekerja'an-pekerja'an berat dan memperoleh buah hasilnya. Memang benar, mungkin saja seorang penya'ir bernama "Mylthon" tidak akan membuat puisi indahnya itu tersohor, kalau bukan karena kebuta'annya, "Beet Hoven" tidak akan membuat permainan musiknya menjadi terkenal, kalau bukan karena kebisuannya".

Orang-orang yang telah tertimpa coba'an ini tidak membuat coba'an yang mrnimpa mereka sebagai suatu hal yang menghalangi dirinya untuk maju kedepan, sehingga membuat mereka terjatuh dihadapan coba'an-coba'an ini dengan penuh kesedihan. Mereka juga tidak membiarkan mulut mereka menelan pahitnya kenyata'an yang menimpa mereka dari berbagai ujian.

Akan tetapi mereka berhasil menerima kenyata'an yang harus mereka alami, kemudian merekapun menyerahkan beban berat tersebut kepada keahlian yang mereka miliki sehingga dapat merubah coba'an dan ujian mereka menjadi sebuah anugrah yang besar, serta merubah kekeruhan dan debu-debu kotor menjadi sebuah mawar indah dan bunga yang harum mewangi.

Inilah kuncinya keberhasilan, atau inilah yang dinamakan dengan mejadikan lemon masam menjadi sebuah minuman manis menyegarkan, sebagaimana dikatakan oleh "Deel Karnejy". atau sebagaimana yang telah dinukilnya dari "Emerson" dalam kitabnya yang berjudul "Kemampuan untuk melaksanakan". Dimana dia bertanya-tanya: "Dari manakah datangnya pikiran yang mengatakan: sesungguhnya kehidupan sejah tera dan penuh dengan ketenangan yang terbebas dari kesulitan dan coba'anlah yang menciptakan orang-orang paling bahagia dan tersohor?bukan, akan tetapi sebaliknya. Orang yang terbiasa dengan kesulitan dan coba'an akan terus merasa dalam kesulitan dan coba'an, meskipun mereka telah tidur di atas kain sutera. Sejarah membuktikan bahwa sukses dan kebahagiaan telah menyerahkan kendalinya kepada orang-orang dari berbagai lingkungan yang berbeda-beda; lingkungan dimana disitu terdapat orang-orang baikdan juga orang-orang jahat; disitu juga tidak dapat  dibedakan siapa diantara mereka yang baik dan mana yang jelek. Pada lingkungan inilah tumbuhnya orang-orang sukses yang mampu mengemban tanggung jawab di atas pundak mereka, dan tidak meninggalkan tanggung jawab tersebut di belakang punggung mereka.

Akan tetapi tidak semua manusia diberi kemampuan untuk merubah bagian dirinya yang tidak menyenangkan menjadi harapan yang menyenangkan dirinya yang juga berharga, karena penggemar kekejian dan kedengkian serta pecandu keluhan adalah orang yang paling tidak berhasil dalam menyelipkan arti kebahagiaan dalam hidup mereka, atau dengan ibarat lain, jika mereka belum mendapatkannya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Akan tetapi lain dengan orang-orang penggemar kebaikan, mereka menerima bagian dari kehidupan mereka dengan penuh lapang dada dan apa adanya sebelum mereka tertimpa hal yang tidak mereka inginkan.

Sebagaimana tubuh kita mengeluarkan zat tertentu untuk melawan penyakit dan  kuman-kuman yang menyerang tubuh kita, orang-orang tersebut juga memengeluarkan makna-makna khusus yang bercampur dengan keada'an hidup dan kelelahannya, kemudian memberikannya tempat dan alamat baru. Dengarkanlah perkataan Ibnu Taimiah ketika dia berkata : "Sesungguhnya penjaraku ini adalah sebagai pertapaan, pengasinganku ini adalah sebuah liburan, dan membunuhku adalah sebuah syahadah (mati syahid)...!"

Coba'an-coba'an ini menurut orang berakal tinggi akan berubah menjadi beberapa kenikmatan
yang akan dia terima dengan penuh senyum indah, tidak dengan rasa takut.

Dari dulu telah dikenal bahwa cita-cita orang berlainan, sesui dengan kemampuan seseorang dalam memanfa'atkan kesulitan yang menerpanya, serta mengambil untung dari keada'an yang tidak menyenangkan; atau bisa dikatakan: "Yang paling penting dalam kehidupan kita ini bukanlah mendapatkan pekerjaan yang membuahkan hasil, karena orang dungupun dapat melakukannya, akan tetapi suatu yang paling penting dalam kehidupan kita ini adalah merubah kerugian yang telah menimpa kita menjadi sebuah keuntungan, hal ini membutuhkan kepintaran
dan kejelian, dari sinilah bisa dibedakan antara orang yang berharga dan orang yang tidak berharga".
 
Ini adalah betul-betul kebenaran, lihatlah beberapa contoh dari merubah kerugian menjadi sebuah keuntungan di bawah ini:

Ketika Abdullah Bin Abbas kehilangan kedua matanya, dan dia telah tahu bahwa dia akan menjalani sisa-sisa hisupnya dengan kebutaan, terpenjara dibelakang sel kebutaan tanpa melihat makhluk hidup dan kehidupan nyata ini. Dia tidak membiarkan dirinya mengeluh dengan bagian yang telah dia terima dan coba'an ang telah menimpanya, akan tetapi dia menerima bagian yang harus dia ambil itu, kemudian diapun menambahkan dalam kehidupannya suatu yang dapat meringankan korban dari coba'an  dan dapat menghadirkan kerelaan atau Ridha, kemudian dia berkata:
========================================================
Jika Allah telah mengambil cahaya pada kedua mataku
Maka pada lisan dan pendengaranku masih ada cahaya
Hatiku cerdas, dan akalku tidaklah lemah
Dalam lisanku tajam bagaikan pedang
========================================================
Tidak diragukan lagi bahwa menerima kepahitan dan kelelahan dalam hidup dengan hati yang penuh optimis seperti ini, dengan kekuatan untuk mengulang kembali dalam kehidupan selanjutnya, berusaha untuk mengalahkan kesulitan-kesulitan yang menerpa adalah lebih baik dan lebih berharga dari pada memperdalam rasa keputus asa'an dan mundur dari kenyataan yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang.

وَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

SETIAP MUSLIM & MUSLIMAH SELALU MENUNGGU


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


-Menunggu waktunya untuk sholat 5 waktu
-Menunggu panggilan Allah untuk datang ke Baitullah//Mekkah..
-Menunggu panggilan untuk pulang kepada Allah

Umar bin Khattab r.a.  pernah mengatakan bahwa saat sholat, dia merasa sedang berada di sebuah tebing curam. Di sebelah kanan dan kiri adalah neraka dan di depan adalah surga. Beliau merasa seolah-olah sholat adalah gerbang menuju kematiannya.

Ali bin Abi Thalib r.a .
Saat panah menancap ke tubuhnya, dia meminta para sahabat yang lain untuk mencabutnya saat dia sedang sholat. Dan benar, saat Ali sholat, panah-panah itu di cabut dan dia tidak merasakan sakit sama sekali karena sudah merasa begitu nikmatnya bertemu Allah.

Hidup ini cuma menunggu antar waktu sholat hingga waktu sholat berikutnya. Tujuan hidup ini cuma 1 yaitu beribadah pada Allah, menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk akhir kelak. Maka, anggaplah semua aktifitas lain selain ibadah sebagai selingan saja sambil menunggu saat sholat. Bahkan kalau bisa, lakukan aktifias yang membawa manfaat bagi orang lain.

Tapi disekelilingkita yang terjadi malah sebaliknya.
Bukan kita sedang menantikan panggilan sholat, tapi sholat menantikan kehadiran kita.
Waktu sholat diundur hingga batas akhir. Alasannya sangat sederhana, bukankah masih ada waktu? Bukankah waktu sholat masih panjang? Maka jadilah sholat menunggu kita menyelesaikan pekerjaan yang lebih penting dari panggilan Ilahi. Allah harus menunggu kita menyelesaikan pekerjaan atau aktifitas kita ?

Namun pada saat akhir sholat,selalu saja meminta agar semua keinginannya dikabulkan oleh Allah... bahkan kalau bisa dipercepat...

" Namun semoga saja tak ada satupun pembaca artikel ini yg mengulur waktu sholatnya...
Agar juga tidak malu pada Allah disaat menengadahkan tangan memohon segala urusan dunianya dilapangkan....
Namun apabila kebetulan ada pembaca yg suka mengulurkan waktu sholatnya, semoga saja bisa memperbaikinya agar tepat waktu dalam melaksanakan sholatnya..... Agar selalu menjadi muslimin wal muslimah yang selalu mendahulukan Allah... agar mendapatkan rahmat-NYA...Agar selalu dimudahkan urusan dunia dan akhiratnya... agar selalu menjadi insan taqwa dan selalu meningkatkan iman dan kema'rifatannya....

MANISNYA SABAR



Secara global kehidupan semua manusia adalah sama, mereka hanya akan melewati dua sisi hidup yang Allah Ta’ala pasangkan; bahagia dan bencana, mudah dan sulit, suka dan duka. Kita pun sudah, sedang, dan akan terus merasakan keduanya silih berganti. Kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, kadang posisi kita di atas dan kadang di bawah, semua akan mendapatkan gilirannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia ..” 
(QS. Ali Imran (3): 140)

Demikianlah hidup kita. Namun, tidak sedikit manusia yang tidak terima kenyataan ini. Keinginan mereka adalah semua hari adalah bahagia, semua cuaca adalah cerah, semua tanah adalah subur, semua air adalah jernih. Tidak demikian. Manusia semacam ini akan terombang ambing oleh impian dan dipenjara oleh fatamorgana yang hanya dapat berubah jika mereka mau menerima kenyataan hidup dan siap mengarunginya.

Ada pun bagi seorang beriman, mereka akan menyikapi dua sisi hidup ini secara ikhlas dan penuh ridha. Mereka meyakini, baik atau buruk dari apa yang dialami manusia, pastilah memiliki pelajaran berharga dan rahasia manis yang dapat diketahui cepat atau lambat. Tidak ada yang sia-sia.

Allah Ta’ala menceritakan perkataan orang-orang yang mendalam ilmunya (Ulil Albab):
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا
“Tuhan kami, tidaklah apa yang Engkau ciptakan ini sia-sia.” (QS. Ali Imran (3): 190)
Ya, semua keadaan pasti membawa manfaat untuk kita, sebab Allah Ta’ala tidaklah mengadakannya untuk main-main dan kesia-siaan. Oleh karena itu, sikap terbaik terhadap bencana adalah bersabar, sikap terbaik terhadap kebahagaiaan adalah bersyukur. Inilah cara yang ditempuh orang beriman, sikap yang diambil para shalihin (orang-orang shalih), dan jawaban yang diberikan para fuqaha (orang-orang yang faham agama).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menggambarkan:
عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ
“Sungguh mengagumkan melihat urusan orang mukmin, baginya, semua masalah adalah baik. Dan, sikap yang demikian tidaklah terjadi kecuali oleh orang beriman. Jika dia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur dan itu adalah hal yang baik baginya, dan jika dia mendapatkan keburukan dia bersabar, dan itu adalah hal baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999, Ibnu Hibban No. 2896)

Syukur Itu Manis
Manusia yang di dadanya dipenuhi rasa syukur adalah manusia kaya sebenarnya. Hatinya lapang dan jiwanya bersih dari angan-angan kosong dan impian yang melemahkan gairah hidup. Tidak ada waktu baginya memikirkan apa-apa yang dimiliki orang lain, tetapi dia sibuk dengan berbagai nikmat yang Allah Ta’ala yang tak terhingga yang dia dapatkan dariNya. Sehingga lahirlah jiwa yang kaya, dan jiwa yang kaya itulah kaya yang hakiki.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكنَّ الغنى غنى النفس
“Bukanlah kekayaan dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sebenarnya adalah yang kaya jiwanya.” (HR. Bukhari No. 6081, Muslim No. 1051, At Tirmidzi No. 2373, Ibnu Majah No. 1386, Ibnu Hibban No. 679, Ahmad No. 7316, Abu Ya’la No. 3079, 6583, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya No.320)

Jiwa yang kaya itulah raja sebenarnya, seorang raja tidak lagi membutuhkan apa-apa yang ada pada orang lain, begitu pula hamba Allah Ta’ala yang pandai bersyukur, dia merasa cukup dan puas, sehingga mata dan wajahnya tidak pernah menoleh kepada apa yang bukan hak dan miliknya.
Seorang penyair berkata:
اذا كنت ذا قلب قنوع فأنت و مالك الدنيا سواء
“Jika engkau memiliki hati yang puas (qanuu’), maka engkau dan rajanya dunia adalah sama saja!”

Seorang hamba bersyukur bukan hanya di bibir dengan ucapan Alhamdulillah, tetapi dia tampakkan dalam sikap hidup; yaitu menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya dengan cara dan tujuan yang baik pula, tidak iri dan dengki terhadap anugerah yang Allah Ta’ala titipkan kepada orang lain, serta adanya perbaikan dalam kualitas hubungan dengan Allah Ta’ala (ibadah) dan hubungan dengan manusia (sosial).
Percayalah, sikap syukur tidak akan memberikan apa-apa bagi pelakunya kecuali hanya kebaikan dan kebaikan. Dia akan dicintai manusia, sebab kehadirannya bukan ancaman bagi orang lain. Dia akan dicintai Allah Ta’ala, sebab dia tidak kufur atas nikmatNya, bahkan Allah Ta’ala akan menambah nikmat untuk hamba-hambaNya yang bersyukur.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 7)

Seorang ulama berkomentar tentang ayat ini:
Ingatkah ketika Tuhanmu bersumpah dengan keagunganNya, kekuasaanNya, dan kemahabesaranNya, jika kalian benar-benar mensyukuri nikmatku atas kalian, maka Aku akan benar-benar tambahkan nikmat itu untuk kalian, dan jika kalian kufur terhadap nikmat itu dengan menutup-nutupinya dan mengingkarinya, maka nikmat itu akan diambilNya kembali dan Dia akan memberikan hukuman. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/479. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

Beginilah Cara Mereka Bersyukur
‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha menceritakan tentang ibadahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم كَان يقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حتَّى تتَفطَرَ قَدمَاهُ، فَقُلْتُ لَهُ، لِمْ تصنعُ هذا يا رسولَ اللَّهِ، وقدْ غفَرَ اللَّه لَكَ مَا تقدَّمَ مِنْ ذَنبِكَ وما تأخَّرَ؟ قال: “أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟
Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri pada shalat malam (tahajud) sampai bengkak kedua kakinya, lalu aku berkata kepadanya: “Kenapa kau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampunimu baik dosa yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “Tidakkah aku suka jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari No. 1078, Muslim No. 2819, Ibnu Majah No. 1419, At Tirmidzi No. 412, An Nasa’i No. 1644, Ibnu Khuzaimah No. 1182, 1184)

Lihat! Walaupun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah diampuni semua dosa yang lalu dan akan datang, dia tetap beribadah, bahkan lebih kuat lagi. Tidak justru ‘mentang-mentang’ sudah diampuni lalu menghabiskan waktu dengan senang-senang semata.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menceritakan tentang seorang ulama nan shalih, Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh. Suatu malam Beliau sedang shalat tahajud, ternyata tanpa sepengetahuannya anaknya yang laki-laki mengikutinya jadi makmum, sampai dia membaca satu ayat yang memilukan hati anak itu, lalu anak itu terjatuh dan wafat.
Keesokan harinya ramai manusia bertakziah ke rumahnya, sebagai rasa ikut berduka. Tetapi, Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh justru mengeluarkan perkataan yang mengherankan bagi manusia saat itu. Dia tidak bersedih, tak ad air mata, justru senyumanlah yang ada darinya.
“Jangan kalian kira aku sedang bersedih, justru aku bergembira dengan wafatnya anakku ini, karena dia wafat dalam keadaan husnul khatimah.”
Ya, beliau bukan sedang berduka cita dan bersabar, tetapi sedang bergembira dan bersyukur karena anaknya wafat dalam keadaan yang sangat bagus yakni ketika shalat tahajud. Sungguh jika bukan karena tawakal yang mendalam, sikap seperti Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh adalah sikap yang amat sulit dilakukan manusia zaman sekarang.
Sabar Itu Indah

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah mengatakan bahwa di surga hanya ada dua kelompok manusia; manusia yang bersyukur dan manusia yang bersabar.
Orang-orang sukses, dunia dan akhirat, salah satu kuncinya oleh kesabaran. Lihatlah betapa sabarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dalam mendakwahkan Islam di Jazirah Arab. Walau tantangan, ancaman, pengusiran, bahkan percobaan pembunuhan sudah berkali-kali dirasakannya ketika tiga belas tahun dakwah di Mekkah, akhirnya Allah Ta’ala menangkan dakwah Islam karena buah kesabaran Beliau dan para sahabatnya.

Sabar memang berat. Oleh karena itu, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah memasukkan sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam menghafalkan ilmu, dan sabar dalam menyampaikan ilmu adalah termasuk jihad fisabilillah. Maka, dari sini kita bisa mengetahui bahwa sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi dia adalah gairah hidup, sabar bukan kecengengan tetapi dia adalah ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi dia adalah optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi dia adalah pantang menyerah. Dan, orang sabar bukan sekedar yang tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran.
Allah Ta’ala berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
`Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran (3): 146)
Dibalik Sabar Ada Kemenangan

Ini adalah janji Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang bersabar. Dan, janjiNya adalah benar. Namun jangan lupa, sabar juga bukan kekuatan tanpa perhitungan, sabar bukan ketegaran tanpa tujuan, sabar bukan pesimis tanpa arahan, sabar bukanlah gerak pantang menyerah namun tanpa pemikiran yang matang. Tidak demikian. Tetapi sabar adalah berpadunya kekuatan dan perhitungan, ketegaran dan tujuan, optimis dan arahan, gerak pantang menyerah dan pemikiran matang, maka tunggulah kemenangan yang Allah Ta’ala janjikan.
Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (65) الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66) }
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. 
(QS. Al Anfal (8): 65-66)

Maka, Maha Benar Allah ketika berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al Baqarah (2): 45)

Ya, orang sabar akan menjadi pemenang, bagaimana mungkin mereka kalah padahal Allah Ta’ala bersama mereka? Innallaha ma’ash shaabiriin (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar) …..


Nabi Nuh ‘Alaihissalam menyebarkan dakwah tauhid dalam waktu 950 tahun, walau dia tahu pengikutnya tidak akan banyak, namun dia tetap berjuang tanpa putus asa.
“Dan telah diwahyukan kepada Nuh bahwasanya tidak akan ada yang beriman di antara kaumnya kecuali orang-orang yang telah beriman ( dari sebelumnya ) maka janganlah kamu putus asa karena apa yang mereka lakukan.” ( QS. Huud : 36 )
Dari ayat ini kita bisa tahu bahwa Nabi Nuh ‘Alaihissalam tidak akan banyak pengikut, tetapi dia terus mendakwahkan agama tauhid tanpa putus asa selama 950 tahun.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, kemudian dia tinggal di antara mereka selama 950 tahun …” ( QS. Al ’Ankabut : 14 )

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengalami penyiksaan yang amat memilukan selama tiga periode kepempimpinan khalifah yang berbeda yakni khalifah Al Makmun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq, demi mempertahankan aqidah yang benar bahwa Al Quran adalah kalamullah (firman Allah), dan Al Quran bukan makhluk Allah sebagaimana keyakinan kelompok menyimpang Mu’tazilah. Namun, akhirnya pada Al Watsiq beliau dibebaskan, bahkan khalifah ini mengakui kebenaran keyakinan Imam Ahmad bin Hambal dan mendukung dakwahnya.

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah menyusun kitab Fathul Bari selama 25 tahun. Kitab yang memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits yang terdapat kitab Shahih Bukhari. Dan, kita ini dinilai sebagai kitab terbaik dan terlengkap dalam bidangnya, khususnya dalam memberikan penjelasan (syarah) terhadap Shahih Bukhari.

Masih banyak contoh-contoh kesabaran orang-orang besar dan sukses selain mereka.
Lalu, di manakah posisi kita di antara mereka?
Wallahu A’lam

Jadikan Istirahatmu Bernilai di Sisi Allah


Penulis : Al-Ustadz Yudha Muhammad Yusuf SAQ.
Dalam Islam, setiap amalan, sekecil apapun, bisa bernilai ibadah. Beristirahat, misalnya. Ia tak sekedar rutinitas melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun bisa menjadi pohon yang berbuah pahala. Bagaimana amalan yang nyata-nyata telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari ini bisa bernilai ibadah? Simak bahasan berikut!
Hidup memang sebuah pengorbanan dan perjuangan. Berjuang dan berkorban adalah sesuatu yang melelahkan dan memberatkan, dan ketika lelah tentu butuh ketenangan dan istirahat. Namun tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan ini semua. Ada yang hanya bisa beristirahat satu atau dua jam saja setiap harinya. Hidupnya dipenuhi dengan aktivitas dan kesibukan yang luar biasa. Sehingga, kesempatan beristirahat merupakan sebuah kenikmatan dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti kita syukuri.
Namun di masa kini, manusia dihadapkan pada pola hidup yang menuhankan materi. Hidup di dunia seolah-olah hanya untuk mencari uang atau materi. Manusia diposisikan sebagai alat produksi yang senantiasa dituntut produktif. Dengan kata lain, segala aktivitas harus ada timbal baliknya secara materi. Pekerjaan adalah no. 1, sementara keharmonisan keluarga, interaksi sosial dengan masyarakat, adalah nomor kesekian. Walhasil, manusia pun tak ubahnya seperti robot. Ini jelas menyelisihi fitrah manusia. Allah  Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan di dalam Al-Qur`an:
وَخُلِقَ اْلإِنْسَانُ ضَعِيْفًا
Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.(An-Nisa`: 28)
As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “(Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan atas kalian keringanan) artinya kemudahan dalam segala perintah dan larangan-Nya atas kalian. Kemudian bila kalian menjumpai kesulitan dalam beragama maka Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah menghalalkan bagi kalian sesuatu yang kalian butuhkan seperti bangkai, darah dan selain keduanya bagi orang yang mudhthar1, dan seperti bolehnya bagi orang yang merdeka menikahi budak wanita dengan syarat di atas. Hal ini sebagai bukti sempurnanya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, kebaikan yang mencakup ilmu dan hikmah-Nya atas kelemahan manusia (yaitu kelemahan) dari semua sisi. Lemah tubuh, lemah niat, lemah kehendak, lemah keinginan, lemah iman, dan lemah kesabaran. Berdasarkan semua ini sangat sesuai jika Allah Subhanahu wa Ta’ala meringankan atas mereka perkara yang dia tidak sanggup untuk melakukannya dan segala apa yang tidak sanggup dipenuhi oleh keimanannya, kesabaran, dan kekuatan dirinya.”
Dan karena kelemahan itu, Allah Maha Bijaksana di dalam menentukan waktu kehidupan bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan malam dan siang memiliki hikmah tersendiri. Dan adanya malam dan siang itu menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya dan manakah dari hamba-Nya yang mau mensyukurinya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَالِقُ اْلإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 98)
هُوَالَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتِ لِقَوْمِ يَسْمَعُوْنَ
Dialah yang telah menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kalian mencari karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang-orang yang mendengar.” (Yunus: 67)
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا
Dialah yang menjadikan untuk kalian malam sebagai pakaian dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (Al-Furqan: 47)
وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan karena rahmat-Nya Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.(Al-Qashash: 73)
Dan masih banyak lagi ayat yang semakna dengan di atas. Semuanya menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah  Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan kepada mereka segala yang mereka butuhkan dalam pengabdian dan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun mengapa kebanyakan manusia ingkar kepada-Nya?
Dan kita semua berkeinginan agar tidur sebagai salah satu bentuk istirahat bukan hanya sebagai ketundukan kepada sunnatullah semata. Kita juga ingin agar tidur kita mendapatkan nilai ibadah tambahan dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya Muhammad n telah mengajarkan kepada kita beberapa adab di dalam tidur.

JIHAD NAFSU & BERPERANG





Para sahabat bertanya, “Apakah jihad yang besar itu?” Nabi menjawab, “Jihad hati.” Apakah hadis ini sahih? Dan bagaimana dengan ayat-ayat yag menjelaskan tentang jihad qital (perang)?



Jihad melawan hawa nafsu hakikatnya adalah dasar dari jihad melawan orang kafir dan orang munafik karena seseorang tidak akan mampu berperang melawan mereka sampai dia berhasil menundukkan hawa nafsunya.

Jadi, jihad melawan hawa nafsu bukan untuk menghentikan jihad qital (berperang) melawan kaum kafir dan munafik yang membunuh dan mengusir orang Islam dari kampung halamannya serta memerangi agama Allah.

Ada suatu riwayat yang banyak beredar di tengah masyarakat sehingga menganggapnya sebagai hadis dari Nabi SAW. Banyak pihak yang menggunakan riwayat hadis ini untuk merendahkan dan menganggap enteng urusan jihad di jalan Allah SWT.

Hadis ini disebutkan oleh al-Mula Ali al-Qari dalam kitabnya Al-Asrar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah (Rahasia-Rahasia yang Terangkat dalam Hadis-Hadis Palsu), juga dalam kitab Tadzkirat al-Maudhu’at (Peringatan akan Hadis-Hadis Palsu) karangan Muhammad bin Thahir al-Fitani.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Jabir telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Orang-orang yang baru berperang?’ Maka Rasulullah SAW berkata, “Kalian datang dengan sebaik-baik kedatangan, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya, “Apakah jihad besar itu?” Beliau menjawab, “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Al-Zuhd, dan mengatakan sanadnya dhaif (lemah). Ibnu Taimiyah mengatakan, hadis ini tidak ada dasarnya, tidak ada seorang ahli perkataan dan perbuatan Nabi pun yang meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah di antara amalan yang paling mulia.

Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitab Tasdid al-Qaus fi Takhrij Musnad al-Firdaus mengatakan, hadis ini terkenal, banyak beredar, dan ia sebenarnya adalah perkataan Ibrahim bin Abi Ablah. Bahkan, Imam Suyuthi menegaskan hadis ini tidak marfu’ (sampai kepada Rasulullah).

Maka, dari sisi sanad, hadis ini tidak sahih dan tidak pula hasan. Hadis ini tidak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis yang menjadi sandaran umat Islam.

Tidak ada dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, tidak dalam kitab hadis yang enam, tidak dalam Muwattha` Imam Malik, dan bahkan tidak ada dalam Musnad Imam Ahmad meskipun ia mencakup banyak sekali hadis.

Adapun dari aspek maknanya, kalau yang dimaksudkan adalah merendahkan urusan jihad di jalan Allah dan menganggap enteng kedudukannya dalam Islam sebagaimana yang dimaksudkan oleh mereka yang menyebarkannya, makna ini tidak bisa diterima dan harus ditolak.

Sebab, Alquran dan sunah Nabi penuh dengan nas-nas yang menegaskan keutamaan dan tingginya kedudukan jihad dalam Islam yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurat [49]: 15).

Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa jihad merupakan puncak tertinggi Islam.  “Puncak tertinggi Islam adalah berjihad di jalan Allah SWT.” (HR Ahmad).

Adapun, jika yang dimaksud adalah perhatian terhadap jihad melawan hawa nafsu, melatih diri, dan berjuang melawan segala godaan dan kemauan hawa nafsu maka makna ini dapat diterima.

Sebab, kita memang diperintahkan untuk bisa menundukkan hawa nafsu sehingga ia tunduk kepada perintah dan kehendak Allah SWT (QS al-Nazi’aat [79]: 40-41).

Jihad yang berasal dari bahasa Arab secara bahasa berarti mengeluarkan segenap kemampuan. Sedangkan, secara istilah, Imam al-Kasani dalam kitabnya Badai’ al-Shanai menyebutkan bahwa jihad berarti mengerahkan segala kemampuan untuk berjuang di jalan Allah SWT, baik dengan jiwa, harta, lisan, atau cara lainnya.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya mengatakan. jihad dalam Islam berarti mengeluarkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai oleh Allah SWT.

Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Zad al-Ma’ad menjelaskan bahwa jihad itu bermacam-macam. Pertama, jihad melawan hawa nafsu, yaitu dengan berusaha mempelajari hidayah Allah SWT, mengamalkannya, berdakwah kepadanya, dan bersabar dalam dakwah tersebut.

Kedua, jihad melawan godaan setan dengan berusaha menolak segala bentuk syubhat (samar-samar) yang merusak keimanan, dan berusaha menolak segala bentuk godaan nafsu dan syahwat.

Ketiga, jihad melawan orang kafir dan kaum munafik dengan hati, lisan, harta, dan jiwa. Keempat, jihad melawan orang-orang zalim dan fasik dengan tangan jika tidak mampu dengan lisan dan hati.

Berdasarkan itu, konsep jihad dalam Islam tidak terlepas dari jihad dalam bentuk perang, tetapi jihad bukan hanya terbatas kepada makna perang karena jihad itu mencakupi jihad melawan hawa nafsu.

Jihad melawan godaan dan rayuan setan, jihad dalam berdakwah menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, jihad dengan menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim, dan jihad dengan berperang melawan musuh-musuh Allah SWT.

Para ulama menjelaskan bahwa berjihad melawan orang-orang kafir dan fasik termasuk yang paling berat bagi hawa nafsu karena dalam jihad ini nyawa, harta, dan kehormatan dikorbankan dan pengorbanan itu sangatlah berat bagi hawa nafsu.

Maka, jika seseorang tidak berjihad melawan hawa nafsunya dan membiasakannya untuk melakukan ketaatan maka kemungkinan besar ia tidak akan mau melakukan jihad melawan orang-orang kafir yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin. Wallahu a’lam bish shawab.

KRISIS IMAN




Akhlaq yang tampak pada diri seseorang merupakan refleksi zhohir dari batin orang tersebut. Artinya baik buruknya akhlaq yang terlihat maka seperti itulah jati diri batin orang tersebut. Islam telah menetapkan kaidah agung tentang hal ini, yaitu adanya korelasi yang kuat lagi erat antara akhlaq dan iman seseorang. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً.

“Seorang mu’min yang paling sempurna imannya adalah seorang mu’min yang paling bagus akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi: 1082)
Hadits di atas menunjukkan bahwa akhlaq merupakan tolok ukur kadar keimanan seseorang. Apabila seseorang biasa berhias diri dengan akhlaq-akhlaq terpuji ini merupakan tanda yang zhohir atas kekuatan kadar keimanannya. Sebaliknya apabila seseorang terbiasa dengan akhlaq-akhlaq tercela ini merupakan tanda yang zhohir pula atas kelemahan atau bahkan tidak adanya iman pada dirinya.
Kita semua tidak memungkiri betapa sering kita menyaksikan kenyataan di sekitar kita perilaku-perilaku amoral. Sebagai contohnya adalah perilaku sebagian anak dalam kehidupan rumah tangga; kalau dahulu jarang dijumpai anak yang durhaka terhadap orang tuanya, namun sekarang kedurhakaan kepada orang tua telah dianggap biasa. Kalau dahulu usai sholat Maghrib di langgar (surau) atau masjid, anak-anak kembali ke rumahnya untuk ngaji al-Qur’an atau ke rumah guru ngajinya. Namun sekarang realitanya beda, usai sholat Maghrib anak duduk di depan layar TV untuk ‘ngaji’ akhlaq darinya, bahkan pada hampir seluruh waktunya mereka habiskan untuk menyerap “materi akhlaq” darinya.
Dahulu, jika terdengar ucapan kotor yang terucap dari lisan sang anak, dengan serta-merta orang tua menegur bahkan memarahinya, namun sekarang tidaklah demikian, kecuali sebagian orang tua yang dirohmati oleh Alloh. Walhasil, masih ada setumpuk contoh perilaku amoral lainnya yang disaksikan di zaman ini, dan hanya kepada Alloh kita mengadukan musibah yang menimpa umat ini.
Diakui atau tidak semua yang anak-anak lakukan sangat terkait dengan ada dan tiadanya didikan dan arahan orang tuanya. Sebab peran orang tua sangat dominan dalam menjadikan akhlaq anak-anak menjadi terpuji maupun tercela. Ambil contohnya tatkala rasa tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan akhlaq anak mengalami erosi atau bahkan tidak dipedulikan, juga tatkala pendidikan anak lebih dipercayakan kepada orang lain; baik guru di sekolah, atau guru ngaji atau yang lainnya. Atau tatkala pengetahuan agama orang tua sangat minim, sebagai akibatnya mereka kurang perhatian terhadap pendidikan agama anak-anaknya. Atau tatkala orientasi pendidikan orang tua terhadap anak yang cenderung kepada pendidikan dan pelajaran ilmu-ilmu umum saja. Semua ini ternyata berakibat kemerosotan moral dan akhlaq anak-anak baik di desa-desa terlebih lagi di perkotaan.
Bila kita telusuri sebab dan faktor utama adanya dekadensi moral ini maka akan didapati sebuah konsep bahwa antara akhlaq dan keimanan memiliki korelasi yang kuat lagi erat. Tidaklah muncul perkataan maupun perbuatan amoral yang sangat memprihatinkan melainkan sebab utamanya adalah makin sirnanya nilai-nilai dan prinsip-prinsip pokok keimanan pada hati seseorang. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan dalam sabda beliau di atas.
Akhlaq tercela baik pada anak-anak maupun orang tua termasuk pemicu utama timbulnya prahara rumah tangga. Kerap kali kita menjumpai broken home yang ternyata pemicu utamanya adalah akhlaq tercela dari anggota keluarga itu sendiri. Sehingga bisa dikatakan kebutuhan umat umumnya, dan sebuah keluarga khususnya terhadap perbaikan kualitas dan kuantitas iman saat sekarang adalah sangat mendesak. Yaitu harus ada usaha mengembalikan umat ini juga keluarga kaum muslimin kepada ajaran keimanan dan mendidik mereka di atasnya. Sebab dengan keimanan yang mengurat dan mengakar dalam dada akan lahirlah sosok-sosok umat yang jauh dari segala tindak tanduk amoral.
Wallohul-Muwaffiq.

Bagaimana Cara Mencintai Allah?

Ustadz, apa yang dimaksud dengan mencintai Allah?
Bagaimana cara agar kita bisa mencintai Allah?
Salam,
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mencintai Allah SWT adalah menjadikan Allah SWT dan segala perintahnya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah SWT adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada manusia, termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.
Jangankan menjadikan yang selain Allah SWT itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat saja, sudah dikatakan zalim oleh Allah.
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. QS. Al-Baqarah: 165)
Apalagi bila menjadikan semua itu lebih kita cintai dari Allah, tentu lebih parah lagi. Allah menyebut mereka yang mencintai selain dirinya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasiq.
Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 24)
Tata Cara Mencintai Allah
Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT.
Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Ali Imran: 31)
Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.
Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”

TAUHID RUBUBIYAH - ULUHIYAH -ASHMA WA SHIFAT



Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu!”
(QS. An Nahl: 36)
          Tauhid secara bahasa, adalah kata benda (nomina) yang berasal dari perubahan kata kerja wahhada–yuwahhidu, yang bermakna ‘menunggalkan sesuatu’. Sedangkan berdasarkan pengertian syariat, “tauhid” bermakna mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan diriNya. Lebih lanjut lagi tauhid berarti meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya nama-nama dan sifatNya. Adapun kekhususan itu meliputi rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat.
          Tauhid Rububiyah
          
Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Dalam definisi lain dijelaskan lebih lanjut bahwa Tauhidu rububiyah adalah penetapan bahwa Allah ta'ala adalah Rabb, Penguasa, Pencipta serta Pemberi Rezeki dari segala sesuatu. Dan juga menetapkan bahwa Allah adalah Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Kemanfaatan dan Kemudharatan, yang Maha Esa dalam mengabulkan doa bagi orang yang membutuhkan. BagiNya-lah segala urusan, dan di tanganNya-lah segala kebaikan. Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada bagi-Nya sekutu dalam hal tersebut. Dan ke-imanan kepada takdir termasuk dalam tauhid ini

          Adapun dalil-dalilnya adalah
          “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah: 1)
          
Pengertian Rabb adalah yang menciptakan, menguasai, dan yang mengatur alam sebagaimana yang Allah kehendaki.
          “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raf: 54)
 “...Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain dia; Maka Mengapakah kamu berpaling?” 
(QS. Fathir: 3)
          “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)
          “Maha suci Allah yang di tanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Mulk: 1)
Namun, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang muslim bila hanya mengakui tauhid rububiyah ini saja. Karena kaum musyrikin pun mengakui tauhid rububiyah ini. mereka pun mengakui bahwa Allah-lah Rabb alam ini, pemelihara semesta ini.
          “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka Katakanlah ‘Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?’” (QS. Yunus: 31)
Abdullah bin Abbas berkata, “Termasuk keimanan mereka yaitu apabila ditanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit, bumi dan gunung-gunung? Mereka menjawab: 'Allah'. Dan mereka adalah orang-orang yang musyrik”
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Tidak ada seorang-pun yang menyembah Allah dan juga menyembah yang selainNya, melainkan dia meyakini Allah dan mengetahui bahwa Allah adalah sebagai Rabb,dan Penciptanya, yang memberikan rizqi kepadanya, tetapi keadaannya adalah sebagai orang yang mempersekutukanNya. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana ucapan Ibrahim,
Maka apakah kalian tidak memperhatikan apa yang kalian sembah.,kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam (QS. Asy Syu’ara: 75-77)’”
Tauhid ini merupakan fitrah segenap manusia. Dalam nurani setiap orang, ia akan mengakui bahwa alam ini ada yang menciptakan, ada yang memelihara, dan ada yang menguasainya. Namun, banyak diantara manusia yang ditutupi keragu-raguannya sendiri.
...Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?...” (QS. Ibrahim: 10) 
Begitu pun orang-orang yang mengingkari Rabb alam semesta karena kesombongan mereka. Dalam hati mereka tahu bahwa alam ini pasti ada yang mengaturnya sedemikian rupa sehingga alam ini berjalan sebagaimana mestinya.
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS. Ath Thur: 35-35)
Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang atheis adalah karena kesombongan dan karena lemahnya akal mereka. Mereka menolak hasil renungan dari pikiran yang sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.
Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah adalah tauhid ibadah. Karena ilah maknanya adalah ma’bud bi haqqin (yang diibadahi dengan benar). Maka tauhid uluhiyah ini dibangun di atas keikhlasan dalam beribadah kepada Allah ta'ala. Dalam kecintaan, khauf (takut), raja' (harapan), tawakkal, raghbah (permohonan dengan sungguh-sungguh), rahbah (perasaan cemas), dan doa hanya bagi Allah satu-satunya. Serta memurnikan ibadah-ibadah seluruhnya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin hanya bagi Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Serta tidak menjadikan hal tersebut untuk selainNya. Tidak untuk malaikat yang dekat dengan Allah ta'ala, tidak pula bagi para nabi yang diutus. Terlebih lagi bagi selain keduanya.
Tauhid inilah tujuan dakwah para Nabi, karena dengan tauhid uluhiyah ini manusia akan mengesakan Allah dengan ibadah, dengan kata lain agar manusia tidak menyekutukan Allah dengan seorang pun, baik dengan menyembah atau mendekatkan diri kepadanya, sebagaimana ia menyembah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada ilah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." (QS. Al-Anbiya' : 25)
Adapun dalil-dalil untuk menetapkan tauhid uluhiyah ini adalah,
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 4)
Hai manusia, sembahlah Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 21)
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"”. (QS. Az Zumar: 2-3)
Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kalian kehendaki selain Dia.” (QS. Az Zumar: 14-15)
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
Tauhid ini merupakan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikan tauhid ini, maka semua amal ibadah tidak akan diterima. Kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah kesyirikan.
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Az Zumar: 65)
Tauhid ini juga kewajiban pertama segenap hamba. Sebagaimana firman Allah,
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak...” (QS. An Nisa’: 36)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” 
(QS. Al Israa’: 23)

Dengan kata lain, tauhid uluhiyah inilah yang membedakan antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin. kaum musyrikin hanya mengakui bahwa Allah Rabb mereka tetapi mereka tidak beribadah kepadaNya. Ada pun kaum muslimin adalah yang mengaku bahwa Rabb alam semesta adalah Allah dan yang berhak diibadahi dengan benar dan sempurna dengan segala macam bentuk ibadah hanyalah Allah semata.
Tauhid Asma’ wa Shifat
Tauhid asma’ wa shifat adalah mengesakan Allah sesuai dengan Nama dan Sifat yang Dia sandangkan sendiri kepada diriNya dalam kitabNya atau melalui lisan RasulNya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yaitu dengan menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan menafikan apa yang dinafi’-kanNya. Tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.
Tahrif maknanya ialah mengubah lafazh/makna dari Nama dan Sifat Allah. Seperti perkataan sebagian orang yang mengatakan bahwa sifat istiwa’ (bersemayamnya) Allah menjadi istawla (menguasai), sifat marahnya Allah diganti dengan keinginan untuk menghukum atau membalas dendam, tangan Allah disimpangkan menjadi keadilan, kekuasaan, dan nikmat Allah.
Ta’thil adalah menghilangkan atau menolak sebagian atau seluruh sifat-sifat Allah. Misalnya orang-orang Jahmiyah meniadakan seluruh sifat Allah. Atau misal ketika ada yang berpikir bahwa sifat tangan bagi Allah adalah mustahil karena itu berarti menyamakan Allah dengan makhluk. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan kebenaran karena sifat-sifat Allah ini telah disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi yang shahih sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah.
Takyif adalah menetapkan bentuk atau keadaan sifat itu. Maka sebagai seorang yang beriman kita tidak boleh mengatakan, “Bagaimana cara Allah beristiwa’? bagaimana wajah Allah?”. Kita juga dilarang menggambarkan Tangan Allah yang misalnya digambarkan bentuknya bulat, panjangnya sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib mengimani, namun dilarang untuk menggambarkannya.
Tamtsil atau sering juga disebut Tasybih adalah menyamakan nama dan sifat Allah dengan makhlukNya. Misal kita menyamakan cara beristiwa’nya Allah seperti joki naik kuda, atau sifat turunnya Allah ke langit dunia di sepertiga malam terakhir seperti turunnya khatib dari mimbar.
Cukuplah kita menetapkan dan mengimani nama-nama dan sifat Allah dengan dalil-dalil yang datang dari Qur’an dan Hadits.
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan” (QS. Al Fatihah: 2-3)
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)” (QS. Al Israa’:110)
Apakah kalian mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia” (QS. Maryam: 65)
Dialah Allah, tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha: 8)
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
Sesungguhnya Allah akan menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit-langit berada di tangan kanan-Nya, lalu berfirman : ‘Aku adalah Raja’
Kemudian, simaklah perkataan para ulama tentang menetapkan nama dan sifat Allah tanpa harus mempertanyakannya kembali.
Abul Hasan Al Asy’ari berkata, “Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”
Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh untuk dikatakan : Sesungguhnya (makna) tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena di dalamnya mengandung pengingkaran terhadap sifat (Allah). Ia adalah perkataan orang-orang Qadariyyah dan Mu’tazillah. Akan tetapi tangan-Nya adalah sifat yang tidak boleh ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya)”
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga dan para shahabatnya.
Wallahu a’lam.